Meski Terlihat Harmonis, Nyatanya 4 Tanda Ini Tunjukkan Hubungan Ibu dan Anak Tak Lagi Sehat

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Anak-anak adalah masa saat Anda bisa bermanja-manja dengan sang ibu. Seiring waktu, Anda akan berubah jadi lebih mandiri dan dewasa. Tentunya, hubungan yang Anda jalin dengan sang ibu juga jadi lebih matang. Sayangnya, masih banyak orang dewasa yang terjebak dengan hubungan layaknya “si kecil dan sang bunda”. Hubungan yang seperti ini, ternyata tidak sehat dalam membangun keluarga yang harmonis.

Apakah hubungan Anda dengan ibu sudah memang benar-benar baik? Coba pastikan hubungan anak dan ibu yang baik seperti apa, dengan simak ulasan berikut.

Tanda hubungan anak dan ibu yang tidak sehat

Seperti apa hubungan ibu dan anak yang sehat itu? Hubungan yang sehat digambarkan dengan anak dan ibu yang saling memahami batasan masing-masing. Bila anak atau ibu masih terjebak dengan peran lama mereka, ini menandakan bahwa ikatan yang dibangun bukanlah hubungan yang sehat.

Dilansir dari Huff Post, Tina B. Tessina, seorang psikoterapis sekaligus penulis buku berjudul It Ends With You: Grow Up and Out of Dysfunction, menjelaskan pendapatnya mengenai hal ini.

“Kebanyakan anak-anak sangat bergantung dengan ibunya, jadi tidak mudah bagi sang ibu atau anak untuk melepaskan ikatan itu. Namun, seorang ibu perlu belajar bagaimana caranya mendukung anak menjadi orang dewasa yang mandiri, dan anak juga harus melepaskan perasaan bergantung dan belajar untuk lebih mandiri“, ujar Tessina.

Beberapa hal yang menandakan hubungan anak dan ibu yang tidak sehat, antara lain:

1. Perhatian yang ditunjukkan ibu Anda terlalu berlebihan

Komunikasi lewat ponsel bisa mendekatkan hubungan jadi lebih dekat. Namun, juga bisa jadi perusak hubungan ibu dengan anak. Kok bisa? Ibu yang menelepon anaknya untuk sekadar menanyakan “sudah makan, belum?” atau “sudah pulang, kerja?” terlalu sering, ternyata bisa mengganggu kehidupan anak. Hal ini rasanya kurang tepat jika dilakukan setiap saat, bukan?

Sebenarnya boleh-boleh saja ibu Anda menghubungi Anda lewat ponsel. Namun, pilih situasi dan waktu yang sesuai. Misalnya, saat Anda sedang sakit, istirahat kerja, atau saat ada berita yang sifatnya penting dan tidak bisa ditunda untuk diberitahukan.

Untuk mengatasinya, Anda perlu mengatur waktu kembali dan menyediakan waktu khusus bersama keluarga. Jadi, urusan Anda dengan teman dan pekerjaan tidak terganggu.

2. Lagi dan lagi bohong pada ibu

Anda yang merasa sudah dewasa, pasti ingin menghabiskan banyak waktu hangout bersama teman. Sayangnya, Anda masih saja takut untuk minta izin dan berpikir bahwa rencana liburan Anda bersama teman tidak disetujui. Jadilah, Anda mencari alasan lain yang masuk akal untuk menutupi kebohongan tersebut.

Meski ibu Anda saat itu tidak tahu apa yang Anda sembunyikan. Lambat laun, kebohongan tersebut bisa saja terbongkar. Hal ini tentunya akan membuat menyakiti hati ibu Anda, bukan? Ingat, menjalin hubungan yang baik dan sehat, harus mengutamakan kejujuran. Berterus terang akan memupuk kepercayaan satu sama lain dan membuat hubungan jadi lebih erat.

Solusinya, jadilah pribadi yang lebih berani. Apa pun permasalahannya jika Anda menyampaikan sesuatu dengan baik pada ibu Anda. Pasti ibu Anda akan mendengar dengan seksama dan memberi pertimbangan pada Anda.

3. Membiarkan ibu menangani hal yang seharusnya jadi kewajiban Anda

Menjadi orang dewasa harus mampu secara mental dan fisik untuk melakukan sesuatu. Misalnya, mencuci pakaian sendiri, merapikan kamar, atau membuat janji dengan dokter untuk cek kesehatan rutin.

Semua itu harusnya bisa Anda tangani sendiri. Anda boleh meminta bantuan ibu, namun saat benar-benar dalam keadaan mendesak. Jika hal ini terus dibiarkan, bagaimana bisa Anda jadi tumbuh mandiri dan pintar mengurus sendiri?

Untuk itu, Anda perlu mengevaluasi lagi apa saja kewajiban Anda di rumah yang sudah atau belum Anda laksanakan. Pintar mengatur waktu dan cukup istirahat, jadi solusi agar Anda bisa melakukan berbagai hal sendiri.

4. Ibu terlalu ikut campur ketika Anda ingin mengambil keputusan

Hidup penuh dengan pilihan. Ini menjadi tantangan bagi Anda yang beranjak dewasa. Langkah menjadi dewasa adalah mampu memilih mana yang terbaik dan berani menghadapi konsekuensinya.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang sering kali ikut campur dengan keputusan anak. Misalnya, keputusan memilih jurusan kuliah. Meski, orangtua ikut andil untuk membiayakan biaya pendidikan, orangtua wajib mempertimbangkan keinginan dan kemampuan anak.

Jangan sampai anak menjalani sebuah pilihan secara terpaksa. Hal ini kemungkinan besar akan membuat anak jadi tertekan dan hasilnya tidak memuaskan. Kondisi tersebut tentu membuat hubungan anak dan ibu serta anggota keluarga yang lain jadi tidak akur.

Sebagai orang dewasa, Anda harus mampu memilih sebuah keputusan. Namun, jangan sampai lupa untuk menerima masukan-masukan dari orang lain, termasuk ibu, ayah, dan juga sahabat Anda.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca