Terlalu Mencemaskan Pendapat Orang Lain Soal Diri Anda? Apa Dampaknya Secara Psikologis?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 9 Oktober 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Sebagai makhluk sosial, wajar kalau Anda merasa perlu menjaga image atau citra diri yang baik di depan orang-orang. Karena itu, timbul kecemasan soal pendapat orang lain mengenai diri Anda sendiri. Hal ini sebenarnya merupakan pertanda kematangan pola pikir untuk menyesuaikan diri dan berperilaku di lingkungan masyarakat.

Akan tetapi, kalau hidup Anda justru dikendalikan oleh kecemasan soal pendapat orang lain soal diri Anda, bisa jadi Anda adalah orang yang self-conscious. Self-conscious bisa diartikan sebagai kondisi emosi yang dipengaruhi oleh pikiran bagaimana kita dan orang lain di sekitar melihat diri kita.

Orang yang terlalu mencemaskan image-nya di hadapan publik atau di media sosial tentu tidak sehat. Pasalnya, hal tersebut dapat memperburuk gejala dari gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian hingga menyebabkan seseorang mengucilkan dirinya sendiri dari masyarakat.

Tanda jika Anda mengalami self-conscious

Gejala-gejala self-conscious bisa bersifat positif maupun negatif. Gejalanya masih terbilang sehat ketika emosi tersebut masih dalam batas wajar dan tidak merubah perilaku seseorang.

Gejala self-conscious yang bersifat positif di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Bangga dengan keberhasilan yang dicapai.
  • Dapat memahami dan menikmati lingkungan sosialnya.
  • Berani minta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.

Sedangkan gejala emosi self-conscious yang bersifat negatif berikut ini bisa menghambat kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

  • Mengungkapkan rasa malu atau kecemasan dengan kemarahan atau tindak kekerasan.
  • Mudah merasa iri.
  • Menghindari melakukan interaksi sosial.
  • Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuat sendiri.
  • Terlalu menyalahkan diri sendiri.
  • Tidak percaya diri.
  • Merasa gelisah, cemas, depresi, gugup, atau tidak nyaman.

Emosi self-conscious negatif dapat meningkatkan risiko dan gejala-gejala gangguan jiwa. Selain itu, Anda juga akan semakin sulit untuk menyembuhkan diri dari trauma psikologis. Karena takut dicap negatif, Anda malah tambah malu dan gengsi untuk mencari bantuan orang lain atau profesional untuk mengatasi kecemasan Anda. Ini memang jadi lingkaran setan yang harus segera diputus.

Memikirkan pendapat orang lain ada manfaatnya juga

Sebenarnya, memikirkan pendapat orang lain soal Anda sendiri tak selalu buruk. Ini karena pada dasarnya emosi self-conscious berasal dari kesadaran akan diri sendiri. Kondisi tersebut membantu kita dalam memikirkan cara beradaptasi di lingkungan sosial. Self-conscious juga berperan dalam mencegah seseorang untuk melewati batas atau melanggar norma sosial. Pasalnya, Anda akan merasa bersalah dan malu jika tetap melanggarnya.

Emosi self-conscious positif jika tidak berlebihan memiliki banyak keuntungan. Perasaan bangga akan suatu pencapaian dapat mendorong seseorang untuk bekerja lebih keras. Rasa percaya diri dapat mendorong untuk mencoba berbagai tantangan baru. Bahkan emosi self-conscious negatif seperti rasa iri diperlukan untuk mengenali apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup.

kecanduan media sosial

Mengapa kita sangat peduli soal pendapat orang lain?

Perkembangan self-conscious atau kepedulian soal citra diri terjadi sebagai hasil pemahaman seseorang terhadap peraturan, norma, dan tujuan. Anak mulai memahami keberadaan dirinya pada usia sekitar 18 bulan. Pada usia tersebut emosi self-conscious mulai berkembang. Banyak anak-anak sudah mengenal berbagai jenis emosi self-conscious seperti rasa malu pada usia tiga tahun.

Sebagai hal yang wajar, emosi self-conscious terjadi seiring dengan pertambahan usia seseorang. Intensitas emosi self-conscious paling tinggi dialami pada usia remaja dan dewasa muda. Pada usia tersebut, seseorang mengalami berbagai tekanan sosial untuk pertama kalinya.

Selain itu, perkembangan emosi self-conscious usia remaja juga dikarenakan perkembangan otak yang signifikan pada bagian korteks prefrontal medial. Area tersebut juga mengalami peningkatan hubungan saraf dengan bagian otak lainnya. Itulah sebabnya pada usia tersebut seseorang lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, ia cenderung merasa diawasi sehingga menjadi lebih mudah malu dan cemas akan kondisi dirinya sendiri.

Merasakan self-conscious yang berlebihan dapat mengganggu aktivitas seseorang, terutama jika Anda jadi tidak percaya diri. Orang yang tidak dapat membebaskan dirinya dari emosi self-conscious negatif cenderung memiliki bakat untuk mengalami gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan kepribadian borderline, atau obsessive-compulsive disorder (OCD).

Bagaimana mengatasi self-conscious negatif?

Tenang, ada banyak cara untuk menangani kondisi self-conscious negatif dengan membangun citra diri yang positif dan membangun kepercayaan diri. Simak tips-tipsnya di bawah ini.

  • Cari kegiatan atau passion yang membuat Anda merasa nyaman akan menjadi diri sendiri.
  • Kenali dan pahami kelebihan dan pencapaian yang Anda miliki.
  • Hindari keinginan untuk selalu membuat orang lain kagum.
  • Cobalah untuk berinteraksi orang lain meskipun dengan intensitas yang sedikit hal tersebut dapat membantu mengatasi kecemasan dalam berinteraksi sosial.
  • Tingkat kedisiplinan dengan berkomitmen dan melakukan suatu hal tepat waktu hal ini membantu meningkatkan keyakinan nilai diri sendiri.
  • Bertanggungjawablah jika berbuat salah dan melakukan perbaikan yang diperlukan.
  • Hindari merasa terlalu bersalah atau sangat malu dengan cara berbohong atau melakukan tindakan negatif lainnya.
  • Berlatih teknik relaksasi ketika Anda mengingat hal yang memicu emosi negatif, misalnya dengan cara menarik napas dalam.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Lama-lama, seks bisa jadi membosankan. Apakah artinya sudah tak saling cinta lagi? Bisakah hubungan suami istri terasa nikmat seperti dulu lagi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kebugaran jantung

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
pasangan malu berhubungan intim

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
cedera kaki pakai tongkat kruk

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
psoriasis kuku

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit