Seks BDSM Tidak Sama dengan Kekerasan Seksual

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 19/02/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Pemerintah mengeluarkan wacana pelarangan praktik BDSM dalam kegiatan seksual melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga yang diusulkan tahun 2020. Kendati bentuk kegiatannya identik dengan aksi sadistik dan tidak lazim, BDSM sebenarnya sama sekali berbeda dengan tindak kekerasan seksual.

BDSM adalah kegiatan seksual yang dilakukan dengan consent atau persetujuan, serta dilakukan untuk menyenangkan setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Tidak seperti kekerasan seksual yang merampas hak salah satu pihak, BDSM justru dapat menambah kenikmatan seksual dan memperkuat ikatan emosional dengan pasangan.

Perbedaan BDSM dan kekerasan seksual

seks BDSM

BDSM merupakan beragam kegiatan seksual yang melibatkan praktik bondage and discipline (perbudakan dan disiplin), dominance and submission (dominansi dan penyerahan diri), atau sadism and masochism (sadisme dan masokisme). Seluruh kegiatan tersebut bertujuan untuk memperoleh kepuasan berhubungan intim.

Pada hubungan BDSM, ada seorang dominan sebagai pemegang kendali dan ada yang mengambil peran sebagai submisif yang menurut. Meskipun submisif tunduk pada dominan, BDSM dilakukan dengan prinsip komunikasi dan kesepakatan yang setara.

Gambaran yang keliru pada film, media, dan sebagainya kerap membuat BDSM salah diartikan sebagai penyimpangan seksual, bahkan tindak kekerasan. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.

Melansir laman National Domestic Violence Hotline, berikut beberapa perbedaannya:

1. Persetujuan kedua pihak

Persetujuan adalah kunci penting dalam hubungan seksual, dan aspek ini menjadi lebih penting lagi dalam praktik BDSM. Baik bagi sang dominan maupun submisif, keduanya perlu memberikan persetujuan jelas dalam keadaan sadar sebelum melakukan kegiatan seksual apa pun.

Seperti jenis hubungan lainnya, BDSM juga tidak luput dari risiko. Kegiatan ini bisa saja menyebabkan kecelakaan, cedera, serta dampak psikologis seperti sakit hati dan stres setelah berhubungan intim. Persetujuan adalah unsur yang penting untuk mencegah berbagai efek tersebut.

Kekerasan seksual berbeda dengan BDSM karena tidak dilakukan dengan persetujuan dan hanya bertujuan untuk keuntungan pelaku. Tidak ada peran dominan ataupun submisif, justru yang ada hanyalah pihak pelaku dan korban.

2. Komunikasi dan aturan yang jelas

Hubungan BDSM melibatkan komunikasi dan aturan yang jelas. Tak jarang, pasangan yang menjalani BDSM bahkan memiliki aturan hitam di atas putih yang ditandatangani. Aturan inilah yang membuat praktik BDSM menjadi aman, sekalipun melibatkan aksi yang terkesan sadis.

BDSM dan kekerasan seksual amat berbeda karena pihak dominan maupun submisif sama-sama berhak mengutarakan keinginannya. Si submisif berhak ikut bernegosiasi saat menyusun aturan. Ia berhak menolak kegiatan seksual apa pun yang tidak disukainya atau membuatnya tidak nyaman.

Sementara itu, kekerasan seksual adalah tindakan tanpa aturan, negosiasi, ataupun komunikasi. Korban tidak berada dalam situasi yang aman dan nyaman, sebab tidak ada batasan maupun negosiasi sejak awal selayaknya hubungan BDSM.

3. Tujuan dari setiap tindakan

BDSM bertujuan untuk menyenangkan kedua pihak. Sang submisif memang menerima perilaku sadis, rasa sakit, dan direndahkan oleh sang dominan. Akan tetapi, semua itu dilakukan dalam situasi yang terkendali dengan memerhatikan kenyamanan si submisif.

Melalui perlakuan tersebut, pihak dominan dan submisif sama-sama membangun ikatan batin dan kepercayaan antara satu sama lain. Mereka juga saling menunjukkan rasa menghargai dengan caranya tersendiri.

Berbeda dengan BDSM, kekerasan seksual tidak melibatkan keamanan, rasa percaya, dan rasa menghargai pasangan. Pelaku melakukan tindakannya untuk menakut-nakuti, meneror, dan menunjukkan kepada korban bahwa ia memiliki kekuasaan.

4. Ada-tidaknya kendali pada kedua pihak

Selain aturan yang jelas, satu lagi faktor yang membuat BDSM menjadi aman adalah kendali pada kedua pihak. Kendali ini berasal dari safe word atau ‘kata aman’. Safe word digunakan oleh submisif untuk mengendalikan situasi bila sewaktu-waktu kegiatan seksual sudah melebihi batas yang ditetapkan.

Begitu si submisif mengatakan safe word-nya, si dominan harus menghentikan kegiatan seksual yang ia lakukan, apa pun bentuknya. Hal ini tidak membuat si dominan menjadi pihak yang lemah, tapi justru menunjukkan bahwa ia peduli terhadap keselamatan pasangannya.

Ini pula yang membedakan BDSM dan kekerasan seksual. Kekerasan seksual tidak mengenal batasan ataupun safe word. Saat terjadi kekerasan, pihak korban tidak bisa menghentikan perbuatan si pelaku sehingga membahayakan dirinya.

Batas antara BDSM dan kekerasan seksual

BDSM sering kali dianggap sebagai penyimpangan seksual atau gangguan kejiwaan. Padahal, BDSM yang dilakukan dengan aman dapat menjadi salah satu cara mewujudkan fantasi seksual yang membuat hubungan semakin membara.

Walau cukup lekat dengan stigma negatif, ternyata praktik BDSM lebih umum daripada yang dikira. Sebuah survei global tahun 2005 menemukan bahwa sebanyak 36% orang dewasa mengaku pernah mencoba praktik BDSM saat berhubungan seksual.

Tidak hanya itu, beberapa penelitian pun turut menemukan dampak positif dari praktik BDSM. Menurut studi dalam The Journal of Sexual Medicine, praktisi BDSM cenderung tidak mudah marah, lebih antusias terhadap pengalaman baru, dan berkeinginan besar melakukan sesuatu dengan benar.

Mereka juga lebih terbuka, lebih tahan terhadap penolakan, dan secara umum memiliki kondisi kejiwaan yang lebih sejahtera. Inilah yang kemudian menjadi perbedaan besar antara BDSM dan kekerasan seksual.

Kendati demikian, perlu diingat bahwa BDSM hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang terlatih. Praktik ini tetap memiliki risiko yang besar sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa pengetahuan terkait.

BDSM ataupun hubungan seks biasa, semuanya mempunyai keunikan masing-masing. Beberapa orang mungkin lebih menikmati hubungan intim dengan sedikit bumbu sadis, tapi seks penuh kasih sayang pun tidak ada salahnya. Apa pun selera Anda, yang terpenting lakukan dengan aman berdasarkan persetujuan kedua pihak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Intip Cara Kerja Oksitosin, Hormon Cinta yang Bikin Anda Lengket Dengan Pasangan

Seringkali disebut sebagai hormon cinta, oksitosin adalah senyawa kimia dengan sejumlah efek yang dapat membuat Anda semakin lengket dengan pasangan.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 11/04/2019 . Waktu baca 4 menit

Psst, Cowok Humoris Katanya Lebih Jago di Ranjang Lho!

Cowok humoris tidak hanya menjauhkan Anda dari kata bosan dalam hubungan, tapi juga dapat memberikan kepuasan seksual yang lebih besar. Bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28/03/2019 . Waktu baca 3 menit

Punya Fantasi Seks Sesama Jenis, Apa Artinya Saya Homoseksual?

Pernah berimajinasi bercinta dengan sahabat sendiri? Anda mungkin jadi bertanya-tanya punya fantasi berhubungan seks sesama jenis itu wajar tidak sih?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 08/01/2019 . Waktu baca 5 menit

Harus Berapa Kali Berhubungan Seks dalam Seminggu Agar Tetap Intim?

Seks adalah salah satu fondasi utama untuk menjaga rumah tangga tetap awet. Lantas harus berapa kali berhubungan seks dalam seminggu?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Seks & Asmara 23/12/2018 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Menolak fantasi seksual pasangan

Cara Halus Menolak Fantasi Seksual Pasangan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 02/02/2020 . Waktu baca 4 menit
seks setelah bertengkar

Setelah Bertengkar Hebat, Dapatkah Seks Menyelesaikan Masalah?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 29/12/2019 . Waktu baca 4 menit
cara agar pria tahan lama di ranjang

Khusus untuk Pria, Ini 5 Cara Agar Berhubungan Intim Tahan Lama

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 17/07/2019 . Waktu baca 4 menit
Perbedaan fetish dan fantasi seksual

Fetish vs. Fantasi Seks, Ternyata Berbeda, Lho!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 29/06/2019 . Waktu baca 5 menit