8 Dampak Buruk yang Bisa Terjadi Akibat Multitasking

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22/05/2020
Bagikan sekarang

Saat kita sedang sibuk, rasanya waktu 24 jam sehari itu tidaklah cukup. Ada saja pekerjaaan atau tugas yang tidak terselesaikan. Ingin sekali kita membelah diri, agar semua kegiatan dan tujuan berjalan dengan lancar. Saking padatnya, kita pun dituntut untuk melakukan multitasking. Membalas pesan di ponsel sambil berjalan, karena membalasnya sambil diam sejenak akan membuang waktu beberapa menit. Chatting saat Anda memasak, menelpon saat menyetir, dan lain-lain. Mungkin, Anda melakukannya tanpa benar-benar sadar. Tuntutan pekerjaan, sekolah, teman, bahkan keluarga membuat kita semua jadi terbiasa melakukan multitasking. Menjadi sebuah kemewahan ketika kita bisa melakukan satu kegiatan saja pada satu waktu, seperti makan tanpa mengobrol, tanpa melihat internet, atau televisi.

BACA JUGA: Berbagai Trik untuk Tetap Fokus Setiap Saat

Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya multitasking justru lama-lama akan mengganggu kinerja otak kita? Penelitian dari University of London yang dikutip situs Inc, menunjukkan subjek penelitian yang melakukan multitasking ternyata malah mengalami penurunan IQ ketika diberikan tugas yang berkaitan dengan kognitif. Seperti apa dampak multitasking lainnya?

Apa saja dampak negatif dari melakukan multitasking?

Otak kita tidak didesain untuk menampung beberapa tugas berat dalam waktu bersamaan. Mungkin kita tidak merasa bahwa tugas tersebut berat, namun melakukan bolak-balik pergantian tugas dalam waktu yang cepat dan bersamaan adalah hal yang berat dilakukan oleh otak. Ada lagi alasan mengapa melakukan multitasking tidak baik untuk otak, seperti:

1. Mengurangi produktivitas

Menurut Guy Winch, PhD, penulis Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt and Other Everyday Psychological Injuries, yang dikutip oleh situs Health, ketika suatu hal memerlukan perhatian dan produktivitas, maka kinerja otak pun terbatas. Satu hal saja memerlukan fokus lebih, coba bayangkan ketika Anda melakukan lebih dari dua hal sekaligus?

BACA JUGA: 8 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Otak

Mungkin kita semua akan membela diri dengan mengatakan bahwa multitasking membuat pekerjaan menjadi cepat beres. Faktanya, ketika Anda bolak-balik mengerjakan beberapa tugas dalam waktu yang sama, ini tidak membuat Anda lebih produktif. Menurut Winch, perhatian Anda terfokus pada ‘pergantian’ tugas tersebut, bukan pada tugasnya. Misalnya Anda harus menelpon seseorang, tapi Anda juga harus membalas email. Kemungkinan ketika Anda sedang menelpon sambil membalas email, yang Anda fokuskan adalah peringatan ‘membalas email’ di otak Anda, bukan pada isi dari email tersebut.

2. Membuat kinerja Anda melambat

Alasan kita melakukan multitasking adalah agar semua kegiatan dapat berjalan tepat waktu. Faktanya, multitasking tidak selalu menyelamatkan waktu Anda. Dua tugas dikerjakan secara bergantian pada waktu yang sama tidak membuat Anda cepat menyelesaikannya, otak Anda akan kebingungan sendiri. Sebuah penelitian dari University of Utah pada tahun 2008 yang dikutip situs Health, menunjukkan beberapa pengemudi lebih lama untuk sampai pada tujuan ketika mereka menyetir sambil chatting lewat telponnya.

4. Membuat kesalahan

Para ahli setuju bahwa melakukan multitasking dapat menyebabkan kehilangan produktivitas sekitar 40%. Anda juga tidak terbebas dari kesalahan. Ilmuwan dari Institut National de la Santé et de la Recherche Médicale (INSERM) di Paris, yang dikutip dari situs Brain Facts, meneliti suatu grup yang diminta untuk melakukan dua tugas secara bersamaan, salah satu tugas tersebut akan ditawarkan penghargaan jika hasilnya baik.

Hasilnya, ilmuwan menemukan adanya aktivitas sel saraf hanya di satu sisi bagian korteks prefrontal  – bagian yang mengatur fungsi neuropsikiatri (perencanaan, pengaturan, penyelesaian masalah, kepribadian).  Ketika penghargaan ditawarkan lebih besar untuk tugas lainnya, maka sisi korteks yang lain pun mulai aktif. Tapi, saat ilmuwan meminta partisipan untuk menyelesaikan tugas lainnya, kesalahan dalam pengerjaan pun mulai terlihat. Hal ini disebabkan karena otak kita hanya siap untuk melakukan dua fokus secara bersamaan saja.

BACA JUGA: Tidur Tidak Nyenyak Bisa Mengganggu Fungsi Otak

5. Membuat Anda lebih stres

Peneliti dari University of California Irvine mengukur denyut jantung karyawan yang bekerja dengan atau tanpa akses konstan pada email kantor. Mereka yang konstan mendapat email menunjukkan denyut jantung yang meningkat. Sedangkan, mereka yang tidak secara konstan mengakses email, lebih sedikit melakukan multitasking, dan tingkat stresnya pun lebih rendah. Contoh lainnya, ketika ujian tiba, kita harus belajar. Namun, saat itu ada pertandingan olahraga yang kita sukai, tidak jarang, kita memutuskan belajar sambil menonton televisi. Alhasil, tindakan tersebut akan semakin membuat Anda tertekan, sebab harus melakukan dua tugas bersamaan.

6. Kehilangan momen kehidupan

Ketika Anda melakukan dua hal secara bersamaan tentu sudah menarik seluruh perhatian Anda pada dua hal tersebut. Anda mungkin jadi sering melewatkan peristiwa-peristiwa sederhana yang terjadi di depan Anda. Misalnya, ketika dalam perjalanan ke kampus atau kantor, Anda lebih sering berjalan sambil memerhatikan ponsel, tidak menyadari kehadiran teman lama yang berada beberapa meter saja. Tidak memerhatikan sekitar, terkadang bisa mengundang bahaya, seperti tidak memperhatikan lubang galian di pinggir jalan saat berjalan kaki, sehingga akhirnya Anda terjerembab.

BACA JUGA: 5 Kebiasaan Buruk Saat Menggunakan Gadget yang Sering Anda Lakukan

7. Kehilangan detil penting

Membaca buku sambil menonton televisi bukan ide yang bagus, Anda akan melupakan beberapa detil penting dari buku atau acara televisi tersebut. Interupsi pada satu tugas dapat menyebabkan gangguan pada memori jangka pendek Anda. Apalagi kemampuan kita untuk mengingat pun akan melemah, seiring dengan bertambahnya usia. Jika Anda menambahnya dengan multitasking, memori kita pun akan terganggu.

8. Merusak hubungan Anda dan pasangan

Sering kali kita jumpai sepasang kekasih atau suami-istri duduk bersama dalam satu meja, namun tak ada satu pun yang memulai pembicaraan, keduanya aktif melihat ponsel masing-masing. Entah apa yang mereka lakukan dengan ponselnya. Tentu saja, hal itu akan mengganggu kualitas waktu bersama, komunikasi pun perlahan akan renggang. Apalagi, saat salah satu diantara pasangan tidak menyukai tindakan ‘melihat ponsel’ saat mengobrol atau makan. Hal tersebut akan menjadi permasalahan yang serius.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Beragam manfaat detoks digital mengarahkan Anda untuk memiliki hubungan lebih baik dengan. Namun, apa sebetulnya detoks digital itu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Momen kelulusan pelajar dan mahasiswa harus dilewatkan saat pandemi COVID-19. Bagaimana hal ini berpengaruh pada kondisi psikologis mereka?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13/05/2020

Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

Direkomendasikan untuk Anda

delusi dan halusinasi

Delusi dan Halusinasi, Apa Bedanya?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 01/06/2020
Pedofilia kekerasan seksual

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
stres anak saat pandemi

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020