5 Tanda Anda Perlu Konsultasi ke Psikolog

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/04/2020
Bagikan sekarang

Ketika seseorang menganjurkan Anda untuk menjalani terapi dengan psikolog, bagaimana reaksi Anda? Tersinggung atau justru merasa orang tersebut ada benarnya? Di Indonesia memang kesehatan mental belum dianggap serius. Akibatnya banyak orang enggan ke psikolog meskipun sebenarnya sangat membutuhkan konsultasi psikologi.

Buat apa pergi ke psikolog?

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa harus pergi ke psikolog kalau bisa menceritakan masalah yang dihadapi dengan orang terdekat? Memang tak ada salahnya curhat dengan orang terdekat. Namun, psikolog bisa membantu Anda lebih cepat dan efektif.

Psikolog sudah terlatih dan berpengalaman untuk benar-benar mendengarkan kliennya. Melalui serangkaian pendidikan dan pelatihan, mereka telah dibekali kemampuan menggali akar masalah berdasarkan cerita Anda. Mereka juga punya keahlian yaitu mengajari Anda bagaimana mekanisme terbaik untuk menghadapi masalah.

Di samping itu, psikolog adalah sosok yang netral. Ia tak bersikap bias dan tak punya keinginan pribadi supaya Anda melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang Anda anut. Berbeda dengan anggota keluarga atau pasangan. Mereka mungkin akan memberi saran yang kurang tepat pada Anda. Ini karena orang terdekat biasanya sudah punya gambaran atau harapan akan sosok ideal Anda, padahal belum tentu tepat.

Apakah saya butuh konsultasi psikologi?

Ada pandangan keliru dalam masyarakat bahwa hanya “orang gila” saja yang harus ke psikolog. Padahal, siapa saja boleh dan perlu melakukan konsultasi psikologi demi menjaga kesehatan mentalnya. Tak perlu didiagnosis depresi atau punya gangguan jiwa dulu baru pergi ke psikolog.

Anggap saja seperti periksa kesehatan ke dokter atau ikut imunisasi supaya kebal terhadap penyakit. Ingat, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan badan Anda. Bila Anda mengalami tanda-tanda di bawah ini, segera cari bantuan psikolog terpercaya.

1. Masalah Anda sudah sangat mengganggu

Perhatikan seberapa intens reaksi Anda terhadap masalah yang muncul. Misalnya tidak bisa konsentrasi waktu kuliah, kerja, atau mengasuh anak. Bisa juga Anda jadi sering menangis atau marah-marah.

Gejala lain yang perlu diamati adalah putus asa, cemas berlebihan, susah tidur, kehilangan nafsu makan atau justru ingin makan terus, sakit kepala dan sakit perut tanpa penyebab yang jelas, serta menarik diri dari orang-orang di sekitar Anda. Apalagi kalau reaksi ini sudah berlangsung lebih dari dua minggu lamanya.

2. Anda sudah melakukan berbagai cara untuk menyelesaikan masalah, tapi tak berhasil

Anda mungkin sudah mengusahakan banyak cara untuk menyelesaikan masalah. Misalnya berlibur, beribadah, atau bicara dengan orang terdekat. Sayangnya cara-cara tersebut belum berhasil memperbaiki kondisi Anda.

Anda butuh mekanisme lain untuk menghadapi situasi ini. Caranya yaitu berkonsultasi dengan psikolog. Ingat, minta bantuan psikolog bukan berarti Anda lemah atau gila. Justru artinya Anda mau dan mampu merawat diri sendiri.  

3. Keluarga atau sahabat mulai lelah dengan keluhan Anda

Awalnya mungkin orang terdekat Anda selalu ada dan mendukung. Namun, lama-lama mereka menjauh atau menghindari topik pembicaraan tentang masalah Anda. Berarti orang terdekat Anda sudah kewalahan dan tidak sanggup lagi mengatasi berbagai keluhan Anda. Ini wajar karena memang tak semua orang dibekali dengan ilmu kesehatan mental yang memadai.

4. Anda mulai mencari pelarian yang tidak sehat

Apakah Anda kecanduan rokok, alkohol, obat-obatan, pornografi, atau judi? Atau Anda tidak bisa menahan dorongan belanja gila-gilaan? Candu memang bisa jadi bentuk pelarian dari masalah Anda meski barang sejenak. Sebelum tambah parah, segera cari jasa konsultasi psikologi yang bereputasi baik.

5. Anda pernah atau baru saja mengalami kejadian traumatis

Gangguan psikologis biasanya muncul akibat kejadian traumatis yang baru saja dialami seperti kehilangan sosok tercinta, perceraian, kehilangan pekerjaan, bencana alam, atau didiagnosis dengan penyakit tertentu. Bisa juga peristiwanya sudah terjadi bertahun-tahun lalu tapi traumanya muncul lagi. Misalnya pada kasus kekerasan seksual, kekerasan pada anak, atau kekerasan dalam rumah tangga.

Trauma psikologis tak mungkin hilang begitu saja seiring berjalannya waktu. Trauma hanya akan terpendam dan sewaktu-waktu bisa meledak atau menghantui kehidupan Anda. Maka, Anda harus mampu mengenali, mengolah, dan move on dari trauma tersebut. Karena itulah Anda butuh bantuan psikolog.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Anak dan remaja termasuk kelompok yang rentan stres saat masa pandemi COVID-19, karena itu orangtua perlu memahami penyebab dan cara mengatasi kondisi ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 17/05/2020

Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Beragam manfaat detoks digital mengarahkan Anda untuk memiliki hubungan lebih baik dengan. Namun, apa sebetulnya detoks digital itu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Kurma bukan satu-satunya buah yang baik dimakan saat berbuka puasa. Lihat berbagai pilihan lainnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Monika Nanda
Hari Raya, Ramadan 14/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan diet sehat untuk menurunkan berat badan, cara diet sehat, menu diet sehat, makanan diet sehat, diet sehat alami

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020