Seks BDSM, Apakah Ini Normal atau Termasuk Kelainan?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sudahkah Anda menyaksikan sekual film dari novel Fifty Shade of Darker yang tayang di layar lebar? Satu hal yang mungkin Anda ingat dengan jelas jika mendengar judul film tersebut, yaitu seks BDSM, bondage, dicipline dan sadomasochism. Banyak yang salah mengartikan bahwa seks aliran ini tidak sehat, dan jatuhnya perilaku abusive dalam konteks seksual. Penasaran BDSM itu apa dan normal tidak, sih? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Apa itu seks BDSM?

Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan seks BDSM? Secara gamblang, BDSM adalah aktivitas hubungan seksual dengan memainkan peran, ada yang mengambil peran dominan (yang memegang kendali) dan ada yang mengambil peran submisif (penurut). Aktivitas ini sering kali juga melibatkan bondage (pengikatan, misalnya dengan borgol) dan discipline (dalam hal ini artinya hukuman/pendisiplinan) dalam bentuk kekerasan bahkan sadis, guna mendapatkan kesenangan tersendiri atas kesakitan saat berhubungan seksual (sadomasochism).

Seks BDSM pada dasarnya adalah sebuah taktik foreplay yang banyak dilakukan pasangan di luar sana untuk menambah kenikmatan dalam berhubungan seksual.

Banyak orang menganggap BDSM sesat, tidak manusiawi, atau lebih buruknya lagi kekerasan seksual. Namun bagi sebagian orang yang melakukannya, seks BDSM ini dirasakan dengan penuh kasih, saling melindungi, dan merupakan suatu bentuk “permainan” saat berhubungan intim. Manusia pada dasarnya bisa berhubungan seks tanpa percakapan, negosiasi, atau tanpa hubungan emosional apapun. Tapi pada seks BDSM, Anda mungkin akan membutuhkan cambukan, bulu, ataupun batu es untuk menciptakan permainan yang memang membutuhkan komunikasi yang intim dan jelas aturan seksnya.

Pada dasarnya, ketika “main” seks BDSM, keduanya harus sama-sama senang atau menikmati setidaknya. Maka sebelum melakukan seks genre ini, harus ada kesepakatan antara pemeran dominan dan submisif untuk setuju satu sama lain terkait adegan, gaya, atau alat apa yang akan digunakan saat berhubungan intim. Memang, dari penggambaran publik pada film buku atau media yang menampilkan bayangan BDSM terkesan sadis dan ngeri.

Apa seks BDSM normal dilakukan?

Banyak orang ketika mendengar kata BDSM menganggap hal tersebut tidak normal, sakit jiwa, sampai ke penyimpangan seksual. Tapi tidak semua hal tentang BDSM selalu terkait dengan ketidaknormalan. Mungkin hal tersebut disebabkan oleh konsumsi berita, film dan laporan dari media yang tidak terlalu akurat.

Penelitian ini dilakukan di Belanda oleh psikolog Dr.Andreas Wismeijer dan Dr.Marcel van Assen dari The Journal of Sexual Medicine pada 2013 menyatakan bahwa melakukan seks BDSM bisa dibilang normal, asal kedua pihak saling sepakat dan setuju melakukan hal tersebut.

Nah, yang lebih “serunya” lagi, Anda harus paham tata cara melakukan seks BDSM ini. Bagi penyuka seks genre ini, penting untuk memahami konsep “Safe, Sane, and Consensual”. Safe artinya aman, dan semua aktivitas yang dilakukan tidak boleh sampai membahayakan nyawan. Sane alias “waras”, di mana semuanya dilakukan dalam batas kewajaran. Dan consensual yang berarti kedua belah pihak harus sama-sama setuju dan tidak dipaksa untuk melakukan seks BDSM.

Artinya, selama melakukan BDSM, Anda dan pasangan harus punya kesadaran dan tanggung jawab atas tindakan serta peran masing-masing. Pada level yang berbahaya, tak jarang banyak orang yang hilang kendali demi terpuaskannya hasrat seks garis kerasnya.

Satu lagi, saat berhubungan seks, jangan segan untuk berkata tidak, dan pada aturan main BDSM biasanya ada kata kunci tersendiri. Kata kunci ini berfungsi sebagai alat kendali saat permainan yang dilakukan kelewat batas. Berjaga-jaga, siapa tahu posisi atau gaya seks yang sedang dimainkan berubah menjadi siksaan, bukan kenikmatan lagi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Seks BDSM Tidak Sama dengan Kekerasan Seksual

Meski identik dengan perilaku sadis dan rasa sakit, BDSM dan kekerasan seksual sebenarnya adalah dua hal yang sangat berbeda. Apa saja perbedaannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 19/02/2020 . Waktu baca 6 menit

Setelah Bertengkar Hebat, Dapatkah Seks Menyelesaikan Masalah?

Benarkah melakukan hubungan suami-istri setelah bertengkar itu termasuk seks terbaik? Lalu apakah masalahnya terselesaikan? Temukan jawabannya di sini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Seks & Asmara 29/12/2019 . Waktu baca 4 menit

Alami 3 Tanda Ini, Itu Artinya Anda Terlalu Sering Masturbasi

Masturbasi membantu memuaskan keinginan seksual. Namun, bila terlalu sering dilakukan, masturbasi bisa menimbulkan tanda-tanda seperti berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Seks & Asmara 29/10/2019 . Waktu baca 4 menit

Bolehkah Melakukan Oral Seks Setelah Cabut Gigi?

Setelah cabut gigi, gusi Anda akan terasa nyeri. Bila dilihat dari sisi medis, bolehkah melakukan seks oral setelah cabut gigi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Seks & Asmara 13/10/2019 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara membersihkan vibrato mainan seks sex toys

Begini Cara yang Benar Membersihkan Vibrator

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 05/05/2020 . Waktu baca 4 menit
efek samping pakai vibrator terlalu sering

Kalau Terlalu Sering Pakai Vibrator, Apa Efek Samping yang Ditimbulkan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020 . Waktu baca 4 menit
seks memperlambat menopause

Rutin Berhubungan Seks Bisa Memperlambat Datangnya Menopause

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 03/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020 . Waktu baca 6 menit