Perfeksionis dan Gila Kendali Belum Tentu OCD. Bagaimana Membedakannya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 28 November 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin pernah mendengar istilah obsessive compulsive disorder (OCD) yang merujuk pada suatu bentuk kelainan mental. Nah, bagaimana dengan gangguan kepribadian obsessive compulsive personality disorder (OCPD)? Meskipun nama OCD dan OCPD sangat mirip, kedua kondisi ini pada dasarnya berbeda. Perbedaannya cukup kentara dan tidak berkaitan satu sama lain. Cari tahu perbedaan keduanya di bawah ini, yuk.

Apa itu OCD?

Obsessive compulsive disorder atau OCD bisa diartikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan munculnya pikiran yang mengganggu secara terus-menerus. Munculnya pikiran ini adalah wujud obsesi terhadap suatu hal yang tidak atau kurang realistis.

Obsesi tersebut sering kali menimbulkan kecemasan dan memicu perilaku berulang-ulang sebagai cara untuk mengatasi rasa cemas akibat obsesi yang dialaminya. Akibatnya, perilaku berulang-ulang tersebut justru menghambat produktivitas dan kegiatan sehari-hari.

Apa itu OCPD?

Obsessive compulsive personality disorder (OCPD) adalah gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang memiliki pola pikir perfeksionisme berlebihan dan memiliki keinginan untuk mengendalikan semua aspek hidupnya. Orang dengan OCPD sangat fokus pada detail, keteraturan, keseragaman, atau daftar tertentu sehingga ia kadang jadi lupa akan tujuan utama melakukan sesuatu.

Meskipun sifat perfeksionisme akan keteraturan terkesan baik, efek samping dari perilaku tersebut justru dapat menghambat produktivitas. Saking perhatiannya, ketika orang dengan OCPD melewatkan detail tertentu, ia malah akan menghentikan kegiatannya sama sekali karena merasa gagal. Bisa juga orang dengan OCPD memilih untuk mengulang segala sesuatunya dari awal lagi ketika ada hal yang salah atau terlewatkan. Tentu hal ini akan menghabiskan banyak waktu.

Apa saja penyebab OCD dan OCPD?

Faktor genetik diduga berperan dalam terjadinya OCD dan OCPD. OCD lebih berkaitan erat dengan gangguan fungsi otak yang menyebabkan perilaku berulang. Sedangkan dalam kasus OCPD, faktor lingkungan seperti pola asuh orangtua overprotektif atau banyak menuntut anak bisa menjadi pemicunya.

Baik obsesi dan perfeksionisme yang disebabkan oleh kedua gangguan tersebut akan menimbulkan gangguan kecemasan yang berdampak pada bagaimana mereka beraktivitas. Keduanya dapat muncul secara bersamaan pada seseorang sehingga identifikasi dan penanganan yang diperlukan untuk kesembuhan pengidap kedua gangguan tersebut.

meringankan kecemasan

Apa bedanya OCD dan OCPD?

Secara sederhana, orang dengan OCD bertindak secara kompulsif (berulang-ulang tak terkendali) karena ada dorongan dari otak. Ini berbeda dengan OCPD di mana Anda mungkin tidak melakukan hal yang sama berulang-ulang kali, misalnya membereskan meja kerja.

Anda cukup sekali saja membereskan meja kerja di pagi hari, tapi Anda benar-benar memastikan mejanya bersih dan rapi. Hal ini mungkin bisa memakan waktu lama. Akan tetapi, kalau sudah rapi Anda akan berhenti membersihkan meja dan mulai bekerja. Anda baru akan membereskan meja lagi kalau sudah berantakan dan penuh barang.

Sedangkan orang dengan OCD mungkin akan mengatur mejanya berkali-kali dalam satu jam atau satu hari. Ini bukan karena ia ingin mejanya bersih dan rapi seperti orang dengan OCPD. Melainkan karena otaknya tidak bisa mengendalikan dorongan untuk menata kertas dan bolpoin (yang sebenarnya sudah tertata rapi). Kalau tidak melakukan hal tersebut, ia akan merasa sangat cemas dan gelisah.

Di samping perbedaan gejalanya, ada kriteria-kriteria lain yang membedakan OCD dan OCPD. Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Kesadaran

Orang dengan OCD sering kali menyadari obsesi atau tindakan berulang yang dilakukan karena hal tersebut sudah sangat mengganggu aktivitas hariannya. Sayangnya, orang dengan OCD cenderung malu untuk mengakuinya, apalagi untuk mencari pengobatan.

Sedangkan pengidap OCPD percaya akan perfeksionisme dan menurutnya, standar yang terlalu tinggi itu wajar saja. Akibatnya, mereka justru tidak menyadari kalau hal yang dilakukannya sudah berlebihan alias tidak wajar.

2. Tujuan melakukan suatu hal

Orang dengan OCD melakukan suatu hal berulang kali guna meringankan kecemasan dan obsesi yang sedang dirasakan. Beda dengan orang yang punya OCPD, mereka melakukan suatu hal secara fokus dan mendetail sebagai suatu cara untuk meningkatkan efisiensi.

3. Dampak terhadap produktivitas

Gangguan OCD menyebabkan dampak negatif yang lebih serius karena obsesinya akan menghambat aktivitasnya sehari-hari. Sedangkan pada kebanyakan kasus, orang dengan OCPD bisa-bisa saja tetap produktif dalam bekerja.

4. Tekanan emosi

Obsesi pada OCD dapat Anda rasakan sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan dan membuat Anda merasa tak berdaya atau cemas. Sebaliknya, OCPD menikmati saat-saat di mana mereka harus mengatur, mengerjakan, dan menyempurnakan segala sesuatu.

5. Waktu munculnya gejala

Gejala OCD muncul ketika ada pemicu tertentu sehingga muncul perilaku berulang untuk meringankannya. Misalnya Anda punya obsesi untuk mencuci tangan, padahal Anda sebenarnya bukan orang yang fobia kuman atau sangat higienis.

Sedangkan terjadinya OCPD cenderung menyatu dengan kepribadian seseorang dan tidak terikat pada jenis perilaku tertentu. Sehingga munculnya gejala OCPD dapat terjadi kapan saja dan tidak memiliki pemicu yang spesifik.

Akan tetapi, pada akhirnya yang bisa membantu Anda mendiagnosis OCD dan OCPD adalah dokter dan tenaga ahli seperti psikolog. Bila gejala-gejala yang Anda rasakan sudah mengganggu, segera temui dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikolog.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

Selain alergi susu dan kacang, ada juga alergi bawang putih. Apa penyebabnya dan adakah cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Alergi, Alergi Makanan 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
masalah seks pada pria

5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit