Ciri-Ciri Keputihan yang Menandakan Infeksi Vagina

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18/03/2019
Bagikan sekarang

Keputihan sering dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan perlu “dihilangkan”. Padahal, cairan dari vagina ini adalah bagian normal dari sistem reproduksi wanita.  

Cairan keputihan berasal dari kelenjar di leher rahim dan dinding vagina, yang membawa sel-sel mati dan bakteri keluar dari tubuh kita. Oleh karena itu, keputihan justru membantu menjaga vagian tetap bersih dan mencegah terjadinya infeksi.

Seperti apa keputihan yang dianggap normal?

Beberapa wanita hanya mengalami keputihan sesekali saja, namun ada juga yang mengalaminya cukup sering. Ada wanita yang hanya mengeluarkan sedikit saja keputihan, tapi ada juga yang volumenya lebih banyak.

Cairan keputihan biasanya akan cenderung lebih banyak saat Anda sedang ovulasi, menyusui, terangsang secara seksual, menggunakan pil KB, atau saat Anda sedang stress.

Selain volume cairan, yang juga berbeda-beda pada setiap wanita adalah aroma, warna, dan tekstur keputihan. Ada yang cair, ada yang lengket, ada yang elastis, dan ada pula yang kental. Namun, cairan keputihan yang normal biasanya berwarna jernih (transparan) atau putih.

Seperti apa keputihan yang tidak normal?

Secara umum, jika cairan keputihan Anda tiba-tiba berubah dan aroma atau teksturnya tak lagi seperti biasanya, ini menandakan kemungkinan masalah pada kesehatan vagina Anda.

Berbeda penyakitnya, berbeda pula ciri-ciri keputihan yang menjadi gejalanya. Selengkapnya, silakan simak penjelasannya berikut ini.

Keputihan akibat infeksi jamur vagina

Gejala berikut ini bisa menandakan bahwa keputihan Anda disebabkan oleh infeksi vagina, misalnya akibat jamur:

  • Tekstur keputihan menjadi lebih kental, berbusa, atau menggumpal seperti keju cottage
  • Keputihan berwarna putih terang
  • Keputihan disertai rasa gatal atau panas pada vagina
Keju cottage. (Sumber: https://www.livestrong.com/article/473534-benefits-of-cottage-cheese/)

Keputihan akibat bacterial vaginosis (infeksi bakteri vagina)

Bacterial vaginosis adalah infeksi bakteri yang paling umum terjadi pada vagina, yang ditandai dengan:

  • Keputihan berbau amis
  • Keputihan berwarna putih semi abu-abu

Keputihan akibat trikomoniasis

Trikomoniasis adalah penyakit kelamin yang cukup umum terjadi pada wanita, dan bisa ditandai dengan ciri keputihan berikut ini:

  • Keputihan berbau busuk
  • Keputihan bisa menjadi kental atau berbusa
  • Warna keputihan berubah menjadi kuning kehijauan
  • Disertai dengan rasa gatal pada vagina dan nyeri saat buang air kecil

Keputihan akibat gonore dan klamidia

Dua penyakit kelamin ini juga bisa menyebabkan keputihan berubah warna, peningkatan volume cairan keputihan, atau aroma keputihan yang berbau tak sedap. Namun, gonore dan klamidia juga sering kali tidak menunjukkan gejala apa-apa sehingga keberadaannya baru terdeteksi setelah Anda menjalani tes.

Keputihan akibat kanker

Sebagian besar kanker tidak berpengaruh pada cairan keputihan. Bahkan kanker yang terjadi di area vagina dan sistem reproduksi wanita pun seringnya tidak akan menampakkan gejala apa-apa pada keputihan Anda.

Namun, kanker tuba falopi yang tergolong langka, biasanya ditandai dengan peningkatan volume keputihan yang teksturnya cair seperti air.

Sekali lagi, jenis kanker ini sangat langka, namun jika Anda menemukan perubahan pada cairan keputihan dari vagina, ada baiknya segera periksakan ke dokter untuk mendeteksi penyebabnya.

Ciri keputihan yang harus diperiksa dokter

Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala di bawah ini yang bisa menandakan infeksi pada vagina:

  • Ada perubahan mendadak pada volume, warna, aroma, dan tekstur cairan keputihan.
  • Keputihan Anda disertai rasa gatal, atau pembengkakan, atau kemerahan di area vagina.
  • Keputihan Anda berubah sejak Anda minum/menggunakan obat tertentu.
  • Keputihan Anda terjadi setelah Anda berhubungan seks tanpa kondom.
  • Keputihan Anda semakin parah atau tidak hilang-hilang setelah satu minggu.
  • Keputihan Anda disertai lenting, lecet, atau luka di area vagina.
  • Keputihan Anda disertai rasa panas atau nyeri saat buang air kecil.
  • Keputihan Anda disertai demam atau rasa nyeri di area perut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Perawatan Vagina Agar Tidak Mudah Lembap dan Berkeringat

Mengenakan celana dalam yang basah karena vagina lembap dan berkeringat tentu tidak nyaman. Lantas, bagaimana cara menghindarinya? Intip di sini!

Ditinjau secara medis oleh: Fajarina Nurin
Ditulis oleh: Fajarina Nurin

Bagian Vagina yang Boleh dan Tidak Boleh Dibersihkan

Saat membersihkan vagina, tidak semua bagiannya perlu Anda bersihkan. Berikut cara membersihkan vagina yang tepat agar kesehatannya tetap terjaga.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

3 Waktu yang Tepat untuk Membersihkan Vagina, Selain Setelah Buang Air

Psttt.. Tidak cukup membersihkan vagina setelah kencing dan BAB saja. Ini dia tiga waktu yang tepat untuk kapan saja harus membersihkan vagina.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Tidak Dianjurkan untuk Digunakan Setiap Hari, Kapan Sebaiknya Pakai Pantyliner?

Katanya, pantyliner tidak boleh digunakan rutin setiap hari karena menyimpan berbagai bahaya. Lantas, kapan waktu yang tepat pakai pantyliner?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Direkomendasikan untuk Anda

cara membuat disinfektan sederhana

Tips Mudah Membuat Disinfektan di Rumah

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
selain untuk mandi, banyak fungsi antiseptik cair yang bermanfaat untuk kesehatan

5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 12/05/2020
masker vagina

Apakah Masker Vagina Aman untuk Digunakan? Ini Jawabannya

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020
cairan antiseptik diffuser

Bahaya Menggunakan Cairan Antiseptik pada Diffuser

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17/04/2020