Yang Boleh dan Tak Boleh Saat Menyembuhkan Diri dari Trauma

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Gangguan stress pasca-trauma atau yang lebih dikenal dengan PTSD (post-traumatic stress disorder) adalah gangguan kesehatan mental yang cukup serius, diakibatkan oleh suatu kejadian yang menyebabkan seseorang trauma. Meskipun pengalaman yang dialami seseorang tidak selalu seburuk apa yang mereka pikirkan, namun kondisi trauma dapat menyebabkan ia merasa dalam bahaya, hanya dengan mengingat suatu hal dari pengalaman tersebut.

Perubahan gaya hidup adalah salah satu cara untuk merubah pemikiran seseorang terhadap suatu hal dan diharapkan dapat mengurangi gejala seseorang yang mengalami PTSD. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi PTSD.

Yang perlu dilakukan untuk mengatasi trauma

1. Kenali gejala PTSD

Pengalaman seperti bencana alam, penganiayaan, atau kecelakaan dapat dengan mudah kembali teringat oleh penderita PTSD melalui mimpi buruk, ingatan sekilas, ataupun ingatan yang mengganggu pikiran. Orang yang mengalami PTSD sering kali tidak dapat mengekspresikan emosi, menarik diri dari berbagai rutinitas dan lingkungan sosial, serta mengalami berbagai gejala gangguan kognitif. Dalam jangka panjang PTSD dapat memicu depresi dan panic attack.

Mencari tahu penyebab trauma Anda lebih mendalam diperlukan untuk mengetahui bagaimana mencegah rasa trauma datang  kembali. Di samping itu, bergabung dengan kelompok dukungan terkait trauma tersebut juga dapat membantu untuk mengingatkan bahwa Anda tidak sendiri yang mengalami kondisi ini.

2. Mendekatkan diri kembali ke lingkungan sosial

Menjauhkan diri dari orang terdekat malah dapat menyebabkan Anda sering sendirian, dan cenderung mengingat kembali apa yang membuat Anda trauma. Sebaliknya, berbagi cerita dengan seseorang dapat mengurangi tekanan pikiran dibanding menyimpan masalah yang dialami sendiri. Selain itu, lingkungan keluarga dan teman adalah tempat terbaik untuk mendapatkan dukungan yang Anda butuhkan.

3. Memulai terapi

Beberapa gejala PTSD dapat membuat Anda merasa lelah dan mengurangi kualitas waktu istirahat, akibatnya performa dalam pekerjaan, sekolah, maupun hubungan pribadi pun jadi terganggu. Terapi adalah salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut, baik terapi kejiwaan maupun konsumsi obat seperti anti-depresan dan obat tidur. Upaya ini tidak menghasilkan efek yang cepat, namun penting dilakukan untuk membantu menghadapi trauma dengan kondisi pikiran yang lebih jernih. Iringi terapi dengan mengurangi sumber stress agar pemulihan PTSD berjalan efektif.

4. Alihkan perhatian dengan hal yang positif

Berbagai aktivitas seperti bekerja maupun menjadi relawan adalah salah satu cara mengalihkan pikiran dari ingatan dan emosi yang tidak diinginkan. Meskipun menfokuskan pikiran pada suatu pekerjaan tidak akan langsung menghilangkan gejala PTSD, namun hal ini dapat meminimalisir dampak buruk saat mengingat trauma yang dialami, dan membantu menyeimbangkan kehidupan Anda kembali. Mengalihkan perhatian kepada hal positif saat Anda sendirian adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah ingatan trauma datang kembali.

5. Memulai aktivitas relaksasi secara rutin

Hal ini dapat dilakukan dengan menjalani berbagai aktivitas yang dapat membuat pikiran Anda menjadi lebih tenang, seperti mendengarkan musik, meditasi, stretching, rekreasi, maupun berolahraga. Kondisi rileks tidak hanya membutuhkan ketenangan pikiran, namun juga memerlukan kekuatan fisik. Oleh karena, itu keduanya perlu terpenuhi saat melakukan aktivitas relaksasi.

Namun perlu diingat, tujuan melakukan aktivitas tersebut adalah melupakan sejenak segala hal yang membuat stress atau yang memperburuk kondisi emosi Anda, sehingga pilihlah aktivitas yang benar-benar membuat pikiran Anda tenang. Hindari aktivitas dengan stimulus negatif dari lingkungan saat Anda sedang berupaya untuk rileks, misalnya mendengarkan lagu sedih yang dapat mempengaruhi kondisi emosi Anda. Hal ini tidak akan membantu Anda menjadi lebih tenang dan hanya akan membuat Anda menarik diri dari aktivitas tersebut.

Yang tidak boleh dilakukan dalam mengatasi trauma

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap suatu rasa trauma, namun sering kali mereka melakukan hal-hal yang negatif dan tidak menyelesaikan masalah. Menyalahgunakan alkohol dan obat, serta menghindarkan diri dari rasa trauma, adalah cara kurang sesuai untuk mengatasi PTSD.

1. Menyalahgunakan obat dan alkohol

Dua hal ini mungkin membuat seseorang melupakan masalah dan meningkatkan kepercayaan diri, meski hanya sementara, namun hal tersebut tidak akan membuat pikiran menjadi lebih jernih saat mengalami trauma. Efek ketergantungan dari obat dan alkohol juga dapat memperburuk keadaan mental sehingga memicu kekerasan, kecelakaan, dan keinginan untuk bunuh diri.

2. Tak mau mengakui trauma

Dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menghindari lingkungan sosial dan menganggap dirinya tidak punya masalah dan tidak memerlukan bantuan terapi. Menenangkan diri dengan cara menyendiri dan menghindari orang terdekat secara berlebihan bukanlah hal yang tepat, karena akan menjauhkan Anda dari dukungan yang mungkin Anda butuhkan. Sama halnya dengan menyembunyikan emosi dan menghindari terapi, karena ini tidak akan menyelesaikan trauma yang dapat kembali sewaktu-waktu meskipun Anda menganggap semua baik-baik saja.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

    Pandemi COVID-19 memberikan dampak beragam, beberapa orang berisiko mengalami PTSD akibat melewati peristiwa mengguncang ini. Siapa saja yang berisiko?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 22 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Hidup Sehat, Fakta Unik 20 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    melihat bullying

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    apa itu depresi

    Penyakit Mental

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
    melatih otak agar percaya diri

    3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Dipublikasikan tanggal: 20 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
    tidak puas dengan pekerjaan berbahaya bagi kesehatan

    Tidak Menikmati Pekerjaan di Masa Muda, Bisa Membahayakan Kesehatan di Masa Depan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit