Sama-Sama Bikin Tubuh Raksasa, Apa Bedanya Gigantisme dan Akromegali?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24 Maret 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Gigantisme dan akromegali adalah penyakit langka yang menyebabkan pertumbuhan tubuh menjadi tidak normal. Ini menyebabkan pasiennya bertubuh sangat besar seperti raksasa. Lalu, apakah kedua penyakit tersebut berbeda? Jika iya, apa perbedaan penyakit gigantisme dan akromegali? Simak ulasannya berikut ini.

Sekilas mengenai penyakit gigantisme dan akromegali

Terdapat kelenjar utama pengatur fungsi hormon, yaitu kelenjar pituitari. Kelenjar tersebut berukuran sebesar kacang polong dan berada di bawah otak manusia. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang mengendalikan banyak fungsi di tubuh, seperti metabolisme, produksi urine, mengatur suhu tubuh, perkembangan seksual, dan pertumbuhan.

Penyakit gigantisme dan akromegali terjadi pada kelenjar tersebut sehingga produksi hormon menjadi lebih banyak daripada yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh. Saat hormon tersebut berlebih, akan memicu pertumbuhan tulang, otot, dan organ bagian dalam. Oleh karena itu, orang yang mengalami kondisi ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada ukuran tubuh normal.

Lalu apa bedanya kedua kondisi ini? Berikut tiga hal utama yang membedakan gigantisme dan akromegali.

1. Penyebab penyakitnya

Tumor jinak kelenjar pituitari hampir selalu menjadi penyebab gigantisme. Begitu juga dengan akromegali. Namun, ada penyebab lain, tapi tidak umum yang membuat penyakit gigantisme bisa terjadi, seperti:

  • Sindrom McCune-Albright, yaitu yang menyebabkan pertumbuhan jaringan tulang menjadi tidak normal, muncul bercak cokelat muda pada kulit, dan kelainan kelenjar.
  • Kompleks Carney, yaitu penyakit turunan yang menyebabkan adanya tumor non-kanker pada jaringan ikat dan munculnya noda gelap pada kulit.
  • Multiple endocrine neoplasia tipe 1 (MEN1), yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan tumor di kelenjar pituitari, penkreas, atau kelenjar paratiroid.
  • Neurofibromatosis, yaitu penyakit turunan yang menyebabkan tumor pada sistem saraf.

2. Waktu terjadinya dan orang yang berisiko dengan penyakit tersebut

Produksi hormon berlebih pada gigantisme terjadi saat lempeng pertumbuhan tulang masih terbuka. Ini merupakan kondisi pada tulang anak-anak sehingga penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Sementara itu, pada akromegali biasanya terjadi ketika seseorang sudah dewasa. Ya, orang yang berusia 30 sampai 50 tahun mungkin mengalami akromegali, meskipun lempeng pertumbuhan tulang sudah tertutup.

3. Gejala yang ditimbulkan

Gejala gigantisme yang sering terjadi pada anak-anak munculnya sangat cepat. Ini menyebabkan tulang kaki dan tulang lengan menjadi sangat panjang. Anak yang mengalami kondisi ini mengalami keterlambatan pubertas karena pertumbuhan alat kelamin mereka yang tidak berkembang sepenuhnya.

Orang yang mengalami gigantisme, bila tidak diobati memiliki angka harapan hidup lebih kecil daripada anak pada umumnya karena kelebihan hormon bisa menyebabkan pembesaran pada organ vital, misalnya jantung. Ini bisa mengakibatkan jantung tidak berfungsi dengan baik dan akhirnya terjadi gagal jantung.

Sementara itu, gejala akromegali sulit dideteksi karena perkembangannya lebih lambat seiring berjalannya waktu. Gejalanya tidak berbeda jauh dengan gigantisme, seperti merasa sakit kepala karena adanya tekanan berlebih pada kepala, rambut tumbuh lebih lebat, atau, keringat berlebih.

Namun, tulang tidak akan memanjang hanya saja mengalami pembesaran dan pada akhirnya menjadi cacat. Ini karena lempeng tulang sudah menutup, tapi hormon pertumbuhan yang meningkat menyebabkan desakan di daerah pertumbuhan tersebut.

Wanita yang memiliki akromegali memiliki gejala siklus menstruasi tidak teratur dan ASI terus diproduksi walaupun tidak dalam masa setelah melahirkan. Ini dipengaruhi oleh peningkatan prolaktin. Sementara pada laki-laki banyak yang mengalami disfungsi ereksi.

Menurut MSD Manual, Ian M. Chapman, MBBS, Ph.D., seorang profesor di University of Adelaide menuliskan bahwa penyakit seperti diabetes, hipertensi, atau kanker dari komplikasi penyakit akromegali bisa membuat angka harapan hidup orang tersebut berkurang.

Apakah kedua kondisi ini bisa disembuhkan?

Kedua penyakit ini tidak bisa dicegah atau disembuhkan seperti sedia kala. Untuk mengobatinya pasien harus menjalani operasi, terapi radiasi, dan minum obat yang dapat mengurangi atau menghambat produksi hormon pertumbuhan supaya kondisinya tidak semakin memburuk.

Pengobatan tidak bisa hanya dilakukan dengan perawatan tunggal, seperti minum obat saja, terapi saja, atau operasi saja. Ketiganya harus dijalani oleh pasien agar kelebihan hormon pertumbuhan bisa dikendalikan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Alergi Paracetamol

Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
melihat bullying

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit