Gula vs Pemanis Buatan, Mana yang Lebih Sehat?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Semakin meningkatnya jumlah orang yang terkena penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, hingga diabetes, kita perlu semakin hati-hati dengan apa yang kita makan. Salah satu jenis bahan makanan yang menjadi momok adalah gula. Konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan di kemudian hari meningkatkan risiko timbulnya gangguan kesehatan. Dengan adanya temuan ini, membatasi konsumsi gula bisa menjadi salah satu pilihan Anda untuk hidup lebih sehat.

Apa itu gula pasir?

Gula yang biasa Anda gunakan sehari-hari untuk tambahan pada makanan dan minuman adalah gula tebu. Gula ini didapatkan dari tanaman tebu yang diolah dan dipanaskan. Hasil dari proses ini berupa kristal, atau yang lebih Anda kenal dengan sebutan gula pasir. Batas konsumsi gula pasir dalam sehari menurut Kementerian Kesehatan adalah 4 sendok makan atau setara dengan 148 kalori.

Apa itu pemanis buatan?

Lalu apa itu pemanis buatan? Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemanis buatan adalah jenis pemanis yang bahan bakunya tidak dapat ditemukan di alam dan dihasilkan melalui proses kimiawi. Contoh dari pemanis buatan adalah aspartam, siklamat, sukrolosa, dan sakarin. Jenis pemanis buatan ini biasa digunakan pada makanan olahan seperti sirup, soda, selai, hingga makanan khusus yang ditujukan bagi penderita diabetes atau makanan khusus diet. Jika Anda melihat suatu produk memiliki label sugar free, cobalah cek komposisinya. Biasanya ada tambahan pemanis buatan di dalamnya.

Pemanis buatan sudah diatur batas penggunaannya oleh BPOM. Contohnya aspartam, batas konsumsinya per hari adalah 40 mg/kg. Artinya jika berat badan Anda 60 kg, maka batas konsumsi aspartam Anda dalam sehari adalah 2400 mg. Sebagai perbandingan, satu kaleng soda diet mengandung kadar aspartam sekitar 180 mg. Dengan begitu dalam sehari Anda diperbolehkan mengonsumsi kurang lebih 13 kaleng soda diet.

Mana yang lebih baik?

Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu efek positif dan negatif dari gula pasir dan pemanis buatan.

Plus minus gula pasir

Gula pasir memiliki rasa yang paling enak jika dibandingkan dengan pemanis buatan. Beberapa jenis pemanis buatan meninggalkan after taste seperti rasa pahit, misalnya. Gula pasir juga diperoleh dari bahan alami yaitu tebu, sehingga kecil kemungkinannya menimbulkan alergi atau reaksi lainnya. Sementara pemanis buatan, contohnya aspartam, mengandung fenilalanin yang sangat berbahaya bagi mereka yang menderita fenilketonuria.

Namun, gula pasir mengandung kalori. Tiap satu sendok makan gula pasir mengandung kurang lebih 37 kalori. Jika Anda menggunakan dua sendok makan untuk membuat teh favorit Anda, maka total kalori yang Anda konsumsi sudah sebesar 74 kalori, hanya dari gula saja. Dan sering kali kita tidak sadar sudah berapa banyak gula yang kita konsumsi. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang akan diikuti dengan meningkatnya risiko penyakit lain. Tidak hanya penyakit degeneratif, Anda juga rentan mengalami sakit gigi.

Kelebihan pemanis buatan dibanding gula pasir

Sementara pada pemanis buatan, mayoritas tidak memiliki kalori. Atau kalau pun mengandung kalori, jumlahnya sangat sedikit. Jenis pemanis buatan yang mengandung kalori adalah golongan pemanis yang berasal dari alkohol seperti manitol, sorbitol, dan xylitol. Dengan jumlah kalori yang sedikit bahkan hampir tidak ada, pemanis buatan sering digunakan dalam produk yang dikhususkan bagi mereka yang sedang diet. Sebagai perbandingan, jika berat badan Anda kurang lebih 55 kg dan Anda menyeduh kopi menggunakan dua sachet pemanis buatan, maka Anda bisa mengonsumsi sekitar 116 gelas kopi untuk mencapai batas maksimum konsumsi pemanis buatan dalam sehari. Hal ini disebabkan oleh tingkat kemanisan pemanis buatan yang jauh lebih tinggi dari gula biasa. Aspartam misalnya, tingkat kemanisannya 200 kali lipat jika dibandingkan dengan sukrosa atau gula pasir. Bandingkan berapa banyak kalori yang Anda konsumsi jika Anda menyeduh 116 gelas kopi menggunakan gula pasir. Penggunaan pemanis buatan jelas bisa memotong jumlah asupan kalori Anda yang berasal dari gula.

Selain itu pemanis buatan cenderung tidak meningkatkan kadar gula darah, karena memang bukan termasuk karbohidrat. Berbeda dengan gula pasir yang termasuk golongan karbohidrat dan dapat memicu kerja insulin ketika dikonsumsi. Maka pemanis buatan sering pula ditemukan dalam produk khusus bagi penderita diabetes.

Kekurangan pemanis buatan

Namun pemanis buatan tidak selalu mendapat respon positif. Sekitar tahun 1970, dilakukan penelitian terkait sakarin dan kanker. Setelah diujicobakan ke tikus, ditemukan bahwa tikus yang diberi sakarin dalam dosis tinggi menderita kanker kandung kemih. Penelitian lain di tahun 2005, seperti dikutip dari CNN, menyebutkan bahwa tikus yang diberi aspartam dosis tinggi (kurang lebih setara dengan mengonsumsi 2000 kaleng soda diet) memiliki risiko tinggi menderita leukemia. Namun keseluruhan penelitian terkait pemanis buatan ini masih belum diketahui apakah memberi pengaruh yang sama pada manusia.

Tidak hanya dikaitkan dengan kanker, pemanis buatan juga dikaitkan dengan kenaikan berat badan. Meskipun memiliki jumlah kalori yang sangat sedikit, penggunaan pemanis buatan yang terus menerus akan membuat indra pengecapan kita menjadi “kebal” dengan rasa manis. Anda mungkin akan kehilangan nafsu untuk makanan seperti sayur dan buah yang sebenarnya sehat tetapi tidak terlalu manis. Selain itu, karena Anda sudah merasa makan lebih sedikit dengan menggunakan pemanis tanpa kalori pada kopi Anda, setelah itu Anda akan memberi reward pada diri Anda dengan memakan sepotong kue atau donat. Tubuh Anda merasa belum mendapatkan gula yang sesungguhnya sehingga Anda lalu mencari gula dari makanan lain.

Dan seperti dikutip dari Harvard Health Publication, dr.Ludwig, seorang profesor di bidang kesehatan anak menyatakan bahwa ada kemungkinan pemanis buatan menstimulasi pembentukan sel lemak yang baru sehingga dapat memicu kenaikan berat badan.

Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait pemanis buatan dan pengaruhnya bagi kesehatan. Penggunaannya dapat membantu terutama bagi mereka yang memiliki keadaan kesehatan tertentu seperti diabetes dan kegemukan. Tetapi apapun jenis pemanis yang Anda pilih, gunakanlah dalam porsi secukupnya.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Meski sedang hamil, ibu tetap direpotkan untuk melakukan pekerjaan rumah. Namun, apakah semua pekerjaan rumah tangga saat hamil aman untuk dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

Selain alergi susu dan kacang, ada juga alergi bawang putih. Apa penyebabnya dan adakah cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Alergi, Alergi Makanan 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
apakah diabetesi boleh makan mi instan

Efek Makan Mi untuk Penderita Diabetes dan Tips Aman Mengonsumsinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
masalah seks pada pria

5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit