Mengubah Jam Tidur Ternyata Berpengaruh Pada Kesehatan

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pola tidur adalah pola kebiasaan kita mengistirahatkan tubuh kita dengan tertidur. Hal ini mencakup jam tidur dan berapa lama kita tertidur. Inilah alasan mengapa kita, dalam keadaan normal, cenderung aktif pada siang hari dan tertidur di malam hari hingga pagi. Pola tidur normal pada orang dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam pada malam hari. Kurang atau lebihnya waktu tidur adalah penyebab utama perubahan pola tidur.

Apa itu perubahan pola tidur?

Perubahan pola tidur adalah perubahan kebiasaan seseorang untuk tertidur, dalam jangka waktu 24 jam sehari, termasuk tidur malam dan tidur siang.  Perubahan pola tidur erat kaitannya dengan perubahan siklus waktu tertidur dan terjaga. Saat seseorang mengalami perubahan jadwal dan jumlah waktu untuk tertidur dan terjaga, saat itulah perubahan pola tidur terjadi.

Perubahan pola tidur terjadi karena adanya ‘utang’ tidur

Perubahan pola tidur biasanya diawali dengan adanya perubahan waktu terjaga. Hal ini dapat disebabkan karena faktor umur, kesibukan, aktivitas, kebiasaan berolahraga, stress, dan berbagai kondisi lingkungan. Pengurangan waktu untuk tertidur (sleep loss) adalah hal yang paling sering menjadi pemicu perubahan pola tidur. Selisih waktu tidur dari waktu tidur normal seseorang akan menjadi “utang” (sleep debt) yang dapat terakumulasi. Utang tersebut harus dibayar dengan penambahan waktu tidur, kapan pun itu.

Waktu tidur yang hilang biasanya dibayar dengan waktu tidur di waktu lainnya yang biasanya kita tidak tertidur. Nah, ssaat itulah perubahan pola tidur terjadi. Perubahan pola tidur pada umumnya menyebabkan seseorang untuk tidur di siang hari, tidur lebih awal atau lebih larut, bahkan tidur malam dalam waktu yang lebih panjang.  Namun beberapa orang tertidur lebih lama saat akhir pekan untuk mengganti kekurangan waktu tidur saat hari kerja, dan hal ini dikenal dengan istilah social jetlag.

Berbeda dengan kekurangan waktu tidur, perubahan pola tidur juga dapat disebabkan oleh kekurangan waktu tidur. Keduanya dapat menurunkan performa mental dan fisik karena kekurangan waktu tidur. Secara langsung, seseorang dengan perubahan waktu tidur memiliki risiko atau sudah mengalami dampak dari kekurangan waktu tidur.

Dampak perubahan pola tidur pada kesehatan

Perubahan waktu tidur merupakan hasil mekanisme tubuh untuk menyeimbangkan waktu istirahat seseorang, meskipun dampaknya adalah seseorang tertidur di waktu abnormal (sore atau pagi hari) akibat ‘kerusakan’ jam biologis. Berikut beberapa masalah kesehatan yang dialami oleh seseorang dengan perubahan pola tidur:

1. Gangguan sekresi hormon

Saat kita tidur, ini waktunya tubuh memproduksi berbagai hormon penting bagi fungsi metabolisme tubuh. Misalnya hormon kortisol yang berfungsi agar kita tetap terjaga pada siang hari, hormon pertumbuhan yang membantu mengatur pertumbuhan massa otot, hormon reproduksi; serta FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) yang mengatur fungsi organ reproduksi dan perkembangan pada masa pubertas. Kurangnya waktu tidur saat malam hari akan mengganggu sekresi dan kinerja hormon tersebut, meskipun sudah ditambah waktu tidur siang.

