Tak Cukup Hanya Diperban, Ini 4 Tanda Luka Perlu Dijahit

Tak Cukup Hanya Diperban, Ini 4 Tanda Luka Perlu Dijahit

Luka kecil umumnya hanya perlu diperban atau bahkan bisa sembuh sendiri tanpa diberikan obat apa pun. Namun, Anda harus tahu apakah luka yang Anda miliki benar-benar tidak perlu dijahit?

Pasalnya, beberapa luka yang dikira kecil ternyata perlu dijahit agar cepat sembuh serta untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Nah, supaya tahu seperti apa luka yang harus dijahit, simak penjelasan berikut.

Kenapa luka harus dijahit?

Menjahit luka bertujuan untuk menutup robekan kulit, sehingga dapat menghentikan perdarahan, mempercepat penyembuhan, mengurangi jaringan parut, serta mengurangi risiko infeksi pada luka.

Sebaliknya, jika luka robek tidak dijahit, ada beberapa risiko kesehatan yang mungkin terjadi, seperti luka lama sembuh, bekas luka yang besar dan mengganggu penampilan, infeksi pada luka, hingga tetanus.

Jahitan luka sendiri menggunakan benang yang terbuat dari berbagai material khusus seperti nilon atau sutra. Namun, jahitan tidak selalu dibutuhkan setiap Anda terluka.

Kapan luka perlu dijahit?

luka yang harus dijahit

Purva Gover, MD dari Cleveland Children’s Pediatric Emergency Departments mengatakan bahwa terkadang sulit untuk menentukan apakah luka harus dijahit atau tidak.

Namun, ia menganjurkan untuk setiap orang, khususnya para orangtua, untuk mengetahui tanda-tanda luka yang memerlukan jahitan agar bisa memberikan pertolongan pertama dasar yang tepat pada anak.

Inilah beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan apakah luka harus dijahit atau tidak.

1. Ukuran luka

Seberapa besar luka yang terlihat menjadi pertimbangan utama apakah dibutuhkan jahitan untuk menutupnya atau tidak.

Perhatikanlah kedalaman dan lebar dari luka Anda. Jika luka lebih lebar atau memiliki kedalaman lebih dari 1,2 cm, maka luka itu harus dijahit.

Begitupun jika terdapat serpihan gelas atau benda tajam lainnya yang tersangkut pada luka. Apabila luka sampai menampakkan jaringan bawah kulit, otot, atau tulang, Anda perlu segera pergi ke rumah sakit.

2. Perdarahan

Anda juga bisa menentukan apakah harus jahit luka atau tidak dengan melihat seberapa banyak darah yang keluar.

Darah yang terus mengalir dan tidak berhenti meskipun telah ditekan dalam 10 menit menandakan bahwa luka perlu dijahit untuk menghentikan perdarahan.

Saat mengalami kondisi ini, segera cari bantuan medis sebelum Anda kehabisan banyak darah.

3. Lokasi terdapatnya luka

Perlu atau tidaknya luka dijahit juga bergantung bagian tubuh mana yang terluka. Luka yang berada di pertemuan dua sendi, terutama jika luka terjadi ketika Anda menggerakan sendi tersebut, membutuhkan jahitan.

Penutupan luka dengan jahitan perlu dilakukan karena terdapat kemungkinan terjadinya kerusakan pada ligamen dan tendon.

Anda juga sebaiknya memperhatikan dengan lebih baik untuk luka-luka yang terjadi di sekitar kemaluan dan wajah, terutama kelopak mata karena berpotensi mengganggu fungsi dari bagian tubuh tersebut.

4. Penyebab terjadinya luka

Beberapa jenis luka bahkan tidak hanya diperlukan jahitan. Penyebab terjadinya luka menentukan seperti apa perawatan yang perlu dilakukan.

Misalnya pada luka-luka yang disebabkan oleh gigitan binatang atau benda tajam berkarat.

Pada luka-luka seperti ini, risiko terjadinya infeksi lebih besar, termasuk infeksi virus rabies. Suntikan tetanus booster atau antibiotik dibutuhkan untuk menyembuhkannya.

Pertolongan pertama saat terluka

  1. Tekan bagian tubuh yang mengalami pendarahan dengan menggunakan kain atau kapas bersih selama 5 sampai 10 menit.
  2. Ketika perdarahan berhenti, bersihkanlah luka menggunakan air dengan hati-hati tanpa perlu menggosoknya.
  3. Terakhir, balutlah bagian luka dengan perban. Jika perdarahan tidak juga berhenti, Anda sebaiknya segera pergi ke rumah sakit.

Bagaimana cara menjahit luka?

luka robek tidak dijahit

Saat Anda memiliki salah satu atau lebih dari tanda-tanda luka perlu dijahit di atas, sebaiknya segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan luka yang tepat.

Dokter dapat memberikan jahitan untuk menutup luka, sehingga dapat mengurangi risiko-risiko infeksi seperti yang disebutkan di atas.

Untuk menutup luka dengan jahitan, dokter umumnya akan melakukan langkah-langkah berikut ini.

  • Membersihkan luka dan kulit di sekitarnya dari kotoran yang mungkin menempel.
  • Mengoleskan larutan antiseptik ke area luka dan kulit di sekitarnya.
  • Merapatkan area kulit yang akan dijahit.
  • Merencanakan masuk dan keluarnya jahitan di kedua sisi luka.
  • Memulai menjahit area luka dengan menusukkan jarum ke kulit. Jahitan yang ditempatkan harus tegak lurus melintasi luka dengan kedalaman dan jarak yang sama dari tepi luka.
  • Luka yang sudah ditutup dengan jahitan dibersihkan dan dikeringkan.
  • Mengoleskan salep untuk luka, seperti neosporin, di atas area yang dijahit, kemudian tutup dengan perban.

Perban luka yang digunakan umumnya bertahan selama 24—48 jam. Setelah itu, perban harus diganti dengan cara melepas perban, membersihkan luka yang dijahit, mengoleskan salep, kemudian kembali tutup dengan perban.

Bila dokter Anda menggunakan benang jahit yang tidak dapat diserap kulit, benang jahit luka harus dilepas pada waktu yang ditentukan.

Namun, jika dokter menggunakan benang jahit yang diserap, jahitan luka ini tidak perlu dilepas.

Jenis benang jahit luka yang Anda gunakan tergantung dari kebutuhan dan kondisi luka Anda. Tanyakan lebih lanjut pada dokter untuk informasi lebih lanjut mengenai hal ini.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 6 hari lalu

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan