Ini 3 Akibatnya Kalau Anda Merokok Padahal Pakai Behel (Kawat Gigi)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 19/08/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Merokok memang membahayakan paru-paru, jantung, dan ginjal. Namun, sering terlupakan bahwa merokok juga mengancam kesehatan gigi Anda. Rokok dapat merusak enamel gigi Anda, dan sikat gigi saja tidak bisa membersihkannya. Belum lagi kalau Anda merokok padahal sedang pakai behel alias kawat gigi. Memangnya apa yang akan terjadi kalau orang yang pakai behel atau kawat gigi merokok? Simak jawabannya di sini.

Apa akibatnya jika Anda merokok saat pakai behel?

Behel atau kawat gigi digunakan untuk memperbaiki berbagai masalah gigi dan mulut seperti gigi tidak rata, plak, gigi tidak beraturan, bakteri, atau penyakit gusi. Behel akan menyelarasakan struktur gigi Anda untuk mengatasi kondisi tersebut.

Selain itu, beberapa orang mungkin menggunakan behel untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memperbaiki penampilan gigi. Pakai behel memang dapat membuat Anda memiliki senyum yang indah dan gigi yang rapi.

Namun, manfaat dari memakai behel tersebut bisa hilang atau sulit terwujud karena merokok. Berikut adalah tiga akibat jika Anda merokok padahal sedang pakai behel.

1. Membahayakan kesehatan mulut

leukoplakia

Jaringan dan tulang dalam mulut harus bebas dari bakteri supaya kawat gigi bisa bekerja dengan baik dan sesuai tujuan.

Sementara itu, merokok dapat membuat gigi lebih rentan terhadap penumpukan plak, yaitu penyebab utama penyakit gusi dan bau mulut. Merokok juga dapat menyebabkan kerusakan pada tulang di mulut serta gusi, sehingga gigi mudah keropos.

2. Merusak penampilan gigi

cara menghilangkan kebiasaan menggemeretak gigi bruxism

Merokok dapat membuat warna gigi menjadi kuning, ini bisa terjadi tanpa atau dengan Anda memakai behel. Sehingga, jika Anda pakai behel dan merokok, impian memiliki senyum indah dengan gigi rata dan putih pun bisa sirna.

Rokok bisa merusak dan membuat warna behel atau retainer jadi belang, apalagi kalau Anda menggunakan yang warnanya bening.

Selain itu, setelah lepas behel, kemungkinan akan muncul bintik-bintik dengan warna lebih terang di sekitar gigi. Bisa juga muncul belang bekas karet behel karena gigi Anda yang tidak tertutup karet behel warnanya menguning. Ini akan merusak penampilan gigi Anda dan sering membuat kepercayaan diri berkurang.

3. Bau mulut

mulut asam akibat tak merokok

Bau mulut disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di mulut yang terjadi di luar kendali. Air liur Anda seharusnya bisa membasuh bakteri-bakteri tersebut. Sayangnya, merokok bisa membuat mulut kering dan produksi air liur terhambat. Anda pun jadi lebih rentan mengalami bau mulut dan infeksi bakteri pada mulut, gusi, dan gigi.

Padahal, orang yang pakai kawat gigi sendiri sudah rentan mengalami bau mulut karena bakteri jadi lebih mudah terjebak di kawat atau karet behel. Maka itu, bisa dibayangkan sendiri merokok saat Anda pakai behel sama saja dengan melipatgandakan risiko bau napas tidak sedap.

Berhenti merokok agar behel berfungsi dengan baik

tips berhenti merokok saat puasa

Jika Anda ingin mendapatkan hasil yang baik setelah menggunakan behel, sebaiknya berhenti merokok. Anda akan mendapat manfaat kesehatan dari berhenti merokok. Tubuh Anda akan lebih sehat dan tujuan dari pakai behel pun akan tercapai.

Pakai behel tanpa merokok membuat mulut lebih sehat dan memiliki senyum indah dengan gigi rapi dan bersih. Anda juga dapat mengurangi risiko masalah kesehatan mulut yang berhubungan dengan merokok. Misalnya penyakit gusi, gigi kuning, bau mulut, hingga kanker.

Jika Anda tetap konsisten tidak merokok setelah perawatan selama lima tahun, Anda dapat mengurangi risiko kanker di mulut Anda yang merupakan salah satu masalah serius bagi perokok.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Data Prevalensi Kanker Paru di Indonesia, Perokok Kelompok Paling Berisiko

Prevalensi kanker paru di Indonesia semakin meningkat selama 15 tahun terakhir dengan rokok sebagai faktor risiko utamanya. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kanker Paru, Health Centers 11/02/2020 . Waktu baca 5 menit

Rokok Kretek: Kandungan dan Bahayanya untuk Kesehatan

Rokok kretek adalah rokok asli Indonesia yang tak kalah berbahaya dengan rokok filter biasa. Kenali kandungan dan bahayanya dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Fakta Unik 25/01/2020 . Waktu baca 12 menit

5 Cara Mudah dan Efektif untuk Membersihkan Paru-Paru Perokok

Asap rokok yang dihirup penuh dengan racun yang bisa merusak paru. Oleh karena itu, yuk cari tahu berbagai cara untuk membersihkan paru-paru perokok.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Tips Sehat 24/01/2020 . Waktu baca 5 menit

3 Tips Makan untuk Anak yang Baru Memakai Kawat Gigi

Bagi Anda yang memiliki anak yang baru saja pakai behel mungkin sedikit bingung apa saja makanan yang cocok untuk kawat gigi anak. Simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Parenting, Nutrisi Anak 18/01/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

memasang behel

Kapan Sebaiknya Memasang Behel agar Tetap Aman dan Efektif?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . Waktu baca 4 menit
arti kedutan

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit
social smoker

Menjadi Social Smoker Ternyata Sama Bahayanya dengan Perokok Aktif

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13/04/2020 . Waktu baca 4 menit
behel gigi kuning

Behel Bisa Bikin Gigi Jadi Kuning, Benar Atau Salah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 19/03/2020 . Waktu baca 4 menit