Penis Patah: Apa Penyebabnya dan Bagaimana Mencegahnya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Penis patah adalah kondisi umum yang dihasilkan dari bengkoknya penis saat ereksi secara tiba-tiba. Paksaan tersebut mengakibatkan robekan pada tunika albuginea (lapisan pada tubuh penis yang ereksi). Hal ini menyebabkan hilangnya ereksi seketika. Dalam kasus yang ekstrem, robeknya uretra bahkan bisa terjadi. Fraktur penis ini dianggap sebagai kedaruratan urologi, sehingga jika gejalanya ditemukan maka Anda memerlukan konsultasi sesegera mungkin. Kegagalan untuk memperbaiki cedera tunika albuginea dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Untuk informasi selengkapnya, mari kita lihat penjelasan berikut.

Apa gejala dan tanda-tanda penis patah?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, fraktur penis terjadi akibat robeknya tunika albuginea. Tunika tersebut mengelilingi corpora cavernosa, jaringan spons khusus dalam inti penis yang diisi dengan darah selama ereksi. Ketika ia terobek, darah yang biasanya berada pada ruang ini bocor keluar ke jaringan lain. Oleh karena itu, Anda akan mengalami memar dan bengkak. Biasanya akan ada suara yang muncul. Jika hal itu disertai dengan sakit parah pada penis, terutama berkaitan dengan memar, bengkak, dan hilangnya ereksi, maka Anda harus segera mencari perawatan darurat.

Bagaimana penis bisa patah?

Hal ini dapat terjadi di setiap situasi selama berhubungan seksual ketika penis mendorong tidak pada tempat yang seharusnya, sehingga ia menabrak sesuatu yang solid (seperti perineum). Biasanya ini terjadi saat berhubungan seks vaginal dengan posisi wanita di atas. Dalam skenario ini, penis tidak sengaja keluar dari vagina dan wanita menumpukan seluruh berat badannya ke bawah pada penis. Tapi, hal ini bisa juga terjadi pada posisi misionaris atau akrobat seksual.

Dalam mekanisme lain yang telah dijelaskan, hal ini mencakup hubungan penetratif anal, mastrubasi agresif, dan secara tidak sengaja berguling ke penis yang sedang ereksi saat tidur. Dalam etnis tertentu, praktik “Taqaandan” (dengan sengaja memaksakan penis ereksi membengkok selama masturbasi) juga dapat menjadi penyebabnya.

Apa yang dapat dokter lakukan untuk memperbaiki penis patah?

Dokter akan memberi bius lokal pada pasien, lalu membuka kulit melalui satu atau lebih sayatan di penis. Kemudian dokter menemukan tepi robekan dan menutupnya dengan jahitan. Kadang-kadang robekan ini sangat luas, sekitar setengah lingkar penis, sehingga membutuhkan sekitar 10 jahitan. Kemudian dokter menutup semuanya. Operasi ini memakan waktu sekitar 1 jam, dan kebanyakan orang langsung bisa pulang setelahnya. Sebagian besar pria dapat kembali melakukan hubungan seksual dalam waktu kurang lebih satu bulan (setelah luka sembuh).

Apa yang akan terjadi jika tidak melakukan operasi?

Pada beberapa kasus, Anda mungkin dapat menghindari operasi, namun secara umum Anda akan memiliki komplikasi di masa depan. Robek parsial atau menyeluruh dari tunika albuginea dapat menyebabkan jaringan parut jangka panjang, dan penumpukan jaringan parut dapat menyebabkan disfungsi ereksi atau penyimpangan penis, seperti lengkungan kronis pada penis (menyebabkan ereksi yang membengkok ke samping dan terkadang pada sudut 45 derajat).

Seberapa umum penis patah dan siapa yang paling mungkin untuk menderita hal ini?

Kasus ini jarang terjadi dan belum ada data mengenai kondisi ini. Namun, di University of Washington’s Harborview Medical Center di Seattle, ada sekitar satu atau dua kasus per bulan. Orang yang cenderung terkena kondisi ini adalah pemuda berusia 20-an dan 30-an, yang cenderung lebih sering terlibat dalam aktivitas seksual. Usia 40-an dan 50-an juga dapat terlibat, namun risikonya lebih rendah karena pria yang lebih tua memiliki penurunan frekuensi dan kekuatan dari aktivitas seksual, sehingga jaringan di penis mereka cenderung tidak cukup kaku.

Jika penis bengkok tapi tidak ada robekan di tunika albuginea, apakah ia dapat menyebabkan cedera juga?

Mungkin ada banyak orang yang telah memiliki pengalaman seperti salah menemukan tempat penetrasi dan membengkoknya penis secara paksa, tetapi jika tidak ada robekan, maka Anda tidak perlu terlalu khawatir. Meskipun hal ini dapat memicu penyakit Pyronie (kondisi di mana penis bengkok karena penumpukan jaringan parut), namun belum jelas apakah hal itu dapat jadi penyebabnya.

BACA JUGA:

Sumber