2. Memicu kegemukan

Hal tidak hanya disebabkan kekurangan waktu tidur saja. Perubahan pola tidur yang menyebabkan seseorang kekurangan waktu tidur di malam hari memicu sekresi hormon yang menyebabkan kegemukan. Hormon ini memicu rasa lapar pada siang hari dan menyebabkan seseorang ingin memakan lebih banyak makanan. Setelah keinginan makan terpenuhi, kemungkinan individu tersebut mulai mengantuk akibat kurangnya waktu tidur saat malam hari. Akibatnya adalah kurangnya aktivitas pada siang hari dan energi yang tidak terpakai akan tersimpan sebagai lemak.

Gangguan sekresi hormon lain juga dapat menyebabkan kegemukan secara tidak langsung, di antaranya hormon pertumbuhan. Serkresi hormon pertumbuhan terlalu sedikit akan mengurangi massa otot. Semakin sedikit proporsi massa otot, semakin meningkat proporsi lemak. Riset oleh Yu dan kolega menunjukan bahwa lelaki dewasa dan lanjut usia dengan perubahan pola tidur atau kebiasaan terjaga pada malam hari berisiko mengalami hilangnya massa otot (sarcopenia) sebesar empat kali lipat dibandingkan individu dengan pola tidur normal. Kecenderungan inilah yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah gemuk seiring berjalannya usia.

3. Meningkatkan risiko kardiovaskuler

Mungkin sudah menjadi pengetahuan umum jika kekurangan waktu tidur dapat menyebabkan gangguan pada kinerja jantung. Namun penelitian terbaru oleh Dr. Patricia Wong menunjukan perubahan pola tidur juga meningkatkan kadar lemak dalam darah. Perubahan pola tidur akan menyebabkan kurangnya waktu beristirahat pada malam hari, akibatnya kita mengganti pada waktu lain. Namun tidur pada waktu yang abnormal akan mengganggu metabolisme tubuh pada siang hari sehingga kadar lemak darah cenderung meningkat. Hal ini akan meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Sehingga seseorang yang mengalami perubahan pola tidur akan lebih rentan terhadap berbagai penyakit kardiovaskuler.

4. Diabetes mellitus

Waktu tidur yang abnormal akibat perubahan pola tidur, khususnya pada akhir pekan, juga dapat meningkatkan kadar gula darah. Komponen penyeimbang kadar gula darah juga lebih sedikit dihasilkan oleh tubuh apabila seseorang tidur pada waktu siang hingga sore hari. Penelitian oleh Yu dan kolega juga menunjukan individu perubahan pola tidur menyebabkan risiko terjadinya diabetes mellitus meningkat sekitar 1,7 kali lebih tinggi bahkan pada kelompok laki-laki meningkatkan risiko sekitar 3 kali lipat untuk mengalami gejala diabetes.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Bedanya Eksim Basah dan Eksim Kering?

Eksim adalah kondisi peradangan kulit yang membuat kulit gatal, memerah, dan pecah-pecah. Lantas, apa bedanya eksim kering dan eksim basah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

6 Tanda Bahwa Anda Kurang Tidur

Mengantuk bukan satu-satunya tanda kurang tidur. Tubuh Anda juga terkadang menunjukkan gejala lain yang mengisyaratkan Anda perlu tidur lebih lama.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Penyebab Telinga Gatal dan Cara Mengobatinya

Jika telinga Anda gatal, jangan digaruk atau dicungkil dengan jari. Ketahui dulu, penyebab telinga gatal, baru Anda akan tahu bagaimana cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 7 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Efek Samping Aromaterapi yang Harus Diwaspadai

Terlepas manfaatnya bagi tubuh, romaterapi ternyata menyimpan efek buruk yang dapat merugikan kesehatan. Simak efek samping aromaterapi berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alergi bawang putih

Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
apa itu intuisi

Dari Mana Datangnya Intuisi? Dan Kenapa Harus Kita Turuti?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
bra kawat

Mana yang Lebih Sehat Buat Payudara: Bra Biasa Atau Berkawat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
makanan untuk yang kurang tidur

Berbagai Makanan yang Perlu Dikonsumsi Jika Anda Kurang Tidur

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit