Hobi Menunda-nunda Pekerjaan Bisa Jadi Tanda Depresi

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19/09/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Hampir semua orang pasti pernah sesekali menunda-nunda pekerjaan dalam hidupnya. Entah karena lupa, keburu pusing membayangkan ribetnya pekerjaan tersebut, tidak punya waktu untuk mengerjakannya, atau merasa kewalahan. Tak jarang juga Anda memilih untuk menunda pekerjaan tanpa alasan jelas, sehingga tugas tersebut jadi benar-benar terbengkalai tak terurus.

Usut punya usut, kebiasaan menunda-nunda pekerjaan tanpa disadari bisa jadi tanda masalah kesehatan mental, atau setidaknya merupakan ketidakmampuan seseorang untuk fokus melakukan apa yang dipikirkannya.

Kenapa orang suka menunda-nunda pekerjaan?

Para ahli psikologi meniai kebiasaan menunda-nunda pekerjaan sebagai suatu bentuk kegagalan manajemen waktu untuk mengatur diri sendiri. Ini karena perilaku tersebut sering terjadi dengan sengaja dan dibiasakan, meskipun kita sudah mengetahui konsekuensi yang akan dihadapi.

Studi dalam bidang neuropsikologi oleh Laura Rabin menunjukan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan berkaitan dengan cara kerja otak bagian depan yang mengatur perilaku seseorang. Studi yang dilakukan pada mahasiswa tersebut dilakukan dengan cara menilai kriteria 9 fungsi otak dan menghasilkan 9 karakteristik seseorang yang suka menunda pekerjaan, di antaranya:

  1. Kesulitan menahan diri
  2. Kesulitan untuk memahami perilaku dan dampaknya terhadap orang lain
  3. Kesulitan untuk merencanakan dan mengidentifikasi kebutuhan pekerjaan
  4. Mengalami masalah untuk berpikir dengan cara lain saat kesulitan menyelesaikan masalah
  5. Kesulitan untuk memulai suatu pekerjaan
  6. Cenderung sering salah menilai suatu beban pekerjaan
  7. Tidak dapat mengontrol emosi dalam bekerja
  8. Kesulitan mengingat beberapa hal penting dalam pekerjaan
  9. Kesulitan mengatur benda dan tugas harian

Rabin menjelaskan bahwa kesembilan kriteria tersebut tidak selalu berdampak secara langsung terhadap munculnya kebiasaan menunda-nunda pada seseorang. Namun ia menambahkan bahwa temuannya konsisten dengan konsep fungsi otak dalam berperilaku kesehatan fungsi otak.

Seluruh kriteria perilaku yang diukur dalam penelitian tersebut dapat mendeskripsikan kemampuan otak dalam koordinasi dengan bagian otak lainnya dan memunculkan suatu perilaku. Sehingga jika seseorang memiliki karakteristik yang telah disebutkan di atas, ini dapat menyebabkan risiko munculnya kebiasaan menunda-nunda pekerjaan.

Siapa saja yang rentan untuk mennda-nunda pekerjaan?

Berikut beberapa sikap atau cara berpikir yang membuat seseorang cenderung menunda-nunda pekerjaan.

Orang yang perfeksionis

Perfeksionisme merupakan cara berpikir irasional yang dapat muncul dalam berbagai bentuk. Salah satu perfeksionisme yang sering menyebabkan seseorang enggan memulai sesuatu adalah rasa tidak dapat menerima kegagalan, takut ditolak atau takut akan mengecewakan seseorang.

Akibatnya jika seorang perfeksionis kehabisan waktu, ia akan cenderung menyalahkan diri sendiri. Ini me penurunan rasa percaya diri dan harga diri. Dampak paling terburuk dari sikap ini terjadi ketika seseorang menyerah dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Orang dengan pandangan irasional

Orang dengan pandangan irasional memiliki anggapan yang salah, menyebabkan mereka menunda pekerjaan. Salah satu di antaranya seperti mepet menyelesaikan semua tugas di menit-menit terakhir sebelum deadline, karena mereka merasa dengan begitu dapat bekerja lebih baik.

Ekspektasi yang tidak sesuai juga dapat muncul ketika seseorang menganggap pekerjaan tersebut dapat dengan mudah diselesaikan dalam waktu yang lebih sedikit atau cenderung menunggu-nunggu keinginan, waktu yang tepat dan mood untuk memulai pekerjaan.

Orang yang selalu ngotot

Banyak orang yang bersikeras ingin menyelesaikan semuanya sekaligus. Hal ini berasal dari keyakinan bahwa suatu tugas atau pekerjaan harus diselesaikan dalam satu waktu, jika tidak maka sebaiknya tidak dilakukan sama sekali. Pola pikir ini juga dapat menyebabkan seseorang gagal dalam menentukan prioritas suatu pekerjaan, sehingga ia  cenderung hanyaakan menyelesaikan tugas yang kecil-kecil, namun justru melupakan tugas yang penting.

Menunda-nunda pekerjaan juga berkaitan dengan masalah kesehatan mental

Meski tidak semua orang menunda pekerjaan memiliki masalah mental, namun ada sejumlah gangguan mental yang dapat memicu gejala perilaku ini.

Depresi

Depresi menimbulkan efek terhadap cara berperilaku seseorang. Depresi mengurangi energi fisik dan mental Anda, sekaligus juga menimbulkan perasaan putus asa dan tidak berdaya untuk beraktivitas harian. Ini yang menjadi alasan mengapa depresi dapat meningkatkan risiko dari kebiasaan menunda pekerjaan. Jika Anda menunjukkan tanda-tanda depresi, segera konsultasikan dengan dokter

ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder)

Beberapa karakteristik ADHD seperti sifat impulsif, mudah terpecah fokusnya, dan tidak dapat mengatur diri dengan baik dapat menyebabkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau justru makin memburuk.

ADHD membuat Anda terdorong untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan secara terus-menerus, dan menyebabkan dirinya terdistraksi. Namun tidak semua orang yang sering menunda pekerjaan mengalami ADHD.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

Menekuni usaha yang sesuai passion adalah impian sejumlah orang. Namun, jangan sampai lupa waktu. Simak cara menjaga kesehatan untuk pebisnis sekarang.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
Asuransi, Hidup Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Pandemi COVID-19 memberikan dampak beragam, beberapa orang berisiko mengalami PTSD akibat melewati peristiwa mengguncang ini. Siapa saja yang berisiko?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pasien koma masih sadar atau tidak

Ini yang Terjadi Pada Tubuh dan Pikiran Saat Kita Sedang Koma

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
tips menjaga kesehatan mental

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental untuk Melawan Penyakit Kritis

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 13/07/2020 . Waktu baca 5 menit
tanggal kedaluwarsa

4 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tanggal Kedaluwarsa

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
penyebab cantengan; kuku cantengan

Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit