Mengenal Implan Glaukoma, Pengobatan Termutakhir untuk Glaukoma

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 November 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu implan glaukoma?

Implan glaukoma, disebut juga sebagai alat drainase glaukoma, digunakan untuk menghambat atau bahkan menghentikan progres dari penyakit glaukoma. Usaha ini dilakukan agar kondisi pasien tidak berujung pada kebutaan. Implan glaukoma bekerja dengan cara mengeluarkan cairan bola mata. Dengan demikian, tekanan pada bola mata pun dapat berkurang.

Penyebab dari penyakit glaukoma sendiri adalah peningkatan tekanan pada bola mata. Tekanan bola mata (atau disebut juga tekanan intraokular) meningkat karena adanya penumpukan cairan di dalam mata. Penumpukan cairan mata ini kemudian menekan saraf sampai akhirnya menyebabkan kerusakan pada saraf penglihatan.

Meski tidak dapat disembuhkan, penyebab glaukoma masih bisa dikendalikan sehingga mengurangi risiko kebutaan permanen. Umumnya, kondisi ini ditangani dengan pemberian obat-obatan jika kondisinya belum parah.

Apabila berbagai pengobatan glaukoma tidak berhasil memperbaiki kondisi pasien, dokter umumnya akan menyarankan operasi. Selain laser dan trabekuletomi, operasi implan glaukoma kini menjadi salah satu alternatif yang ada untuk mengobati glaukoma.

Meski tak dapat memulihkan penglihatan pasien 100 persen, operasi implan glaukoma diklaim mampu mengembalikan penglihatan pasien hingga 80 persen.

Implan glaukoma memiliki bentuk, bahan, serta ukuran yang berbeda-beda. Saat ini, terdapat 2 jenis implan yang paling sering digunakan, yaitu implan berkatup (valved) dan tanpa katup (nonvalved).

Kapan saya perlu menjalani prosedur ini?

Prosedur ini tidak dapat dilakukan pada kasus glaukoma yang masih ringan. Implan ini ditujukan untuk pasien dengan kasus-kasus sulit, seperti kegagalan operasi trabekulektomi atau obat-obatan tidak mampu membantu secara maksimal.

Selain itu, kondisi glaukoma akibat tekanan darah tinggi, diabetes, dan operasi di bagian mata tertentu, seperti retina dan kornea, juga termasuk kasus yang bisa ditangani dengan implan.

Kasus lain di mana kondisi pasien sudah diduga akan mengalami gagal operasi sejak awal, merupakan kasus sulit lain yang hanya bisa ditangani dengan pemasangan implan. Umumnya, glaukoma yang terjadi akibat trauma pasca kecelakaan adalah kasus yang akan mengalami kegagalan operasi.

Proses

Apa yang harus saya lakukan sebelum menerima implan glaukoma?

Pemasangan implan glaukoma memang bisa memperbaiki penglihatan dengan amat baik. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang bisa melakukan prosedur ini.

Sebelum memutuskan apakah seorang pasien memerlukan implan atau tidak, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang dokter, antara lain:

1. Melihat kondisi pasien

Tidak semua pasien membutuhkan implan. Itu sebabnya, seorang dokter akan menentukan apakah pasien membutuhkan implan glaukoma atau tidak.

Pasien glaukoma bawaan lahir mungkin akan membutuhkan prosedur ini. Dokter akan terlebih dulu menyarankan pengobatan lain sebelum memutuskan menggunakan metode implan.

2. Uji klinis

Dokter harus melakukan tahapan ini untuk meningkatkan persentase keberhasilan operasi implan. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah kondisi konjungtiva pasien, apakah memungkinkan untuk diselipkan implan.

Apabila konjungtiva pada mata pasien glaukoma sudah rusak, pemasangan implan tidak bisa dilakukan.

3. Pemilihan implan

Bahan yang digunakan untuk implan bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Umumnya, bahan tertentu cenderung lebih murah dibandingkan bahan lainnya.

Selain itu, ukuran dan bentuk dari implan glaukoma pun bisa jadi berbeda-beda. Dokter harus dapat menentukan ukuran dan bentuk implan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Bagaimana proses pemasangan implan glaukoma?

Proses pemasangan implan biasanya akan dilakukan di rumah sakit dan memakan waktu sekitar satu jam. Berikut adalah proses yang akan Anda jalani.

  1. Dokter akan memberikan obat anestesi atau bius pada bagian mata dan sekitarnya, sehingga Anda tidak akan merasakan sakit selama pemasangan implan berlangsung.
  2. Dokter akan membuat sayatan kecil menyerupai kantung di bagian bawah konjungtiva. Pada kantung kecil inilah implan akan diselipkan.
  3. Selang kecil akan dipasangkan ke dalam bola mata melalui implan ini sehingga cairan yang menumpuk di bola mata akan keluar.
  4. Cairan bola mata akan dialirkan melalui selang kecil tersebut ke area mata yang berada di belakang implan. Cairan ini kemudian diserap kembali oleh tubuh sehingga mengurangi tekanan pada bola mata akibat adanya penumpukan cairan.
  5. Setelah pemasangan implan selesai, dokter akan memasangkan penutup mata yang harus Anda kenakan hingga keesokan harinya.

Apa yang harus saya lakukan setelah menjalani prosedur ini?

Dalam proses pemulihan setelah pemasangan implan, ada beberapa pantangan yang harus Anda hindari, seperti:

  • Jangan melakukan kegiatan berat untuk sementara waktu.
  • Akan lebih aman jika pasien tidak mengemudikan kendaraan setelah operasi implan.
  • Minumlah obat dengan teratur sesuai dengan anjuran dari dokter, sekalipun Anda telah memasang implan.
  • Hindari area yang penuh debu.
  • Apabila harus membersihkan rumah, bersihkan debu dengan vacuum cleaner.
  • Jangan mengucek mata. Bahkan saat pasien sedang tidak menjalani pengobatan atau operasi, mengucek mata bukanlah ide yang baik karena bisa menyebabkan infeksi.
  • Jangan berenang, hindari kontak dengan air pada tahap awal masa pemulihan pasca operasi.
  • Hindari penggunaan riasan mata.

Setelah mata pasien glaukoma dipasangi implan, bukan berarti pasien terbebas dari penggunaan obat glaukoma untuk mengatasi penyakit ini. Semua tetap tergantung pada kondisi pasien.

Ada beberapa kasus yang membutuhkan pengobatan tambahan. Namun, jika tekanan bola mata sudah teratasi dengan baik hanya dengan penggunaan implan, pasien tidak perlu mengonsumsi obat-obatan atau melakukan perawatan pendamping lain.

Meski terdapat beberapa pantangan, pemasangan implan glaukoma terbilang relatif aman. Anda pun tak perlu melakukan perawatan implan glaukoma secara khusus, selain memeriksa rutin ke dokter. Anda setidaknya perlu menjalani kontrol rutin setiap 3-4 bulan sekali.

Implan glaukoma bersifat permanen dan seumur hidup menempel di bola mata pasien. Pasien pun tidak perlu mengganti dengan implan yang baru atau melepasnya sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, perawatan alat implan harus dilakukan secara rutin untuk menjaga kondisi implan serta kesehatan mata pasien.

Efek Samping dan Komplikasi

Apa efek samping dan komplikasi implan glaukoma?

Meski terbilang aman dan tak memerlukan perawatan khusus, bukan berarti pemasangan implan glaukoma tak membawa efek samping. Istilah implan sendiri menandakan bahwa adanya benda asing yang masuk ke tubuh. Cara ini bisa jadi menimbulkan efek samping ringan pada beberapa pasien.

Risiko efek samping akan meningkat jika pasien memiliki reaksi alergi terhadap bahan dasar alat implan. Namun, pada praktiknya, jumlah pasien yang mengalami efek samping lebih sedikit dari mereka yang tidak mengalaminya sama sekali.

Menurut situs American Academy of Ophthalmology, berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin bisa terjadi setelah pemasangan implan pada mata:

  • Luka pada bagian dalam atau permukaan bola mata
  • Infeksi mata
  • Perdarahan pada mata
  • Tekanan bola mata terlalu rendah (hipotonia)
  • Katarak
  • Penglihatan ganda
  • Membutuhkan operasi glaukoma lainnya atau pelepasan implan
  • Kebutaan

Bila ada pertanyaan, konsultasikan dengan dokter untuk solusi terbaik kesehatan Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Penyebab Glaukoma, Penyakit Mata yang Bisa Sebabkan Kebutaan?

Penyebab utama glaukoma adalah rusaknya saraf optik akibat tekanan bola mata tinggi. Namun, mengapa tekanan bola mata meningkat dan menyebabkan glaukoma?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20 September 2018 . Waktu baca 7 menit

Benarkah Mainan Sinar Laser Bisa Bikin Mata Buta?

Fans fanatik tim sepak bola sering menembakkan sinar laser tepat ke mata pemain tim lawan. Padahal, bahaya laser mainan benar-benar bisa membuat buta.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 24 Agustus 2018 . Waktu baca 3 menit

Waspada, Kondisi Mata Malas yang Tak Diobati Bisa Menyebabkan Kebutaan

Pernah dengar kondisi mata malas? Gangguan ini jika tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan kebutaan. Bagaimana mata malas menyebabkan kebutaan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Hidup Sehat, Fakta Unik 10 Juli 2018 . Waktu baca 3 menit

Waspada Penyakit Glaukoma Akibat Sembarangan Pakai Obat Mata Kortikosteroid

Menurut penelitian, sembarangan pakai obat tetes mata kortikosteroid bisa sebabkan glaukoma. Lebih jelas soal glaukoma akibat kortikosteroid, baca di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Laura Agnestasia Dj.
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 Mei 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ciri ciri bayi buta

Ciri-Ciri Bayi dan Anak dengan Mata Buta yang Sebaiknya Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 April 2020 . Waktu baca 7 menit
obat herbal tradisional glaukoma

5 Cara Alami Mengatasi Gejala Glaukoma, Mulai dari Obat Herbal hingga Makanan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2019 . Waktu baca 5 menit
jenis tipe stroke mata

4 Jenis Stroke yang Umum Menyerang Mata

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Laura Agnestasia Dj.
Dipublikasikan tanggal: 3 Juli 2019 . Waktu baca 4 menit
katarak senilis picu glaukoma

Katarak Senilis, Ketika Mata Berkabut Akibat Penuaan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2018 . Waktu baca 5 menit