Ini Bahayanya Bagi Tubuh Kalau Kebanyakan Makan Junk Food (Bukan Hanya Kegemukan)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Ada banyak hal yang bisa memengaruhi metabolisme tubuh — mulai dari minuman yang Anda minum sampai makanan yang Anda lahap setiap hari. Memiliki metabolisme yang cepat berarti tubuh Anda membakar lebih banyak kalori. Kebalikannya, memiliki metabolisme tubuh yang lambat berarti tubuh Anda membakar lebih sedikit kalori sehingga membuat Anda lebih sulit untuk mempertahankan atau menurunkan berat badan. Salah satu faktor yang dapat memperlambat metabolisme tubuh adalah makanan berlemak tinggi, alias junk food.

Artikel ini membahas bagaimana makanan olahan bisa memperlambat metabolisme Anda.

Makanan berlemak tinggi membuat tubuh sulit membakar kalori

Junk food mengacu pada makanan olahan yang umumnya mengandung kalori tinggi dan karbohidrat olahan. Makanan berlemak tinggi juga termasuk kelompok junk food. Junk food pada umumnya memiliki sangat sedikit nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti protein dan serat.

Tubuh Anda perlu mengeluarkan energi untuk mencerna, menyerap, dan memetabolisme makanan yang Anda makan. Energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk mencerna dan mengolah junk food menjadi bahan bakar tubuh lebih sedikit daripada saat mencerna makanan utuh. Lebih sedikit energi yang dikeluarkan tubuh untuk mencerna makanan berarti lebih sedikit kalori yang terbakar sepanjang hari.

Terlebih lagi, makanan berlemak tinggi tidak semudah untuk dicerna seperti beberapa contoh makanan lain. Akibatnya metabolisme tubuh Anda jadi melambat dan mulai menyimpan kelebihan lemak untuk digunakan di masa depan. Pada akhirnya, metabolisme tubuh yang lambat malah membuat tubuh semakin banyak menimbun lemak.

Junk food menyebabkan tubuh mengalami resistensi insulin

Konsumsi junk food dan makanan berlemak tinggi lainnya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko resistensi insulin. Ini karena kebanyakan junk food diolah dengan minyak nabati dan lemak trans. Keduanya tinggi kandungan omega-6 yang bersifat memicu peradangan. Asupan berlebih dari omega-6 terkait dengan penambahan berat badan dan resistensi insulin.

Resistensi insulin adalah sebuah proses di mana tubuh kita mengubah terlalu banyak karbohidrat yang dikonsumsi menjadi lemak tubuh. Hal ini kemudian menyebabkan kadar gula darah meningkat tajam. Resistensi insulin merupakan faktor risiko utama dari sindrom metabolik, seperti obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke.

Junk food memicu lapar palsu

Makan junk food tentu tidak lengkap jika tidak ditemani dengan minuman manis yang dingin untuk menyegarkan tenggorokan. Tapi justru inilah yang justru menambah bahaya bagi metabolisme tubuh Anda.

Kebanyakan minuman manis kemasan mengandung sirup jagung yang tinggi fruktosa. Fruktosa adalah jenis gula sederhana yang dimetabolisme oleh hati. Fruktosa bisa memicu sinyal lapar palsu bahkan setelah makan jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Akibatnya Anda jadi makan lagi, lagi, dan lagi. Pada akhirnya hal ini kemudian menyebabkan hati menjadi kelebihan beban kerja sehingga justru mengubahnya menjadi lemak yang menumpuk di sekitar perut.

Makanan berlemak tinggi menyebabkan otot gagal membakar glukosa sebagai energi

Sebuah pola makan yang normal pada umumnya mengandung sekitar 30 persen lemak dalam sehari. Namun junk food dan makanan berlemak tinggi bisa menyediakan Anda hingga sekitar 55 persen kebutuhan lemak harian.

Ketika Anda makan junk food, apalagi dilakukan rutin hampir setiap hari, kemampuan otot untuk membakar glukosa sebagai energi bisa terganggu. Ini adalah efek samping dari junk food yang cukup berbahaya karena otot berperan penting untuk membilas kelebihan gula darah dari tubuh setelah makan.

Dalam keadaan normal, otot Anda akan memecah glukosa atau menyimpannya untuk digunakan nanti. Otot Anda membentuk sekitar 30 persen berat tubuh Anda. Jadi jika Anda kehilangan pemain kunci ini dalam fungsi metabolisme glukosa, ini bisa membuka jalan bagi gula darah untuk terus meningkat tajam setelah makan. Kondisi ini disebut hiperglikemia post-prandial.

Kenaikan gula darah yang tidak normal dapat menyebabkan metabolisme tubuh melambat, jaringan tubuh meradang (mirip ketika terserang infeksi), pembuluh darah menyempit, penumpukan zat radikal bebas yang berbahaya dalam tubuh, tekanan darah ikut melonjak, hingga produksi insulin yang merosot tajam sehingga membuat Anda cepat kelaparan lagi setelah makan. Dalam jangka panjang, kenaikan gula darah yang melebihi batas dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik, seperti diabetes tipe 2, obesitas, hingga serangan jantung.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca