Bisakah Penyakit Sindrom Koroner Akut (SKA) Disembuhkan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Sindrom koroner akut (SKA) adalah kondisi ketika aliran darah menuju ke jantung berkurang secara tiba-tiba. Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi yang berat. Lantas, bisakah penyakit sindrom koroner akut disembuhkan?

Penyakit sindrom koroner akut bisa sembuh, tapi…

Penyakit sindrom koroner akut atau umumnya dikenal dengan sebutan serangan jantung merupakan salah satu masalah kardiovaskular penyebab kematian tertinggi. Tak heran jika banyak orang bertanya-tanya tentang peluang kesembuhan penyakit ini.

Guna menjawab kekhawatiran tersebut, dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, ahli jantung di Rumah Sakit Harapan Kita membeberkan fakta yang sebenarnya. Ditemui dalam acara bertajuk Penanganan SKA Pada Tahap Pre-Hospital di Indonesia di Jakarta Selatan, pada Senin (18/02), dr. Ade menjelaskan bahwa seberapa cepat seorang pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit adalah kunci kesembuhan penyakit ini.

“Kalau kita datang lebih cepat ke rumah sakit untuk dilakukan reperfusi, maka pasien dengan penyakit sindrom koroner akut bisa aktivitas kembali seperti semula,” ungkap dr. Ade.

Reperfusi sendiri merupakan tindakan untuk membuka kembali aliran darah yang tersumbat dengan cara pemberian obat khusus atau pemasangan ring jantung. Jadi, semakin cepat penyakit sindrom akut teratasi, maka hasilnya juga semakin baik.

Namun, penting untuk dipahami bahwa risiko kekambuhan penyakit sindrom koroner akut juga sangat besar. Apalagi jika pasien tidak menerapkan gaya hidup sehat setelah menjalani pengobatan.

“Risiko kekambuhan penyakit ini sebanyak 35 persen. Artinya, kalau pasien sudah pasang ring dan tidak minum obat secara teratur, merokoknya juga aktif, maka pembuluh darahnya bisa mampet lagi. Penyumbatannya bisa di tempat pemasangan ring, atau di tempat lainnya,” tambah dr. Ade, yang juga merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI).

ciri-ciri diabetes

Orang usia 40 tahun ke atas dianjurkan rutin medical check up

Medical check up adalah serangkaian pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi tubuh Anda secara menyeluruh. Pemeriksaan ini juga memungkinkan dokter untuk merencanakan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Ketika medical check up, dokter atau tim medis akan melakukan serangkaian tes, yang meliputi tes fisik dan laboratorium. Tergantung pada usia atau riwayat kesehatan Anda, dokter mungkin juga akan merekomendasikan tes medis lainnya.

Orang-orang yang berisiko tinggi atau yang mengidap penyakit tertentu sangat direkomendasikan untuk melakukan medical check up lebih sering ketimbang mereka yang tidak memiliki risiko. Dalam kasus penyakit sindrom koroner akut, medical check up setidaknya setahun sekali sangat dianjurkan, terutama mereka yang usianya sudah di atas 40 tahun dan memiliki faktor risiko.

“Kalau Anda laki-laki maupun perempuan usia di atas 40 tahun disarankan untuk medical check up khusus kardiovaskuler setiap tahun. Apalagi jika memiliki faktor risiko dalam hidupnya, yaitu merokok, punya hipertensi, kolesterol tinggi, dan riwayat keluarga,” terang dr. Ade.

Prosedur medical check up khusus penyakit kardiovaskuler biasanya dilakukan dengan tes stres EKG. Tujuan dilakukannya tes EKG adalah untuk membantu dokter mengetahui bagaimana jantung merespon tekanan ketika tubuh Anda sedang melakukan aktivitas fisik.

Ketika melakukan tes ini, dokter akan meminta pasien untuk berjalan di atas treadmill atau menggunakan sepeda statis. Mulai dari kecepatan yang paling rendah hingga tertinggi, dokter dan tim medis akan memantau setiap perubahan dari detak jantung dan tekanan darah Anda.

Nah, jika hasil pemeriksaan menunjukkkan adanya penyempitan koroner, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan yang meliputi CT Scan atau kateterisasi jantung. Kedua pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat seberapa parah penyempitan di pembuluh darah pasien terjadi.

“Pemasangan ring jantung umumnya dilakukan jika penyempitan di pembuluh cabang lebih dari 70 persen atau penyempitan di pembuluh darah utama lebih dari 50 persen,” tutup dr Ade.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca