Emotional Eating: Saat Emosi Memengaruhi Nafsu Makan Anda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda merasa sedih atau marah dan kemudian Anda mencari makanan enak? Hati-hati, Anda mungkin sedang mengalami emotional eating. Pada saat itu, makanan mungkin bisa menenangkan pikiran Anda dan melepaskan stres Anda sejenak. Makan saat emosi bisa membuat jumlah makanan yang Anda makan tidak terkontrol dan menyebabkan kenaikan berat badan.

Apa itu emotional eating?

Emotional eating atau makan emosional adalah ketika Anda menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi emosi Anda, bukan makan karena Anda lapar. Saat Anda sedang marah, sedih, stres, dan lainnya, beberapa dari Anda mungkin mencari makanan untuk menenangkan emosi Anda. Makanan biasanya dijadikan sebagai pengalih perhatian. Pada saat ini, Anda memilih untuk makan saja agar Anda mendapatkan kenyamanan dibandingkan dengan memikirkan masalah Anda atau kondisi yang menyakiti Anda.

Pada saat stres, tubuh mengalami peningkatan hormon kortisol sebagai respon dari stres. Saat ini, Anda juga mengalami peningkatan nafsu makan sebagai upaya tubuh dalam menyediakan energi yang dibutuhkan untuk merespon stres. Pada akhirnya, Anda akan mencari makanan untuk memberi kenyamanan pada Anda.

Emotional eating biasanya dihubungkan dengan perasaan negatif, seperti saat Anda sedang merasa kesepian, sedih, gelisah, takut, marah, bosan, atau stres. Emosi ini biasanya menyebabkan Anda untuk makan lebih banyak tanpa berpikir makanan apa saja dan sudah berapa banyak Anda makan. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus, tidak menutup kemungkinan emotional eating dapat memengaruhi berat badan, kesehatan, dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan.

Emotional eating bisa menyebabkan kenaikan berat badan

Orang yang cenderung menghubungkan makanan dengan kenyamanan  dan bukan karena alasan lapar biasanya lebih rentan mengalami emotional eating. Sadar atau tidak sadar, biasanya Anda makan saat sedang menghadapi masalah sulit, sedang stres, atau bosan. Saat emosi tersebut Anda rasakan, Anda bisa saja menghabiskan banyak makanan tanpa berpikir.

Makanan yang dikonsumsi saat emotional eating biasanya adalah yang  mengandung banyak kalori dan tinggi karbohidrat. Misalnya, es krim, biskuit, cokelat, makanan ringan, kentang goreng, pizza, hamburger, dan lainnya. Belum lagi, jika Anda sering menjadikan makanan sebagai pelarian untuk melepaskan stres, Anda mungkin bisa makan lebih dari tiga kali dalam sehari dengan jumlah yang besar. Hal inilah yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan, bahkan kegemukan jika berlangsung terus-menerus.

Emotional eating bisa terbentuk sejak kecil

Sebesar 40% individu cenderung makan lebih banyak saat stres, sementara sekitar 40% lainnya makan lebih sedikit, dan 20% sisanya tidak mengalami perubahan jumlah makanan saat mengalami stres.

Pola makan emosional ini dapat terbentuk secara tidak langsung sedari kecil. Misalnya, orangtua menawarkan Anda makan saat Anda sedang sedih, kesepian, atau sedang marah untuk menenangkan Anda dan membuat Anda merasa nyaman. Selain itu, orangtua yang sering menghadiahi makanan kesukaan Anda saat Anda berhasil mencapai sesuatu juga turut mendukung perilaku makan emosional. Oleh karena itu, jangan menjadikan makanan sebagai hadiah atau hukuman untuk anak Anda.

Apa bedanya dengan binge-eating?

Bedanya ada pada jumlah makanan yang dikonsumsi. Pada orang dengan emotional eating, mungkin ia bisa makan dalam jumlah sedang sampai besar dan ia memakannya dengan perasaan emosi. Sedangkan, orang dengan binge-eating bisa menghabiskan makanan dengan jumlah lebih besar.

Binge-eating juga memiliki episode berulang untuk makan. Selain itu, mereka juga makan lebih cepat, menyembunyikan jumlah makanan yang mereka makan karena merasa malu, dan merasa bersalah setelah melakukan binge-eating.

Bagaimana cara mengatasi emotional eating?

Karena dampak dari emotional eating bisa membuat kesehatan Anda menjadi buruk. Sebaiknya, atasi emotional eating dengan cara ini:

Sebelum Anda mulai makan, sebaiknya tanyakan pada diri sendiri apakah Anda makan karena benar-benar merasa lapar. Biasanya, jika Anda merasa benar-benar lapar, Anda akan merasakan tanda-tanda, seperti perut terasa “keroncongan”, sulit untuk berkonsentrasi, dan mudah marah. Jika Anda tidak merasa benar-benar lapar, mungkin Anda bisa menunda waktu makan Anda nanti.

  • Buat catatan

Anda bisa mengurangi kebiasaan emotional eating Anda dengan cara membuat catatan makan. Dalam catatan tersebut, Anda bisa menuliskan makanan apa saja yang Anda makan, suasana hati Anda saat Anda makan, apakah Anda benar-benar lapar pada saat itu, dan pada jam berapa Anda makan. Anda bisa mempelajari catatan Anda tersebut. Jika ditemukan waktu ketika Anda makan berlebihan saat perasaan Anda sedang emosi, maka di lain waktu Anda bisa lebih menghindarinya. Anda bisa melepaskan emosi Anda terlebih dahulu sebelum makan, bisa dengan berjalan kaki atau melakukan aktivitas kesukaan Anda, cara ini lebih sehat.

  • Temukan aktivitas lain sebagai pelarian dari emosi Anda

Jika Anda emosi dan ingin makan, sebaiknya segera temukan aktivitas lain yang dapat menenangkan Anda, seperti mendengarkan musik, menulis, membaca, memainkan alat musik, melukis, olahraga, dan lainnya. Hal ini dapat membuat Anda cenderung tidak melihat makanan sebagai kepuasan emosional. Dengan begitu, kebiasaan emotional eating Anda lama-lama akan berkurang.

 

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Apa Dampaknya Bila Orangtua Sering Membentak Anak?

    Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Parenting, Tips Parenting 22 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Ini Dia Alasan Karakter Fiksi Terasa Nyata bagi Para Penikmatnya

    Karakter dalam sebuah kisah fiksi seringkali mempengaruhi psikologis dengan membuat penonton ikut menangis, marah, dan sedih. Bagaimana ini terjadi?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Hidup Sehat, Psikologi 7 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Anak Penyandang Autisme Lebih Riskan Mengalami Gangguan Makan, Ini Faktanya

    Masalah makan kerap dialami oleh anak, terutama anak penyandang autisme. Bahkan, anak penyandang autisme disebut lebih berisiko mengalami gangguan makan.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Kesehatan Anak, Parenting 6 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    anak tidak nafsu makan

    Kenapa Anak Saya Sekarang Jadi Tidak Nafsu Makan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    gangguan atau penyimpangan makan pada remaja

    Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit
    ketagihan mie instan

    Ketagihan Mie Instan? Ini 6 Trik Jitu Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 28 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
    drunkorexia

    Drunkorexia, Fenomena Rela Tak Makan Demi Minum Alkohol

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 4 Juli 2020 . Waktu baca 6 menit