Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Anda mungkin sudah tak asing dengan adegan kekerasan di dalam film. Perilaku seperti ini ternyata tidak hanya ada dalam film. Di dunia nyata pun, manusia secara alamiah memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan. Hal ini terkadang bisa berubah menjadi dorongan untuk menyakiti orang lain.

Sebenarnya, dari mana asalnya dorongan tersebut?

Alasan ilmiah di balik dorongan menyakiti orang lain

korban bullying

Kekerasan, baik secara fisik maupun emosional, pada dasarnya merupakan bagian dari kepribadian yang membentuk manusia. Memang sulit diakui, tapi diskriminasi, bully, dan segala macam interaksi yang bisa memicu konflik juga tidak dapat lepas darinya.

Perilaku ini dikenal sebagai agresi dalam dunia psikologi. Pencetus teori psikoanalisis, Sigmund Freud, menyatakan bahwa agresi berasal dari dorongan dalam diri seseorang. Dorongan ini menjadi motivasi dan muncul dalam bentuk perilaku tertentu.

Sayangnya, agresi memunculkan perilaku yang tujuannya merusak seperti intimidasi, ancaman, cemoohan, bahkan sesimpel kebiasaan bergosip tentang orang lain. Perilaku ini tidak hanya menghancurkan orang lain, tapi juga orang yang melakukannya. 

Salah satu bentuk agresi yang paling ekstrem adalah dorongan untuk menyakiti orang lain. Seperti perilaku agresi lainnya, keinginan untuk menyakiti orang lain mempunyai beberapa tujuan, seperti:

  • mengungkapkan amarah dan permusuhan
  • menunjukkan kepemilikan
  • menunjukkan dominasi
  • mencapai tujuan tertentu
  • bersaing dengan orang lain
  • sebagai respons dari rasa sakit atau takut

Melansir laman Pijar Psikologi, Freud menggambarkan kekerasan sebagai nafsu yang sifatnya manusiawi. Nafsu tersebut menuntut agar dipenuhi, sama seperti nafsu makan maupun gairah untuk berhubungan seksual.

Jika dirunut dari zaman sebelum peradaban, manusia harus berjuang untuk mendapat makanan serta melindungi diri, keluarga, dan kelompoknya. Sering kali mereka harus melakukan kekerasan untuk mencapai tujuan tersebut.

Perilaku kekerasan terekam dalam genetik dan menjadi naluri yang tertanam sampai sekarang. Namun, peradaban manusia membuat kekerasan jadi tidak masuk akal lagi. Kekerasan kini dilihat sebagai hal yang tidak manusiawi dan tidak rasional.

Dorongan untuk menyakiti orang lain tetap ada, tapi Anda terlatih untuk menyimpannya. Bahkan, Anda bisa saja tidak sadar memilikinya. Keinginan tersebut mungkin baru akan muncul saat Anda menghadapi konflik yang menimbulkan emosi negatif.

Mengapa manusia tidak saling menyakiti

memaafkan orang yang dibenci

Freud mencetuskan konsep bahwa kehidupan memiliki tiga tingkatan kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Menurutnya, sebagian besar perilaku manusia dikendalikan oleh tingkatan kesadaran tersebut.

Dalam tingkatan kesadaran tersebut, ada tiga unsur kepribadian yang disebut id, ego, dan superego. Id adalah bagian dari alam bawah sadar yang menginginkan kepuasan dan kesenangan, contohnya Anda makan ketika merasa lapar.

Ego bertugas untuk memenuhi keinginan id dengan cara yang aman dan diterima oleh masyarakat. Jika Anda ingin makan, tentu Anda tidak asal mengambil makanan orang lain. Menurut Freud, egolah yang mengatur hal tersebut.

makanan untuk herpes oral

Sementara itu, superego adalah unsur kepribadian yang memastikan Anda mengikuti aturan dan prinsip moral yang ada. Superego menjaga Anda agar bersikap baik dan bertanggung jawab pada masyarakat yang memiliki tatanan.

Hal yang sama juga terjadi saat Anda merasakan dorongan untuk menyakiti orang lain. Misalnya, Anda marah ketika seseorang menabrak Anda di jalan. Id ingin memuaskan keinginannya dengan bertindak kasar. Anda ingin memukul orang tersebut.

Namun, superego ‘melarang’ Anda untuk melakukan kekerasan. Walaupun kekerasan membuat Anda merasa lebih baik, superego menahan Anda agar tidak melakukannya. Ia juga mengingatkan Anda akan hukuman yang menanti dari tindakan ini.

Pada akhirnya, ego berperan sebagai penengah antara id dan superego. Ia muncul agar Anda dapat mengungkapkan amarah tanpa melakukan kekerasan seperti yang diinginkan id. Dengan cara ini, Anda bisa mengendalikan emosi.

Mengendalikan dorongan untuk menyakiti orang lain

cara mengendalikan emosi

Meskipun secara alamiah ada dalam kepribadian seseorang, keinginan untuk menyakiti orang lain tidak bisa dibenarkan. Tindakan ini juga ilegal dan akan merugikan diri Anda. Jika Anda sering merasakan dorongan tersebut, berikut beberapa tips mengontrolnya.

  • Pikirkan tentang situasi dan orang yang membuat Anda mudah marah. Bayangkan apa saja pemicunya sehingga Anda bisa menghindarinya.
  • Jauhi situasi yang membuat Anda marah sebelum Anda melakukan sesuatu.
  • Bila Anda tahu akan menghadapi situasi yang memicu amarah, coba pikirkan respons apa yang akan Anda berikan.
  • Bicarakan dengan orang terdekat yang mau berusaha memahami Anda.
  • Dalam kondisi tenang, pikirkan kembali apakah tindakan Anda berakibat buruk bagi orang yang Anda sayangi atau hubungan Anda dengan lain.

Dorongan untuk menyakiti orang lain adalah bagian dari naluri seseorang. Perilaku ini muncul akibat banyak faktor yang kadang tak terhindarkan. Walaupun memendamnya tidak mudah, Anda bisa berlatih mengendalikannya sedikit demi sedikit.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Tanda Anda Mengalami Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Asmara

Efek kekerasan emosional dalam hubungan tak kalah sadis dibandingkan dengan kekerasan fisik. Apa saja tanda kekerasan emosional yang harus diwaspadai?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 19/09/2018 . 6 menit baca

6 Hal yang Tidak Seharusnya Dilakukan Oleh Pasangan Anda

Hubungan yang sehat punya batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh kedua pasangan. Terlebih bila sampai melakukan kekerasan dalam pacaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24/08/2018 . 5 menit baca

Apakah Orang yang Kasar dan Kejam Bisa Berubah Jadi Lebih Baik?

Anda mungkin percaya bahwa orang yang punya sifat keras, kasar, dan kejam tak akan bisa berubah. Apakah faktanya memang seperti itu? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Psikologi 01/03/2018 . 4 menit baca

Masih Pacaran Sudah Melakukan Kekerasan, Apa Penyebabnya?

Kekerasan tidak hanya terjadi di jalanan atau dalam ranah rumah tangga, dalam pacaran pun bisa terjadi. Apa penyebab kekerasan dalam pacaran?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 06/01/2018 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 15/04/2020 . 6 menit baca
korban pasangan abusive

Korban Pasangan Abusive Berisiko Mengulang Hubungan yang Sama, Ini Sebabnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 15/03/2020 . 3 menit baca

Tanda yang Muncul Saat Pasangan Sudah Terlalu Mengatur Media Sosial Anda

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 01/12/2019 . 4 menit baca
kekerasan seksual pada anak

Pelaku Kekerasan Seksual Pada Anak Tidak Selalu Orang Asing, Mungkin Keluarga Sendiri

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 08/06/2019 . 5 menit baca