4 Cara Mengatasi Kelainan Hiperseksual

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24/10/2019
Bagikan sekarang

Hiperseksualitas adalah kondisi di mana seseorang yang memiliki obsesi pada seks dan memiliki dorongan seksual yang sangat kuat. Tanda-tanda lainnya adalah tidak dapat mencapai kepuasan seksual meskipun melakukan banyak aktivitas seksual, tidak dapat mengontrol gairah seks (termasuk masturbasi berlebihan), sering berganti pasangan, memiliki perilaku seksual yang tidak pantas dan berisiko, menganggap seks sebagai “pain killer”, dan meningkatnya penggunaan pornografi.

Siapa yang berisiko menderita kondisi hiperseksual?

Hiperseksualitas dapat terjadi baik pada pria maupun wanita, meskipun hal ini lebih sering terjadi pada pria. Gangguan hiperseksual ini juga dapat menyerang siapa saja tanpa memandang orientasi seksual (apakah heteroseksual, homoseksual, atau biseksual). Hiperseksualitas dapat terjadi pada orang yang memiliki:

  • Masalah alkohol atau penyalahgunaan obat
  • Kondisi kesehatan mental lain seperti gangguan mood (depresi atau gangguan bipolar), atau kecanduan judi
  • Riwayat kekerasan fisik atau seksual

Apa akibatnya jika hiperseksualitas tidak ditangani?

Perlu Anda ketahui bahwa hiperseksualitas dapat memiliki banyak konsekuensi negatif yang mempengaruhi Anda dan orang lain, seperti:

  • Berjuang dengan perasaan bersalah, malu, dan rendah diri
  • Depresi, stres, dan kecemasan yang ekstrem
  • Merusak hubungan
  • Memiliki banyak utang akibat pembelian pornografi dan layanan seksual
  • Memiliki koneksi dengan HIV, hepatitis, atau infeksi menular seksual lainnya

Oleh karena itu, jika Anda merasa bahwa Anda memiliki hiperseksualitas, lakukanlah beberapa cara di bawah ini untuk membebaskan diri Anda dari berbagai konsekuensi negatif yang dapat menerpa.

Cara mengatasi kondisi hiperseksual

1. Psikoterapi

Ini adalah bagian yang sangat penting dari setiap jenis pengobatan terhadap kecanduan. Isu yang akan dibahas dalam sesi terapi ini termasuk mengidentifikasi, mengubah pola pikir negatif dan membatasi keyakinan, berurusan dengan konflik internal, meningkatkan wawasan dan kesadaran diri, dan melihat hubungan antara masalah interpersonal dan kecanduan Anda.

2. Terapi kelompok

Terapi kelompok melibatkan sesi reguler dengan sejumlah kecil pecandu seks lainnya. Sesi ini dipimpin oleh seorang terapis. Jenis terapi ini sangat bermanfaat, karena masing-masing anggota kelompok dapat saling mendukung dan belajar dari pengalaman masing-masing. Terapi ini juga ideal untuk menghadapi alasan, pembenaran, dan penolakan yang berjalan seiring dengan perilaku kecanduan.

3. Terapi keluarga dan pasangan

Perilaku adiktif selalu berdampak pada keluarga dan kerabat. Sesi terapi ini memberikan kesempatan Anda untuk mengatasi emosi, konflik yang belum terselesaikan, dan perilaku problematik. Sesi ini dapat memperkuat sistem pendukung utama Anda dengan membantu orang-orang terdekat Anda mendapatkan pemahaman yang lebih baik akan kecanduan yang Anda miliki.

4. Obat-obatan

Obat-obatan sering memainkan peran utama dalam pengobatan gangguan hiperseksual. Beberapa obat dapat membantu mengurangi perilaku kompulsif dan pikiran obsesif, sementara yang lainnya dapat menargetkan hormon tertentu yang terkait dengan kecanduan seks atau dapat mengurangi gejala yang menyertai seperti depresi atau kecemasan.

  • Antidepresan: Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah jenis yang paling umum dari antidepresan yang digunakan untuk mengobati hiperseksualitas. SSRI termasuk obat-obatan seperti Paxil, Prozac, dan Zoloft. Obat tersebut dapat membantu mengurangi pikiran obsesif dan perilaku kompulsif. Mereka juga membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan.
  • Antiandrogen: Obat ini dapat menargetkan efek androgen (hormon seks) pada laki-laki dan mengurangi dorongan seksual. Antiandrogen biasanya digunakan untuk mengobati pria pedofil.
  • LHRH (Luteinizing Hormone-Releasing Hormone): Obat ini menurunkan produksi testosteron dan membantu mengontrol pikiran obsesif yang berkaitan dengan kecanduan seksual.
  • Penstabil mood: Obat dalam kategori ini termasuk Lithium dan Depakote. Umumnya obat ini digunakan untuk mencegah episode manik pada individu dengan gangguan bipolar, obat ini efektif dalam membantu mengurangi dorongan seksual yang intens.
  • Naltrexone: Obat ini sering digunakan untuk mengobati kecanduan alkohol dan ketergantungan opioid. Sebagai agonis opioid, ia bekerja dengan menargetkan pusat kesenangan di otak yang berhubungan dengan beberapa jenis perilaku adiktif.

Akan sulit untuk menemukan keberanian dalam mencari bantuan, terutama karena hal ini terasa cukup memalukan. Sayangnya, beberapa pecandu seks tidak mencari pengobatan hingga mereka mencapai titik ketika mereka dihukum akibat pelanggaran seks atau ketika anggota keluarga dan pasangan memberikan ultimatum. Jika Anda curiga bahwa Anda memiliki hiperseksualitas, jangan menunda untuk melakukan pengobatan. Anda pantas untuk bahagia dan menjalani kehidupan yang tidak lagi dikendalikan oleh kecanduan Anda.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Setelah Bertengkar Hebat, Dapatkah Seks Menyelesaikan Masalah?

    Benarkah melakukan hubungan suami-istri setelah bertengkar itu termasuk seks terbaik? Lalu apakah masalahnya terselesaikan? Temukan jawabannya di sini!

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki

    Alami 3 Tanda Ini, Itu Artinya Anda Terlalu Sering Masturbasi

    Masturbasi membantu memuaskan keinginan seksual. Namun, bila terlalu sering dilakukan, masturbasi bisa menimbulkan tanda-tanda seperti berikut ini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji

    Apa Anda Tipe Orang yang Tidak Bisa Hidup Tanpa Pasangan? Cek di Sini Ciri-cirinya

    Kesetiaan kadang sulit dibedakan dengan ketergantungan. Akibatnya, banyak orang yang justru merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan mereka sendiri.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph

    Bolehkah Melakukan Oral Seks Setelah Cabut Gigi?

    Setelah cabut gigi, gusi Anda akan terasa nyeri. Bila dilihat dari sisi medis, bolehkah melakukan seks oral setelah cabut gigi?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara membersihkan vibrato mainan seks sex toys

    Begini Cara yang Benar Membersihkan Vibrator

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 05/05/2020
    efek samping pakai vibrator terlalu sering

    Kalau Terlalu Sering Pakai Vibrator, Apa Efek Samping yang Ditimbulkan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020
    seks memperlambat menopause

    Rutin Berhubungan Seks Bisa Memperlambat Datangnya Menopause

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Dipublikasikan tanggal: 03/04/2020

    Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020