Kenapa Multitasking Ternyata Tidak Baik?

Oleh

Tanggal update Maret 16, 2020
Bagikan sekarang

Di era yang serba cepat ini, kita dituntut untuk bisa bekerja dengan cepat, cermat, dan cerdas. Istilah multitasking tentu sudah sering kita dengar dan kalau di kantor. Bahkan, banyak orang yang menganggap multitasking sebagai sebuah skill atau kelebihan yang patut dibanggakan.

Sayangnya, multitasking ini ternyata tidak baik bagi otak kita. Apalagi ketika kita disibukkan dengan laptop, tablet, atau smartphone kita sambil menonton TV bersama keluarga. Seperti yang ditulis di NationalGeographic.co.id, melakukan multitasking sambil menggunakan gadget bisa merusak kinerja otak kita.

Multitasking dengan gadget adalah yang terburuk

Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari University of Copenhagen, Denmark menunjukkan bahwa berganti-ganti fokus dari satu layar ke layar lain menyebabkan otak menyimpan informasi lebih sedikit. Bukan itu saja, hormon yang mengganggu proses berpikir pun akan dikeluarkan, yang akhirnya bisa menurunkan kecerdasan Anda.

Para peneliti tersebut membuat penelitian dengan cara meminta para respondennya menggunakan smartphone atau tablet mereka sambil menonton TV. Mereka merasa kegiatan multitasking ini membuat mereka semakin produktif dan efisien. Namun, hasil penelitiannya menyebutkan hanya sedikit yang bisa mengingat acara apa yang mereka lihat di TV.

Dalam penelitian lainnya yang dilakukan di University of London, Inggris, para responden yang juga dites mengalami penurunan IQ mirip dengan efek begadang pada malam hari. Penurunan IQ-nya sendiri mencapai 15 poin bagi laki-laki.

Multitasking bisa dilakukan selama seseorang masih kuat untuk melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan. Tapi kalau ia sudah merasa kesulitan melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan, itu bisa membuatnya stres. Biasanya ketika seseorang melakukan beberapa kegiatan bersamaan, ia tidak benar-benar merasa ada di momen tersebut. Momen-momen tersebut akan lewat begitu saja akibat kita tidak bisa fokus,” tutur psikolog Bernadetta Anjani, M.Psi, Psi kepada Hai-Online.com.

Balik lagi kepada para peneliti di Copenhagen tadi, mereka menjelaskan, ketika Anda fokus pada satu kegiatan dalam satu waktu, otak akan menyerap dan menyimpannya pada bagian otak bernama hippocampus, sehingga mudah dipanggil kembali nanti.

Namun, saat Anda mengalihkan perhatian dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti memakai tablet atau smartphone berbarengan dengan menonton TV, informasi tidak bisa diproses dengan cepat. Informasi yang kita serap nanti malah akan dikirim ke bagian otak yang disebut striatum, yaitu bagian yang bertanggung jawab merencanakan aktivitas gerak dan motivasi, bukan data. Peneliti juga memperingatkan bahwa pengiriman informasi ke striatum akan membuat otak menyimpan informasi di tempat yang salah.

Apa akibatnya bagi otak?

Berdasarkan penjabaran di atas, akibat yang ditimbulkan oleh multitasking adalah Anda bisa menderita gangguan memori jangka panjang. Penelitian menemukan bahwa multitasking yang berkaitan dengan teknologi bisa menurunkan kinerja otak dalam mengontrol otot sampai mengontrol diri sendiri. Anda pun bisa menderita gangguan persepsi sensorik, bicara, bahkan emosi.

Bukan itu saja, penelitian di Denmark tersebut juga menyatakan bahwa lebih dari 80% orang yang memiliki smartphone merasa bersalah ketika mengeceknya, ketika layar perangkat lain sudah ada di hadapan mereka.

Apabila Anda sering melakukan multitasking dan kemudian Anda merasa seperti ada yang salah dengan kemampuan Anda menangkap informasi atau mengingat, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri Anda ke dokter.

Alangkah lebih baik apabila Anda juga mengurangi waktu Anda di depan layar komputer, TV, dan smartphone, atau setidaknya sisihkan waktu khusus untuk fokus pada masing-masing gadget tanpa mengerjakan hal lain di layar yang berbeda.

Dikutip dari Health, ketika kita melakukan multitasking, kita akan kehilangan detail penting dari salah satu pekerjaan yang sedang dilakukan. Tapi bahkan mengganggu pekerjaan lain untuk fokus di pekerjaan lainnya cukup untuk membuat ingatan pendek kita terganggu berdasarkan penelitian yang dilakukan University of California San Francisco pada tahun 2011.

Para peneliti tersebut mengatakan bahwa dalam sebuah penelitian yang melibatkan sejumlah partisipan, orang-orang berusia 60-80 tahun memiliki kesulitan dalam memilih dan mengingat detail gambar yang berbeda dibandingkan mereka yang berusia 20-30-an tahun.

Mereka akan diberikan dua buah gambar, tapi salah satunya tidak bisa diingat detailnya dengan tepat. Seiring bertambahnya usia otak, para peneliti mengatakan akan sangat membutuhkan waktu bagi seseorang untuk bisa kembali mengenali dan mengingat detail akan suatu pekerjaan.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

    Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Hidup Sehat, Fakta Unik Mei 3, 2020

    4 Penyebab Sakit Kepala Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

    Sakit kepala saat puasa tentu sangat mengganggu. Nah, kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Ini dia jawabannya!

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Irene Anindyaputri
    Hari Raya, Ramadan April 27, 2020

    Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

    Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh Maria Amanda
    Hidup Sehat, Psikologi April 23, 2020

    KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

    Kondisi pandemi bisa membuat hal-hal kecil menjadi pertengkaran antara suami istri, tapi konflik rumah tangga ini tidak serta-merta merupakan KDRT.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 April 22, 2020

    Direkomendasikan untuk Anda

    Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

    Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Tanggal tayang Mei 17, 2020
    Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Tanggal tayang Mei 15, 2020
    Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

    Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu
    Tanggal tayang Mei 13, 2020
    Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

    Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Ajeng Quamila
    Tanggal tayang Mei 10, 2020