Apa yang Terjadi Pada Tubuh Jika Kita Tidak Makan Gula Sama Sekali?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Siapa yang tidak suka menambahkan gula pada makanan dan minuman? Entah itu gula pasir, gula merah, atau gula bentuk lainnya seperti sirup atau madu. Namun, dampak kesehatan yang diakibatkan dari konsumsi gula berlebihan tidak semanis rasanya. Itu kenapa tidak sedikit orang yang memutuskan untuk setop makan pemanis ini demi menghindari efek buruknya. Pernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi pada tubuh jika tidak makan gula sama sekali?

Kenali fungsi gula untuk tubuh

Gula tidak selamanya buruk. Gula itu sendiri bisa didapat dari dua sumber, yaitu pemanis yang ditambahkan sendiri dan gula dari karbohidrat yang terkandung dalam makanan. Misalnya dari nasi, gandum, singkong, roti, hingga buah-buahan dan sayuran. Mana pun itu, tubuh manusia tetap membutuhkan asupan gula agar bisa tetap berfungsi baik.

Supaya lebih paham, berikut beberapa fungsi utama asupan gula bagi tubuh:

1. Sumber energi

Olahraga untuk Kanker Usus Besar

Setiap aktivitas sehari-hari Anda juga fungsi organ dalam tubuh membutuhkan energi. Nah, sebagian besar energi tubuh didapatkan dari asupan gula. Secara garis besar, gula dari makanan dan minuman yang masuk ke perut akan diolah menjadi glukosa dan dialirkan ke dalam darah.

Setiap sel akan mengolah glukosa yang diterimanya lewat proses glikolisis untuk dijadikan asam piruvat dan asam laktat. Selanjutnya, dua senyawa ini akan diolah lebih lanjut menjadi adenosin trifosfat (ATP). ATP inilah yang menjadi sumber energi utama untuk menunjang semua kegiatan tubuh dan setiap organ dalamnya.

Di waktu yang bersamaan, sisa glukosa yang tidak diolah menjadi energi akan disimpan sebagai glikogen di dalam otot dan hati (liver). Ketika sumber energi utama sudah habis, simpanan glikogen tersebut akan dipakai sebagai cadangan energi.

Tujuannya tentu agar Anda tidak sampai benar-benar kehabisan tenaga saat melakukan aktivitas fisik intens yang menguras cukup banyak energi.  Ambil contoh saat Anda olahraga, di sinilah kadang glikogen banyak digunakan.

2. Menghemat cadangan protein

jaringan otot

Ketika Anda sudah tidak lagi memiliki sisa cadangan glukosa, tubuh akan mulai mengurai protein untuk dipakai sebagai energi. Padahal, protein memiliki berbagai fungsi penting di antaranya sebagai pembangun otot, massa otot, serta mempercepat penyembuhan luka.

Setelah berhasil, sumber energi yang berasal dari pemecahan protein tersebut akan disalurkan ke berbagai jaringan dan sel-sel tubuh. Namun, jika tubuh memakai protein sebagai pengganti energi mau tidak mau Anda akan sulit fokus dan berkonsentrasi, juga gampang sakit. Kekurangan protein juga dapat menyebabkan penurunan massa otot serius.

Di sinilah peran asupan pemanis untuk membantu tubuh dalam menghemat persediaan protein.

Asupan gula yang aman dalam sehari

mitos tentang gula

Tubuh membutuhkan asupan gula agar tetap sehat. Hanya saja takaran sehari-harinya perlu dibatasi. Dalam arti, asupan pemanis tambahan tidak boleh berlebihan dan juga tidak kekurangan. Ingat, sumber gula juga Anda dapatkan dari makanan berkarbohidrat seperti buah-buahan dan makanan pokok.

Kebanyakan makan gula tentunya akan mengganggu kerja organ-organ dalam tubuh. Bahkan, bisa berujung pada munculnya berbagai komplikasi kesehatan serius. Mulai dari kerusakan fungsi hati, penyakit jantung, ganggguan metabolik, resistensi insulin, hingga obesitas.

Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 telah menjabarkan informasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak dalam olahan makanan. Menurut peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI ini, Anda disarankan untuk membatasi asupan gula tambahan maksimal sebanyak 50 gram.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5-9 sendok teh gula setiap harinya. Baik yang didapat dari makanan maupun minuman. Akan tetapi, jumlah tersebut mungkin saja berbeda bagi Anda yang punya kondisi kesehatan tertentu.

Terlalu sedikit makan gula bisa berakibat hipoglikemia

hipoglikemia adalah

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar glukosa di dalam Anda berada di bawah batas normal atau sangat rendah. Kondisi ini terjadi ketika hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas terlalu banyak atau asupan karbohidrat yang menurun sehingga kadar glukosa yang ada di dalam darah sangat sedikit.

Seseorang dikatakan mengalami hipoglikemia jika kadar glukosa darahnya kurang dari 70 miligram per desiliter (mg/dL), atau 3,9 milimol per liter (mmol/L). Kondisi glukosa darah yang rendah ini sebagian besar terjadi pada para diabetesi (orang yang menderita diabetes).

Alasannya karena para diabetesi rutin mengonsumsi obat-obatan yang membantu menurunkan kadar glukosa darah, atau menggunakan insulin buatan. Insulin dan obat-obatan diabetes tersebut memang berguna untuk menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi.

Hanya saja, teralu banyak menggunakan insulin dan obat-obatan tersebut justru bisa membuat kadar glukosa darah Anda turun drastis hingga di bawah normal. Meski kerap menyerang orang dengan diabetes, kondisi hipoglikemia ini juga tidak menutup kemungkinan bisa juga dialami oleh orang yang tidak memiliki diabetes.

Ada dua jenis hipoglikemia pada orang non diabetes, yakni hipoglikemia reaktif dan puasa. Hipoglikemia reaktif bisanya muncul dalam kurun waktu beberapa jam setelah makan. Sebaliknya, hipoglikemia puasa sama sekali tidak berkaitan dengan makanan.

Hipoglikemia jenis ini lebih disebabkan oleh suatu penyakit, seperti hepatitis, gangguan pada kelenjar adrenal atau hipofisis, gangguan ginjal, hingga tumor pankreas. Bukan hanya itu, konsumsi alkohol yang berlebihan dan penggunaan obat-obatan tertentu bisa membawa Anda pada merosotnya kadar glukosa darah dalam tubuh.

Jika hipoglikemia terjadi pada orang yang sebelumnya tidak memiliki tanda dan gejala diabetes, jangan tunda untuk segera mengonsultasikan pada dokter. Sebab tidak menutup kemungkinan, kondisi ini bisa mengakibatkan masalah kesehatan yang serius.

Apa yang terjadi jika tidak makan gula sama sekali?

berhenti makan gula

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, karbohidrat di dalam tubuh akan diubah menjadi glukosa yang selanjutnya digunakan sebagai energi. Itu sebabnya, ketika Anda tidak sama sekali makan karbohidrat, maka tubuh tidak mendapatkan glukosa yang kemudian akan berujung pada kekurangan produksi energi.

Padahal, asupan karbohidrat ini sangat berpengaruh terhadap fungsi normal tubuh, terutama kerja otak. Pasalnya, kerja otak yang merupakan sumber sistem saraf pusat tubuh, sangat mengandalkan ketersediaan glukosa di dalam darah. Singkatnya, glukosa merupakan satu-satunya “bahan bakar” yang mampu mendukung otak agar dapat bekerja secara optimal.

Otak manusia tidak memiliki tempat penyimpanan glukosa sendiri, sehingga semua suplai glukosa tergantung pengiriman dari aliran darah tubuh Anda. Sel-sel di otak termasuk salah satu bagian yang memerlukan sumber energi lebih banyak daripada sel-sel lainnya dalam tubuh. Itu sebabnya, kebutuhan glukosa pada otak cenderung lebih besar.

Ketika kebutuhan karbohidrat dalam tubuh tidak bisa terpenuhi dengan baik, maka akan memengaruhi kadar glukosa dalam darah berada hingga di bawah rentang normal. Hal ini bisa mengakibatkan otak kehilangan sumber energinya, yang tentunya juga memengaruhi kerja organ-organ tubuh yang lain.

Namun ingat, pemenuhan kebutuhan karbohidrat ini tidak melulu berasal dari gula pemanis tambahan yang Anda tambahkan ke dalam makanan atau minuman Anda. Sumber karbohidrat utamanya berasal dari makanan pokok, dan dapat Anda tambahkan melalui konsumsi buah dan sayur.

Tidak makan gula mengganggu sistem saraf pusat

gula darah setelah makan

Lebih buruknya lagi, keputusan untuk tidak makan gula sama sekali juga secara otomatis akan menimbulkan beragam masalah pada sistem saraf pusat Anda. Biasanya, Anda akan cenderung merasa lemas, lelah, pusing, atau terlihat pucat.

Selain itu, Anda mungkin juga merasakan munculnya tanda-tanda stres seperti sering merasa gelisah, gugup, tidak nyaman, dan mudah marah. Menolak untuk makan sumber pemanis juga bisa membuat tidur malam Anda terganggu.

Mimpi buruk, menangis saat tidur, insomnia, maupun gangguan tidur lainnya, bisa menjadi kondisi “langganan” Anda yang datang silih berganti setiap malam. Beberapa orang kerap mengeluhkan jadi mudah berkeringat, sulitnya koordinasi anggota tubuh, atau mati rasa pada mulut.

Akibatnya, aktivitas sehari-hari pun kerap terganggu dan terhambat. Bahkan dalam kondisi yang lebih parah bisa menyebabkan pandangan terlihat kabur, gemetar, sulit untuk berkonsentrasi, hilang kesadaran, kejang, dan koma. Itu sebabnya, kondisi ini tidak bisa dibiarkan bertahan terlalu lama dan harus segera diobati sebelum berakibat fatal.

Tips konsumsi gula yang aman

zat aditif pada makanan

Setelah mempertimbangan baik dan buruknya makan gula, sebenarnya sah-sah saja untuk mengonsumsi pemanis ini. Dengan catatan, Anda bisa membatasi porsi asupannya supaya masih berada dalam batas normal. Berikut beberapa hal yang biasa dipertimbangkan sebelum makan gula:

1. Makan sumber gula yang mudah dicerna

Ingat, gula tak hanya didapat dari gula pasir. Sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, kacang-kacangan, serta umbi-umbian juga mengandung karbohidrat yang dapat dicerna menjadi gula.

Bahkan, sumber kabohidrat ini lebih bermanfaat dibanding gula pasir karena kandungan seratnya memungkinkan penyerapan gula oleh tubuh dilakukan secara perlahan-lahan. Hasilnya, Anda akan merasa bertenaga lebih lama dibandingkan hanya mengonsumsi makanan manis tinggi gula.

2. Makan makanan dalam bentuk utuh

Alangkah lebih baiknya untuk makan makanan dalam bentuk utuh atau asli ketimbang menambahkan sejumlah gula ke dalam olahan makanan atau minuman Anda. Dalam makanan, khususnya buah-buahan, biasanya sudah dilengkapi dengan gula sebagai pemberi rasa manis alami.

Dengan cara inilah Anda bisa memperoleh asupan glukosa untuk tubuh tanpa harus memasukkan gula terlalu banyak lagi ke dalam sajian harian.

3. Gunakan pemanis rendah kalori

Selain itu, Anda juga bisa mengurangi risiko diabetes akibat mengonsumsi terlalu banyak gula. Namun tentu saja tak sedikit dari Anda yang belum mampu beralih dari minuman manis. Oleh karena itu, Anda dapat menggunakan pemanis rendah kalori untuk memaniskan makanan dan minuman Anda.

Cara ini setidaknya membuat Anda dapat tetap menikmati rasa manis tanpa khawatir kelebihan asupan gula, yang tentunya berpotensi bahaya bagi kesehatan Anda.

4. Selalu cek label komposisi gizi pada kemasan makanan dan minuman

Jangan terkecoh dengan nama “gula” yang umumnya memang tertulis jelas di label komposisi gizi suatu produk. Ambil contohnya seperti sukrosa, karamel, sirup maple, dextrin, dekstrosa, maltose, fruktosa, galaktosa, sorghum, dan lain sebagainya.

Memang, tidak tertera tulisan “gula” di antara beberapa nama-nama tersebut. Akan tetapi, nama-nama tersebut merupakan nama lain atau nama samaran dari pemanis yang kerap hadir melengkapi produk makanan maupun minuman.

Mudahnya, perhatikan kandungan bahan yang diletakkan di awal urutan daftar komposisi. Sebab biasanya, semakin tinggi kandungan bahan yang ada di dalam produk tersebut, semakin awal pula letaknya pada daftar komposisi bahan.

Di samping itu, cari tahu juga apakah tulisan “gula” maupun nama samaran lainnya tertulis di dalam daftar tersebut. Usahakan untuk jangan sampai terkecoh sehingga menganggap produk tersebut bebas pemanis, padahal memiliki kandungan pemanis yang cukup tinggi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Itu Gula Alkohol dan Betulkah Lebih Sehat dari Gula Biasa?

Gula alkohol adalah alternatif gula yang bisa memberikan rasa manis tapi kalorinya rendah. Lalu apakah gula alkohol memang lebih baik dari gula biasa?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Fakta Unik 16 Juni 2018 . Waktu baca 6 menit

5 Resep Olahan Makanan Mentah yang Sehat dan Aman Bagi Pencernaan

Sering merasa lapar namun takut berat badan melonjak naik? Tak perlu khawatir, Anda bisa coba beberapa resep olahan makanan mentah berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 7 Juni 2018 . Waktu baca 6 menit

Tes yang Dilakukan Dokter untuk Mendiagnosis Diabetes Gestasional Ibu Hamil

Saat mendapat diagnosis diabetes gestasional, ibu hamil perlu memonitor dan mengendalikan kadar gula dalam darah untuk mencegah komplikasi.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Diabetes, Health Centers 3 Juni 2018 . Waktu baca 6 menit

Apa Itu Gula Fruktosa? Benarkah Berbahaya Bagi Kesehatan?

Mungkin Anda pernah dengar bahwa gula fruktosa itu berbahaya. Namun sebenarnya, apa itu fruktosa? Apakah benar berbahaya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Tips Sehat 30 Mei 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tips berhenti makan sebelum kenyang

3 Tips Jitu Supaya Bisa Berhenti Makan Sebelum Kenyang

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 16 November 2018 . Waktu baca 3 menit
nama lain gula

Mengenal “Nama Samaran” Gula yang Sering Ditulis di Label Kemasan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 11 November 2018 . Waktu baca 4 menit
gula rafinasi

Hati-hati, Ini 4 Masalah Kesehatan yang Bisa Muncul Akibat Gula Rafinasi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 4 November 2018 . Waktu baca 5 menit
kelebihan gula saat hamil makanan manis

Suka Makan Manis Saat Hamil? Hati-hati, Bisa Menyebabkan Gangguan Otak Pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 23 Juni 2018 . Waktu baca 4 menit