Apakah IQ Seseorang Bisa Naik Atau Turun?

Oleh

Ketika kita beranjak dewasa, institusi tempat kita belajar biasanya melakukan tes kecerdasan pada murid-muridnya, atau dikenal juga dengan tes IQ. Pernahkah Anda mengikuti tes IQ berkali-kali? Bagaimana hasilnya? Tetap sama, meningkat atau malah menurun? Mengapa bisa demikian? Beberapa penelitian menyebutkan bahwa IQ berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, yang perlu Anda ketahui adalah bahwa kecerdasan tidak ditetapkan dari lahir.

Apakah IQ seseorang dapat berubah?

Pada saat anak-anak dan remaja, kecerdasan seseorang cenderung rentan terhadap perubahan. Jadi, masih sangat mungkin untuk berubah. Pada anak-anak, hubungan antara ukuran otak dan IQ  tidak terlalu berpengaruh, dibandingkan pada orang dewasa. IQ sendiri dikaitkan dengan perkembangan otak dengan cara yang rumit. Sebuah penelitian yang dikutip oleh situs Psychology Today, dengan partisipan anak-anak, ditemukan bahwa anak-anak usia 7 tahun dengan IQ tinggi (lebih dari 120) cenderung memiliki ketebalan kortikal yang kurang, tetapi setelahnya ditemukan juga peningkatan ketebalan kortikal pada anak-anak dengan IQ tinggi.

Menurut, Nicholas J. Mackintosh, seorang peneliti IQ, dalam bukunya  IQ and Human Intelligence yang dikutip Psychology Today, jika IQ Anda di usia 40 tahun masih sama dengan IQ Anda saat berusia 10 tahun, maka ada sesuatu serius yang salah dalam hidup Anda.

Berbagai teor mengenai IQ

Serangkaian tes IQ dipercaya menjadi hasil yang valid untuk mengetahui minat dan kecerdasan seseorang, benarkah demikian? Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah pendapat beberapa peneliti yang dikutip dari situs Live Science:

Teori 1: Kecerdasan diukur dari kemampuan, bukan hanya pengetahuan

Menurut Jack Naglieri, dosen penelitian di University of Virginia, IQ dapat berubah tergantung beberapa faktor. Cara terbaik untuk mengukur kecerdasan adalah dengan mengukur kemampuan yang berdasarkan pada  pengetahuan yang ia peroleh, terpisah dari pengetahuan yang ia miliki. Terkadang, kecerdasan diperoleh bukan karena anak-anak tersebut diajari untuk menjadi cerdas, kecerdasan diperoleh dengan cara mengajarkan mereka untuk menggunakan apa yang mereka punya secara efisien. Menurut Naglieri, orang-orang sulit membedakan antara kemampuan dan pengetahuan. Seseorang dapat belajar dan meningkatkan kosa kata, tetapi hal tersebut belum tentu membuatnya menjadi lebih pintar.

Teori 2: IQ meningkat 3 poin setiap dekade

Menurut Richard Nisbett, dosen psikologi di University of Michigan, IQ dapat berubah setiap saat. Namun, tes IQ seringnya memberikan hasil yang sama, bahkan setelah bertahun-tahun dicoba kembali. Namun, semakin Anda dewasa, ketastabilan akan mempengaruhi hasil skor. Maka, rata-rata IQ setiap orang akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Pada masyarakat modern, kemampuan pun bertambah, sehingga sangat mungkin IQ meningkat 3 poin per dekade. Penelitian mengungkapkan adanya peningkatan 18 poin rata-rata IQ orang-orang yang hidup antara tahun 1947 dan 2002. Rata-rata IQ orang yang berumur 20 tahun di tahun 1947 lebih rendah dibandingkan dengan orang 20 tahun yang hidup di tahun 2002. Namun, untuk kasus IQ sebagai alat ukur kecerdasan, Nesbitt belum yakin mengenai validitasnya.

Teori 3: Pengalaman dan pendidikan formal dapat mengubah IQ

Menurut Stephen Ceci, dosen perkembangan psikologi di Cornell University, setelah melakukan penelitian dengan mengamati partisipan dari kecil hingga dewasa selama bertahun-tahun sebagai objek penelitiannya, terbukti bahwa adanya perubahan area verbal di otak, sehingga remaja mengalami peningkatan IQ verbal. Menurutnya, banyak penelitian yang menunjukkan IQ dapat berubah. Ada beberapa faktor yang berkorelasi dengan perubahan IQ, salah satunya adalah perubahan cara ia diajarkan di sekolah. Anak-anak yang diajarkan dengan cara sistematis bukan tematik, biasanya mengalami peningkatan IQ. Sebab, pola sistematis lebih berpengaruh dalam beberapa tes IQ.

Ditemukan pula beberapa penelitian yang menunjukkan perubahan otak. Seorang pengemudi taksi di London mengalami perubahan otak ketika otaknya di-scan setelah dan sebelum aktivitas mengemudi, ketika ia harus belajar menavigasi jalan berlabirin di London. Hal tersebut dipicu oleh kemampuan navigasi yang digunakan. Menurut Ceci, pengalaman hidup dan pengalaman terkait masa sekolah seseorang dapat mengubah otak dan IQ seseorang.

Teori 4: IQ itu tidak ada, dan hasil tes IQ bersifat relatif

Berbeda dengan pendapat pakar-pakar sebelumnya, menurut Alan S. Kaufman, dosen psikologi klinis di Yale University School of Medicine, tidak ada yang namanya IQ. Konsep IQ sendiri bersifat relatif. IQ hanyalah representasi seberapa baik Anda melakukan sesuatu, sedangkan tes IQ hanya berupa pembanding dengan orang-orang yang seumuran dengan Anda. Kita tidak bisa menelan bulat-bulat hasil tes IQ, misalnya skor 126, karena tes IQ terpercaya pun memberikan Anda interval kepercayaan sebanyak 95%. Maka, Anda dapat mengatakan bahwa dengan interval 95% tersebut, seseorang yang skor IQ-nya 126 bisa jadi memiliki IQ antara 120 dan 132.

Teori 5: Kita bisa melatih diri sendiri untuk meningkatkan kecerdasan

Kevin McGrew, pemimpin Institute for Applied Psychometrics, menyebutkan bahwa perubahan IQ tergantung dari beberapa hal. Menurutnya, penting bagi kita untuk membedakan dua jenis kecerdasan yang berbeda. Ada yang disebut kecerdasan biologi, dalam hal ini didefinisikan sebagai efisiensi saraf. Selain itu, ada kecerdasan psikometri – skor IQ yang terukur, hal ini merupakan metode yang secara tidak langsung dan tidak sempurna digunakan untuk memperkirakan kecerdasan biologi Anda.

Pertanyaannya sekarang adalah, dapatkah kita meningkatkan kecerdasan biologi? Berbagai riset telah dilakukan selama beberapa dekade belakangan dengan menggunakan neurotechnologies (program yang mengetahui cara memahami otak berdasarkan berbagai aspek), sangat mungkin menyempurnakan efisiensi saraf Anda. Fungsi kognitif Anda dapat dilatih untuk bekerja lebih efisien.

Pertanyaan lainnya sekarang adalah, dapatkah IQ seseorang berubah? Jawabannya, ya bisa. Perubahan skor tersebut mungkin tidak didasari adanya perubahan nyata kecerdasan secara menyeluruh, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan yang berbeda. Ada beberapa kemampuan yang lebih stabil (contohnya kemampuan verbal), ada juga yang kurang stabil (contohnya kecepatan kognitif dalam memproses, ingatan jangka pendek).

Yang penting adalah Anda tahu cara menggunakan kecerdasan Anda, bukan hanya memiliki level tertentu kecerdasan secara umum saja. Pertanyaan yang bisa ditanyakan pada diri Anda adalah, seberapa baik Anda melakukan perencanaan? Seberapa baik Anda merespon jika situasi tidak berjalan baik? Sifat-sifat non-kognitif ini dapat mengubah kemampuan kognitif Anda.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca