Apa Bedanya Ketergantungan dan Kecanduan Obat?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20 Juli 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Dilansir dari Kumparan, KPAI melaporkan dari total 87 juta populasi anak di Indonesia, 59 juta anak di antaranya kecanduan narkoba. Anda mungkin sudah familiar dengan istilah kecanduan obat, tapi tahukah kalau ternyata istilah tersebut tidak sama artinya dengan ketergantungan? Seseorang yang mengalami ketergantungan obat belum tentu seorang pecandu, tapi seseorang yang sudah kecanduan obat sebelumnya kemungkinan besar mengalami ketergantungan obat. Masih bingung? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa itu ketergantungan obat?

Ketergantungan obat dapat diartikan sebagai proses konsumsi obat yang dilakukan berulang-ulang di luar aturan penggunaannya atau tidak sesuai resep dokter, meski tujuannya semata untuk mengatasi gejala, meredakan rasa sakit, atau mendukung fungsi tubuh. Ketergantungan obat pun tetap dapat muncul bahkan meski Anda menggunakan obat tersebut sesuai aturan pakai yang telah diresepkan dokter.

Ketergantungan muncul ketika tubuh Anda telah menyesuaikan diri dengan kehadiran obat tersebut, sehingga Anda lama-lama kebal terhadap efek obat. Reaksi kebal obat inilah yang membuat beberapa orang cenderung suka seenaknya menaikkan dosis sendiri supaya bisa mendapatkan efek obat yang diinginkan.

Di sisi lain, ketika Anda memutuskan untuk berhenti minum obat itu, tubuh akan “berontak” dengan menunjukkan reaksi penarikan atau gejala putus obat karena merasa kebutuhannya akan suatu zat kimia tertentu tidak terpenuhi. Gejala yang dapat terjadi antara lain pusing, mual, pingsan, nyeri di sekujur badan, hingga halusinasi berlebihan. Untuk mengatasi reaksi putus obat, maka kemudian Anda akan harus kembali mengonsumsi obat tersebut dalam dosis yang lebih kuat.

Tidak cuma narkoba yang bisa bikin ketergantungan, obat warung pun juga bisa

Bukan hanya obat-obatan terlarang (narkoba) saja yang bisa menyebabkan ketergantungan. Setiap obat-obatan medis resmi yang digunakan berkelanjutan dalam jangka panjang nyatanya dapat menyebabkan ketergantungan, termasuk obat pereda nyeri yang dijual bebas di warung dan obat-obatan steroid kuat seperti morfin dan fentanyl yang wajib pakai resep dokter.

Ketergantungan obat bisa menjadi awal dari penyalahgunaan obat dan kecanduan, serta berisiko memicu terjadinya overdosis yang berakibat fatal. Untuk mencegah ketergantungan obat, pemberian jenis obat beserta dosis dan jadwalnya harus di bawah pengawasan dokter.

Jika Anda perlu menaikkan atau menurunkan dosisnya, konsultasikan ke dokter. Hanya dokterlah yang bisa dan berhak mengubah dosis obat-obatan yang Anda konsumsi untuk mencegah terjadinya gejala putus obat.

Orang yang mengalami ketergantungan obat sering kali menampakkan gejala kecanduan, walaupun keduanya hal yang berbeda. Oleh karena itulah, keduanya sering sulit dibedakan — terutama pada kasus di mana obat yang digunakan adalah obat resep.

Apa yang dimaksud kecanduan obat?

Dikutip dari National Institute on Drug Abuse , kecanduan obat adalah kondisi yang terjadi ketika Anda tidak bisa lagi mengendalikan dorongan atau keinginan yang tak tertahankan untuk menggunakan suatu obat. Orang yang memiliki kecanduan tidak mempunyai kuasa untuk menghentikan apa yang mereka lakukan, gunakan, atau konsumsi bahkan ketika penggunaannya merusak atau mengganggu kewajibannya dalam bekerja, berkeluarga, dan hidup bersosial.

Kecanduan berbeda dengan ketergantungan. Ketika Anda ketergantungan untuk melakukan kebiasaan yang selalu Anda lakukan, Anda bisa menghentikannya kapan saja sesuai dengan kondisi yang terjadi. Tidak dengan kecanduan. Kecanduan membuat Anda benar-benar kehilangan kontrol sehingga tidak lagi mampu untuk menghentikan perilaku tersebut, terlepas dari apa yang Anda untuk menghentikannya dan seberapa keras usaha tersebut.

Orang tersebut hanya mementingkan dorongan untuk menggunakan obat daripada melakukan aktivitas normal lainnya, bahkan sampai menggunakan cara yang melanggar hukum demi mendapatkannya. Maka, bukan tidak mungkin kecanduan sampai bisa menyebabkan perubahan perilaku, kebiasaan, bahkan hingga fungsi otak secara permanen.

Tidak hanya obat, kecanduan juga bisa disebabkan hal lain seperti kecanduan alkohol, seks, berjudi, bahkan kecanduan minum kopi. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Yang juga perlu Anda baca

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Orangtua pasti cemas bukan main melihat anaknya bolak-balik BAB. Tenang dulu. Cari tahu penyebab, gejala, dan cara mengobati diare pada anak di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Bercinta dengan lampu yang redup sudah biasa. Pernahkah Anda membayangkan seks dengan lampu menyala? Sebelumnya, coba simak artikel berikut.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bullying pada remaja

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
tanda stress yang sering diabaikan

7 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko kesehatan akibat terlalu lama menatap layar komputer

Risiko Kesehatan Setelah Menatap Layar Komputer Terlalu Lama

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit