Orang yang Punya Trauma Masa Kecil Lebih Mungkin Jadi Gay, Apa Benar?

Oleh

Orientasi seksual adalah keterikatan seksual antara satu manusia terhadap manusia lain yang sesama jenis (homoseksual) ataupun lawan jenis (heteroseksual). Biasanya, anak tidak menyadari bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis pada usia 20 atau 30 tahunan (Garnets & Kimmel, 1990; Hammack, 2005).

Menariknya, ketertarikan secara seksual kepada sama spesiesnya bukan lagi fenomena baru dalam kerajaan binatang. Beruang grizzly, gorilla, monyet, burung flamingo, burung hantu, penguin, dan masih banyak jenis hewan lain memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis. Sekitar 6-10% dari spesies domba jantan menunjukkan ketertarikan seksual pada domba jantan lainnya (Perkins & Filtzgerald, 1997).

Asal usul penyebab gay dan lesbian (dan orientasi seksual lain di antaranya), baik pada manusia maupun hewan masih menjadi perdebatan panas di dunia sains modern. Apakah homoseksualitas benar dipengaruhi oleh pergaulan, atau turunan dari lahir?

Apa saja faktor penyebab gay pada manusia?

Banyak penelitian yang melaporkan bahwa orientasi seksual (termasuk homoseksualitas) sedikit banyak sudah ditentukan semenjak dalam kandungan, berkat kode genetik khusus yang membedakan homoseksual dengan heteroseksual, yaitu Xq28.

Lalu muncul pertanyaan, apakah faktor biologis lainnya — mulai dari struktu otak, trauma, hingga hormon — juga bisa memengaruhi kecenderungan homoseksualitas seseorang?

Trauma masa kecil

Ada satu penelitian yang dilakukan di Kinsey Institute kepada seribu orang penyuka sesama jenis dan 500 orang ke penyuka lawan jenis. Penelitian ini mengamati kondisi psikologis yang mungkin memengaruhi apakah seseorang adalah penyuka sesama jenis (homoseksual) atau penyuka lawan jenis (homoseksual), misalnya hubungan orangtua-anak, pengalaman seksual di masa kanak-kanak, hubungan dengan teman sebaya, dan pengalaman berpacaran.

Hasilnya menyatakan bahwa penyuka sesama jenis mengalami salah satu atau lebih dari ketiga situasi traumatis berikut: Mereka yang menyatakan dirinya sebagai gay/lesbian tidak lebih disayang oleh ibunya, ditinggalkan oleh ayahnya, dan/atau pernah setidaknya satu kali mengalami kekerasan seksual jika dibandingkan dengan penyuka lawan jenis (Bell dkk., 1981; Hammersmith, 1982).

Saudara kandung

Ray Blanchard pada tahun 1997 dan 2008 dan Anthony Bogaert pada tahun 2003 menghasilkan penelitian yang menyatakan bahwa laki-laki yang memiliki kakak laki-laki cenderung penyuka sesama jenis. Alasan penyebab gay dari penelitian ini masih belum ditemukan, namun Blanchard menyatakan bahwa hal ini berhubungan dengan imun ibu ketika mengandung anak. Antibodi ibu yang lebih kuat dibandingkan janin “melarang” untuk adanya perkembangan pola perilaku pria pada umumnya. Sejalan dengan alasan ini, hanya sesuai dengan saudara laki-laki yang lahir dalam kandungan ibu yang sama.

Bentuk otak

Ada kesamaan bentuk otak pria penyuka pria (gay) dengan wanita penyuka pria, dan kesamaan ini juga ditemukan pada struktur otak dari wanita penyuka wanita (lesbian) dengan pria penyuka wanita. Kesamaan itu adalah salah satu ukuran sel pada hipotalamus yang berada pada otak (LeVay, 1991). Penelitian ini dilakukan oleh Simon LeVay (1991), seorang ilmuan penyuka sesama jenis, yang ingin mencari jawaban mengenai orientasi seksualnya.

Tapi, masih ada kebimbangan LeVay; apakah otak yang menentukan orientasi seksual atau sebaliknya? Penelitian lain yang dilakukan oleh Larkin dkk (2002) dan Roselli (2002, 2004) pada domba, menyatakan bahwa ada perbedaan ukuran hipotalamus pada domba homoseksual dengan yang tidak.

Genetik

Salah satu kecurigaan para ilmuwan terhadap penyebab gay pada manusia muncul dari kode genetik unik Xq28. Meski demikian, ilmuwan belum dapat memastikan bahwa gen tersebut adalah faktor utama di balik asal usul penyebab gay.

Menariknya lagi, sepasang anak kembar identik lebih cenderung untuk menjadi penyuka sesama jenis dibandingkan pada kembar fraternal (Langstrom dkk, 2008) inilah yang menjadi alasan mungkin saja gen gay benar adanya. Tapi bagaimana bisa? Karena pada kenyataanya, orang dengan orientasi homoseksual tidak mungkin memiliki keturunan langsung dengan pasangan sesama jenisnya. Hal ini terjawab oleh penelitian yang dilakukan oleh Boclandt dkk pada tahun 2006. Penelitian itu menyatakan bahwa garis turunan dari ibu yang membuat gen gay bertahan.

Hormon kehamilan ibu

Penelitian pada domba hamil yang disuntikkan hormon testosterone pada periode kritis perkembangan janin menghasilkan keturunan perempuan yang menunjukkan perilaku homoseksual (Money, 1987). Pada manusia, terkena hormon yang ada pada janin perempuan baik kepada calon bayi berjenis kelamin perempuan atau laki-laki akan menyebabkan calon bayi ini tertarik kepada laki-laki di masa yang akan datang.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca