Berbagai Anggapan Keliru atau Mitos Seputar Sunscreen

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Banyaknya mitos yang berkembang soal sunscreen tentu membuat Anda harus memperkaya diri dengan pengetahuan tentang tabir surya alias sunscreen. Sebab, pengetahuan yang salah tentu akan membawa dampak tersendiri bagi Anda. Lantas, apa saja mitos-mitos tentang tabir surya yang masih berkembang? 

Berbagai mitos seputar sunscreen

Sunscreen atau tabir surya merupakan krim pelindung kulit dari sinar matahari, terutama paparan sinar UVA dan UVB. Keduanya berperan besar dalam menyumbangkan risiko kanker kulit dan masalah kulit lainnya. 

Mengutip Sapna Patel, M.D, seorang asisten dosen dari Melanoma Oncology, berikut adalah mitos seputar sunscreen yang sebaiknya tak lagi Anda percaya

1. Kulit gelap tidak perlu menggunakan sunscreen

Salah satu mitos sunscreen yang paling sering terdengar di masyarakat adalah orang berkulit gelap tidak perlu menggunakan tabir surya.

Hal tersebut karena kulit yang gelap mengandung lebih banyak melanin sehingga dapat mengurangi efek sinar ultraviolet sampai batas tertentu. 

Padahal, orang berkulit gelap juga harus menggunakan sunscreen karena kulitnya sama-sama tidak terlindungi dari sinar ultraviolet.

Bahkan, sebuah penelitian dalam Journal of American Academy of Dermatology menyatakan bahwa kelangsungan hidup orang kulit hitam yang memiliki kanker kulit lebih rendah, dibandingkan dengan orang kulit putih. Orang-orang tersebut termasuk ras Afrika-Amerika, Asia-Amerika, penduduk asli Amerika, dan kepulauan Pasifik. 

2. Sunscreen tahan air dan hanya perlu dipakai sekali

bahan kimia sunscreen

Kenyataannya, sunscreen atau sunblock yang tahan dan anti air juga tetap perlu dioleskan kembali pada kulit setelah Anda keluar dari kolam atau air. 

Meski berlabel tahan air, sunscreen ini hanya dapat melindungi kulit dari matahari dalam jangka waktu terbatas. Setiap kali terkena air, perlindungan sunscreen pada tubuh Anda juga akan semakin menipis. Itu sebabnya Anda dianjurkan untuk menggunakannya kembali setiap Anda keluar dari kolam atau setelah berolahraga. 

Selain itu, sebelum Anda menceburkan diri ke dalam kolam, biasakan untuk menunggu selama 10-15 menit setelah menggunakan sunscreen agar terserap dengan baik. 

3. Anda tak perlu berulang kali mengoleskan sunscreen dengan SPF di atas 50

sunscreen kimia dan mineral

Banyak orang mengira, semakin tinggi SPF sebuah sunscreen, makin lama pula perlindungan kulit yang mereka miliki. Mitos ini membuat mereka hanya menggunakan sunscreen satu kali saja dalam sehari. 

Faktanya, angka SPF yang tertera pada kemasan sunscreen hanya menunjukkan seberapa banyak perlindungan yang diberikan, bukan durasi lamanya.

Walaupun sunscreen Anda memiliki SPF yang sangat tinggi, lama-kelamaan tetap akan memudar fungsinya dalam jangka waktu 2-4 jam. Itu sebabnya Anda dianjurkan untuk memakai sunscreen setiap 2-4 jam sekali untuk memaksimalkan perlindungan kulit Anda. 

4. Tidak perlu pakai sunscreen ketika cuaca berawan

pakai sunscreen

Mitos sunscreen lainnya adalah, katanya, Anda tidak perlu pakai sunscreen saat cuaca berawan atau berangin. Saat berawan, matahari tidak seterik biasanya. Inilah yang membuat mitos ini terus berkembang.

Padahal, Anda masih berisiko terkena paparan sinar UV karena cahaya tersebut tidak terpengaruhi oleh cuaca. 

Bahkan, cuaca berawan pada musim panas mempunyai kadar UV yang sama ketika cuaca sedang cerah. Jika Anda tidak menggunakan sunscreen pada saat cuaca tersebut, kemungkinan besar wajah Anda akan memerah karena terbakar matahari.

5. Sunscreen membuat kulit kekurangan vitamin D

pakai sunscreen di rumah

Salah satu sumber vitamin D yang diperlukan manusia dan mudah untuk didapatkan adalah sinar matahari. Akan tetapi, ketika Anda menggunakan sunscreen, kulit jadi lebih sulit mendapatkan nutrisi tersebut, sehingga Anda berisiko kekurangan vitamin D. 

Teori itulah yang semakin “membenarkan” mitos sunscreen yang satu ini, sehingga orang-orang cenderung tidak memakai sunscreen karena takut kekurangan vitamin D.

Padahal, terpapar sinar matahari dalam waktu yang lama hanya menambah risiko kanker kulit, bukannya memperoleh vitamin D. 

Terlebih lagi, sinar matahari dapat menembus pakaian dan sunscreen akan hilang fungsinya seiring dengan berjalannya waktu. 

Maka itu, banyak ahli dermatologi yang menyarankan untuk menghabiskan waktu di bawah sinar matahari selama 5-30 menit dalam sehari untuk mendapatkan vitamin D yang cukup. 

6. Semua jenis sunscreen sama

sunscreen untuk kulit kepala

Mitos bahwa semua jenis sunscreen itu sama tidak jarang membuat orang-orang terkecoh dan membuat mereka tidak mendapatkan perlindungan yang maksimal. Faktanya, terdapat berbagai macam sunscreen yang dibedakan berdasarkan bahan dan SPF-nya.  

Bahan-bahan aktif pada sunscreen seperti titanium dioksida atau seng oksida digunakan untuk menyaring sinar UV. Selain itu, sangat dianjurkan untuk menggunakan sunscreen dengan SPF lebih dari 15 bahkan pada cuaca berawan untuk melindungi Anda dari efek buruk sinar matahari. 

Nah, kini Anda telah tahu bahwa berbagai anggapan di atas hanyalah mitos soal sunscreen yang tidak terbukti kebenarannya. Gunakanlah sunscreen ketika Anda harus beraktivitas di luar rumah agar mendapatkan perlindungan yang maksimal. Jangan lupa untuk selalu membaca petunjuk pemakaian karena setiap sunscreen memiliki arahan yang berbeda. 

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca