Gangguan Mental Harus Diobati atau Bisa Sembuh Sendiri? Ini Faktanya!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Belakangan ini, isu gangguan kesehatan mental (gangguan jiwa) banyak dibahas di kalangan masyarakat. Tentu Anda sudah tidak asing dengan istilah gangguan mental. Menurut data Riset kesehatan dasar (RISKESDAS), prevalensi gangguan mental emosional yang ditandai dengan kecemasan dan depresi di Indonesia adalah sebesar 14 juta jiwa. Ironisnya lagi, orang dengan gangguan jiwa (disebut ODGJ) mendapat perlakuan yang tidak pantas seperti dipasung dan dikurung. Keadaan ini salah satu penyebabnya adalah minimnya pengetahuan dan stigma yang menetap. Lalu sebenarnya apa yang harus dilakukan saat seseorang mengidap gangguan jiwa? Harus segera diobati atau sebenarnya bisa sembuh sendiri?

Kesehatan mental sering dipandang sebelah mata

Gila atau sakit jiwa adalah istilah yang paling sering digunakan awam untuk yang mempunyai gangguan mental. Sebenarnya gangguan mental atau gangguan jiwa tidak mengenal istilah sakit jiwa atau gila.

Konsep gangguan jiwa menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ) adalah suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna, berkaitan dengan disabilitas di dalam satu atau lebih fungsi penting dari manusia. Ringkasnya, konsep gangguan jiwa adalah mempunyai gejala klinis yang bermakna, menimbulkan penderitaan, dan disabilitas dalam beraktivitas sehari-hari.

Gangguan mental pun ada berbagai macam kelompok dan setiap penanganannya berbeda. Akan tetapi, banyak masyarakat tidak memedulikan kesehatan mental dan mereka tidak tahu bahaya yang mengancam di kemudian hari.

Kebanyakan penderita gangguan mental tidak memeriksakan keadaannya

Kesehatan jiwa sering tidak diacuhkan. Hal ini bukan hanya terjadi di masyarakat saja, tetapi tenaga kesehatan pun terkadang demikian. Menurut Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), hampir 50 persen tenaga kesehatan tak menghiraukan kesehatan mental.

Stigma merupakan penghalang terbesar saat ini. Anggapan dan perkataan seperti gangguan jiwa tidak harus diperiksakan ke dokter, bisa sembuh dengan sendirinya, dan ODGJ itu berbahaya bisa membuat orang enggan untuk berobat.

Lain halnya pada orang dengan anosognosia, yaitu kondisi di mana seseorang menunjukkan tanda yang jelas dari gangguan jiwa, tetapi tidak menyadari hal tersebut karena kurangnya pemahaman akan diri sendiri. Orang dengan gangguan mental tidak dapat mengetahui kondisi mereka secara akurat dan anosognosia ini 50 persen dilaporkan pada orang dengan skizofrenia atau keadaaan gangguan mental kronis lainnya.

Faktor lainnya seperti takut akan efek samping obat, khawatir dengan hasil diagnosis, dan merasa hal tersebut membuang waktu dan uang. Beberapa orang juga keliru dengan beranggapan bahwa gangguan jiwa disebabkan karena kurang iman. Padahal, gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan pada keseimbangan zat kimia (neurotransmitter) atau kerusakan sel dan saraf otak seseorang.

Depresi Terselubung

Bahaya jika gangguan jiwa diabaikan

Ada beberapa hal yang dapat terjadi jika tidak segera menangani gangguan jiwa.

1. Kondisi ODGJ bertambah buruk

Gangguan mental tidak dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tetap perlu untuk mendatangi tenaga kesehatan yang ahli (dokter spesialis jiwa, juga dikenal dengan istilah psikiater) untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Jika tidak diperiksakan, gejala-gejala yang dialami ODGJ bisa bertambah buruk, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Misalnya, Anda mungkin jadi semakin tidak bisa keluar dari rumah karena depresi dan putus asa, buat apa pergi ke kantor bila Anda tidak merasa pekerjaan Anda dihargai.

2. Merusak fungsi kognitif otak

Jika gangguan jiwa menyerang Anda, keadaan ini bisa mempengaruhi prestasi di sekolah atau kemampuan untuk belajar apa saja. Pasalnya, gangguan jiwa adalah masalah yang berkaitan dengan fungsi normal otak yaitu mengolah informasi, menyimpan informasi (daya ingat), berpikir logis, serta mengambil keputusan.

Bahkan, tidak sedikit anak dan remaja yang terpaksa drop out dari sekolah karena masalah kejiwaan serius yang tidak ditangani dengan tepat.

3. Kualitas hidup dan hubungan pribadi terganggu

Gangguan jiwa bisa memperburuk kualitas hidup seseorang Hal yang mudah seperti bangun dari tempat tidur, bekerja, dan bersosialisasi dapat berubah menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Masalah mulai dari finansial, hubungan pribadi, sosial, hingga masalah kesehatan secara fisik pun bisa muncul.

4. Kematian

Tidak ada orang sehat yang ingin melakukan tindakan bunuh diri. Sayangnya, gangguan jiwa bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir rasional dan beradaptasi dengan lingkungannya. Karena itu, orang yang punya kecenderungan bunuh diri sudah tidak bisa melihat jalan keluar lain selain mengakhiri hidup.

Pemikiran yang keliru ini sangat bisa dicegah! Caranya adalah dengan memeriksakan diri atau orang terdekat Anda yang mengidap depresi atau menunjukkan gejala-gejala ingin bunuh diri.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca