Ini Bahaya Membungkus Makanan Panas dengan Plastik

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Di zaman sekarang ini, plastik selalu berperan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat penggunaan bungkus atau kemasan plastik di masyarakat semakin meningkat, termasuk sebagai pembungkus makanan. Padahal, untuk makanan jenis tertentu, seperti makanan panas, membungkus makanan dengan plastik tidak disarankan. Simak alasannya berikut ini.

Mengapa membungkus makanan panas dengan plastik berbahaya?

Para peneliti telah menemukan jika bahan kimia yang terkandung dalam produk plastik bertanggung jawab atas berbagi macam kondisi medis. Pasalnya, semua jenis plastik dibuat dari minyak bumi dengan campuran berbagai bahan kimia yang bersifat racun.

Sebagai contoh, Bisphenol A (BPA) yang menyebabkan gangguan tubuh seperti infertilitas atau penurunan kesuburan, Polystirena (PS) yang bersifat karsinogenik dan memicu timbulnya kanker.

Selain itu, ada juga bahan lainnya seperti PVC (Poly Vinyl Chlorida) yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Oleh sebab itu ketika plastik terkena suhu tinggi, maka zat terkandung dalam plastik dapat melepaskan berbagai bahan kimiawi.

Jika dikonsumsi, kandungan bahan kimiawi tersebut akan masuk pada jaringan tubuh. faktor yang menyebabkan mudahnya perpindahan zat kimia tersebut karena lemahnya ikatan struktur plastik, yaitu hasil sisa monomer plastik. Migrasi sisa monomer plastik makin besar jika makanan yang dibungkus mengandung suhu tinggi, seperti kuah bakso, gorengan, makan berlemak tinggi, ataupun makanan yang mengandung kadar asam tinggi.

Perpindahan bahan kimiawi ke dalam makanan juga dipengaruhi oleh lamanya kontak makanan dengan plastik. Jadi, ketika makanan dengan suhu tinggi dibiarkan terlalu lama di dalam plastik, maka kontak sisa monomer plastiknya juga semakin banyak.

Apa risiko kesehatan yang mungkin timbul dari konsumsi makanan panas dalam plastik?

Semua plastik mengandung bahan kimia beracun yang memiliki efek negatif pada kekebalan tubuh dan regulasi hormon yang secara tidak langsung mempengaruhi kesuburan.

Oleh sebab itu, jika Anda terbiasa mengonsumsi makanan panas yang dibungkus dalam plastik secara terus menerus dan dalam jangka waktu lama, kemungkinan dapat menyebabkan perubahan jaringan yang rentan terkena penyakit kanker, kemandulan, kerusakan genetik, kesalahan kromosom, keguguran, dan cacat lahir.

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Environmental Health Perspectives, dijelaskan bahwa bahan kimia yang digunakan dalam plastik, seperti bisphenol A diglisidil eter (BADGE), benar-benar dapat menyebabkan sel-sel induk menjadi sel-sel lemak. Hal ini membuat metabolisme Anda terprogram ulang sehingga memungkinkan bagi Anda untuk menyimpan lebih banyak kalori yang menyebabkan risiko obesitas.

Perlu Anda ketahui jika janin, bayi, dan anak-anak adalah kelompok umur yang paling berisiko terhadap efek buruk dari bahan kimia akibat penggunaan plastik yang berkontak dengan makanan panas. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan proses tumbuh kembang memungkinkan bisa terganggu akibat paparan bahan-bahan kimia tersebut.

Cara menghindari bahaya plastik pada makanan Anda

Berdasarkan penjelasan yang sudah dijabarkan di atas, itu sebabnya sangat penting meminimalisir penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Berikut cara yang bisa Anda terapkan di rumah:

  • Hindarilah membungkus makanan panas dengan plastik. Sebaiknya Anda menggunakan wadah yang berbahan kaca, keramik, atau stainless steel untuk tempat makanan Anda.
  • Jangan menggunakan plastik ketika memanaskan makanan dengan menggunakan oven microwave, terutama plastik yang dibuat dari PVC atau PS. Gunakan jenis kemasan food grade yang khusus digunakan untuk oven microwave.
  • Hindari membungkus makanan dengan plastik hasil daur ulang (recycle), seperti tas “kresek” hitam.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Obat Ranitidine Mengandung Zat Pemicu Kanker, Masih Boleh Digunakan?

Ranitidine adalah obat refluks asam lambung. Namun, FDA melaporkan bahwa ranitidine mengandung zat kanker. Lantas, amankah digunakan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 September 2019 . Waktu baca 4 menit

Bibir Terasa Panas Seolah Terbakar? Begini Cara Mengobatinya

Kondisi bibir terasa panas, kering, dan perih membuat penderitaan Anda begitu lengkap. Selain makan, bicara pun sulit untuk dilakukan. Bisakah disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 22 November 2018 . Waktu baca 4 menit

Kantong Teh Mengandung Zat Karsinogenik, Mitos atau Fakta?

Teh memberikan banyak manfaat kesehatan. Akan tetapi, ada yang bilang bahwa kantong teh celup mengandung zat karsinogenik penyebab kanker. Apa benar?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Hidup Sehat, Fakta Unik 29 Juli 2018 . Waktu baca 3 menit

Apa Itu Karsinogen? Apa Benar Bisa Menyebabkan Kanker?

Katanya, karsinogen adalah zat yang berbahaya dan bisa menyebabkan kanker. Lantas, sebenarnya apa sih karsinogen itu? Bagaimana bisa menyebabkan kanker?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Tamara Alessia
Hidup Sehat, Fakta Unik 11 Juni 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

memanaskan makanan

Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
kol goreng

Bahaya Kesehatan yang Mengintai di Balik Lezatnya Kol Goreng

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2020 . Waktu baca 3 menit
ranitidin ditarik

Berpotensi Sebabkan Kanker, BPOM Perintahkan Penarikan Ranitidine dari Peredaran

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2019 . Waktu baca 4 menit