Ketika membicarakan radang, apa yang pertama kali terlintas dalam benak Anda? Radang tenggorokan? Atau radang usus? Pada kenyataannya, peradangan bisa terjadi pada bagian tubuh mana saja dan kapan saja. Peradangan itu sendiri merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap suatu kerusakan atau infeksi tertentu. Nah, efek dari peradangan di satu bagian tubuh dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya di bawah kulit. Peradangan di bawah kulit ini disebut dengan phlegmon.

Phlegmon, peradangan di bawah kulit akibat infeksi bakteri

Phlegmon adalah istilah medis yang merujuk pada peradangan yang menyebar pada jaringan halus, seperti pada kulit, jaringan lemak, jaringan otot dan tendon ataupun organ dalam lainnya. Kata phlegmon berasal dari bahasa yunani phlegmone, yang berarti membengkak.

Phlegmon terjadi ketika infeksi bakteri tidak terobati dengan baik sehingga telanjur menyebar dari jaringan yang telah rusak dan terinfeksi. Peradangan yang menyebabkan phlegmon biasanya bukan kondisi yang serius, namun menyebar dengan sangat cepat ke bagian tubuh mana saja. Dalam beberapa kasus phlegmon dapat berakibat fatal.

Phlegmon berbeda dengan abses

Phlegmon dan abses sama-sama merupakan komplikasi dari peradangan yang terlokalisasi di satu area. Keduanya juga mengakibatkan pembentukan nanah.

Meski begitu, tetap ada perbedaan antar phlegmon dan abses. Benjolan nanah akibat abses dapat diserap atau disedot dengan mudah lewat prosedur medis sederhana, tapi tidak dengan nanah yang terbentuk akibat phlegmon.

Nanah pada phlegmon tidak mudah untuk diserap dan sangat berisiko menimbulkan infeksi yang menyebar ke jaringan sekitar.

Apa penyebab phlegmon?

Sebagian besar kasus phlegmon disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus grup A dan Staphylococcus aureus. Jenis bakteri penyebab phlegmon tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh melalui berbagai rute seperti lewat sentuhan antara manusia yang terinfeksi, cakaran binatang, gigitan serangga, ataupun luka terbuka yang dapat membentuk peradangan di bawah kulit.

Bakteri penyebab phlegmon juga dapat berasal dalam rongga mulut dan sangat berisiko memicu phlegmon pada seseorang yang telah menjalani pembedahan di area mulut. Bakteri yang sama dapat memasuki tubuh lebih dalam, hingga ke rongga perut dan usus buntu untuk membentuk phlegmon.

Apa tanda dan gejala phlegmon

Gejala phlegmon dapat bervariasi, tergantung pada letak jaringan yang mengalami peradangan.

Phlegmon dapat memicu gejala sistemik umum dari infeksi bakteri seperti:

  • Pembengkakan kelenjar limpa.
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan
  • Tubuh terasa nyeri.

Sedangkan berdasarkan bagian tubuh spesifik yang mengalami phlegmon, gejala dapat berupa:

  • Pada kulit – kemerahan, kulit nampak bengkak, terasa panas dan nyeri.
  • Pada saluran cerna – demam disertai mual, muntah-muntah, dan rasa nyeri.
  • Pada usus apendiks (usus buntu) – gangguan pencernaan, diare, muntah-muntah, nyeri di sekitar sekitar perut.
  • Pada mata – gangguan penglihatan, gejala mirip flu, mata berair disertai nyeri.
  • Pada rongga mulut – nyeri sekitar gusi hingga merambat sekitar telinga, pembengkakan sekitar mulut, dan kesulitan bernapas.
  • Pada tonsil – sakit tenggorokan, tenggorokan terasa kering, dan mengalami kesulitan berbicara
  • Pada pankreas – peningkatan enzim amylase dan kadar sel darah putih, serta demam disertai sakit perut dan mual.

Munculnya gejala phlegmon dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh. Maka,  seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah akan sangat berisiko terhadap kondisi ini.

Bagaimana phlegmon dapat dikenali?

Phlegmon dapat dikenali dari tanda peradangan umum, seperti adanya kemerahan dan pembengkakan. Namun biasanya tanda tersebut hanya dapat dilihat jika terjadi di sekitar kulit.

Jika terjadi peradangan di bawah kulit, dokter mungkin akan menanyakan Anda terkait kondisi yang menyebabkan gejala phlegmon seperti riwayat penyakit dan pengobatan.

Jika terdapat rasa nyeri dan tanda peradangan pada area tubuh tertentu, maka pemeriksaan lanjutan seperti tes darah, tes urin, ultrasound, rontgen, hingga MRI dan CT scan juga mungkin diperlukan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mendeteksi serta membedakan abses atau selulitis dengan phlegmon.

Seperti apa pengobatannya?

Karena phlegmon disebabkan oleh infeksi bakteri, maka diperlukan pengobatan dengan antibiotik serta tindakan pembedahan untuk mencegah penyebaran phlegmon dari jaringan tubuh yang telah terinfeksi.

Sebagian besar phlegmon yang terjadi pada jaringan kulit dapat diatasi dengan antibiotik selama area yang mengalami phlegmon tidak menyebar. Namun pembedahan juga mungkin dilakukan untuk membersihkan jaringan yang telah rusak dan mencegah infeksi menyebar.

Phlegmon dapat menjadi masalah kesehatan yang serius jika penyebarannya terjadi dengan sangat cepat, seperti yang terjadi pada rongga mulut. Pada kasus phlegmon oral, pemberian antibiotik dilakukan dengan jenis atau dosis yang lebih tinggi. Tindakan pembedahan juga harus dilakukan sesegera mungkin.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca