Kenapa Multitasking Ternyata Tidak Baik?

Oleh

Di era yang serba cepat ini, kita dituntut untuk bisa bekerja dengan cepat, cermat, dan cerdas. Istilah multitasking tentu sudah sering kita dengar dan kalau di kantor. Bahkan, banyak orang yang menganggap multitasking sebagai sebuah skill atau kelebihan yang patut dibanggakan.

Sayangnya, multitasking ini ternyata tidak baik bagi otak kita. Apalagi ketika kita disibukkan dengan laptop, tablet, atau smartphone kita sambil menonton TV bersama keluarga. Seperti yang ditulis di NationalGeographic.co.id, melakukan multitasking sambil menggunakan gadget bisa merusak kinerja otak kita.

Multitasking dengan gadget adalah yang terburuk

Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari University of Copenhagen, Denmark menunjukkan bahwa berganti-ganti fokus dari satu layar ke layar lain menyebabkan otak menyimpan informasi lebih sedikit. Bukan itu saja, hormon yang mengganggu proses berpikir pun akan dikeluarkan, yang akhirnya bisa menurunkan kecerdasan Anda.

Para peneliti tersebut membuat penelitian dengan cara meminta para respondennya menggunakan smartphone atau tablet mereka sambil menonton TV. Mereka merasa kegiatan multitasking ini membuat mereka semakin produktif dan efisien. Namun, hasil penelitiannya menyebutkan hanya sedikit yang bisa mengingat acara apa yang mereka lihat di TV.

Dalam penelitian lainnya yang dilakukan di University of London, Inggris, para responden yang juga dites mengalami penurunan IQ mirip dengan efek begadang pada malam hari. Penurunan IQ-nya sendiri mencapai 15 poin bagi laki-laki.

Multitasking bisa dilakukan selama seseorang masih kuat untuk melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan. Tapi kalau ia sudah merasa kesulitan melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan, itu bisa membuatnya stres. Biasanya ketika seseorang melakukan beberapa kegiatan bersamaan, ia tidak benar-benar merasa ada di momen tersebut. Momen-momen tersebut akan lewat begitu saja akibat kita tidak bisa fokus,” tutur psikolog Bernadetta Anjani, M.Psi, Psi kepada Hai-Online.com.

Balik lagi kepada para peneliti di Copenhagen tadi, mereka menjelaskan, ketika Anda fokus pada satu kegiatan dalam satu waktu, otak akan menyerap dan menyimpannya pada bagian otak bernama hippocampus, sehingga mudah dipanggil kembali nanti.

Namun, saat Anda mengalihkan perhatian dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti memakai tablet atau smartphone berbarengan dengan menonton TV, informasi tidak bisa diproses dengan cepat. Informasi yang kita serap nanti malah akan dikirim ke bagian otak yang disebut striatum, yaitu bagian yang bertanggung jawab merencanakan aktivitas gerak dan motivasi, bukan data. Peneliti juga memperingatkan bahwa pengiriman informasi ke striatum akan membuat otak menyimpan informasi di tempat yang salah.

Apa akibatnya bagi otak?

Berdasarkan penjabaran di atas, akibat yang ditimbulkan oleh multitasking adalah Anda bisa menderita gangguan memori jangka panjang. Penelitian menemukan bahwa multitasking yang berkaitan dengan teknologi bisa menurunkan kinerja otak dalam mengontrol otot sampai mengontrol diri sendiri. Anda pun bisa menderita gangguan persepsi sensorik, bicara, bahkan emosi.

Bukan itu saja, penelitian di Denmark tersebut juga menyatakan bahwa lebih dari 80% orang yang memiliki smartphone merasa bersalah ketika mengeceknya, ketika layar perangkat lain sudah ada di hadapan mereka.

Apabila Anda sering melakukan multitasking dan kemudian Anda merasa seperti ada yang salah dengan kemampuan Anda menangkap informasi atau mengingat, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri Anda ke dokter.

Alangkah lebih baik apabila Anda juga mengurangi waktu Anda di depan layar komputer, TV, dan smartphone, atau setidaknya sisihkan waktu khusus untuk fokus pada masing-masing gadget tanpa mengerjakan hal lain di layar yang berbeda.

Dikutip dari Health, ketika kita melakukan multitasking, kita akan kehilangan detail penting dari salah satu pekerjaan yang sedang dilakukan. Tapi bahkan mengganggu pekerjaan lain untuk fokus di pekerjaan lainnya cukup untuk membuat ingatan pendek kita terganggu berdasarkan penelitian yang dilakukan University of California San Francisco pada tahun 2011.

Para peneliti tersebut mengatakan bahwa dalam sebuah penelitian yang melibatkan sejumlah partisipan, orang-orang berusia 60-80 tahun memiliki kesulitan dalam memilih dan mengingat detail gambar yang berbeda dibandingkan mereka yang berusia 20-30-an tahun.

Mereka akan diberikan dua buah gambar, tapi salah satunya tidak bisa diingat detailnya dengan tepat. Seiring bertambahnya usia otak, para peneliti mengatakan akan sangat membutuhkan waktu bagi seseorang untuk bisa kembali mengenali dan mengingat detail akan suatu pekerjaan.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 16, 2016 | Terakhir Diedit: Maret 16, 2020

Yang juga perlu Anda baca