Mengenal Alexithymia, Kondisi yang Bikin Anda Susah Ungkapkan Emosi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Tidak semua orang bisa mengungkapkan emosinya dengan baik. Namun, bagi orang yang mengalami alexithymia, hal ini menjadi suatu hal yang lebih sulit lagi. Alexithymia adalah ketidakmampuan untuk mengenali dan menyampaikan emosi. Sering dikaitkan dengan gangguan antisosial, kondisi ini sebenarnya memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut ulasannya.

Mengapa ada orang yang mengalami alexithymia?

mengatasi rasa sedih

Saat menghadapi pertanyaan, “Bagaimana perasaan Anda?”, Anda mungkin bingung menentukan jawabannya.

Inilah yang dialami oleh orang-orang dengan alexithymia. Meski paham bahwa dirinya tengah merasa senang, mereka tidak tahu cara mengungkapkannya.

Alexithymia bukanlah penyakit ataupun gangguan mental. Kondisi ini bersifat subklinis.

Artinya, ciri-cirinya tak bisa disamakan dengan gejala penyakit klinis seperti diabetes, gangguan bipolar, flu, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), dan sebagainya.

Meski demikian, alexithymia adalah fenomena psikologis yang tetap diakui keberadaannya.

Kondisi ini sering dikaitkan, bahkan muncul bersamaan dengan gangguan mental seperti depresi, PTSD, autisme, hingga skizofrenia.

Penyebab alexithymia belum dipahami secara pasti. Akan tetapi, para ahli menduga bahwa pemicunya berasal dari faktor genetik, trauma masa kecil, serta penyakit fisik atau mental yang memengaruhi fungsi tertentu pada otak.

Pada sebuah penelitian dalam jurnal Neuropsychologia, kerusakan pada insula anterior otak ternyata memicu gangguan emosi yang mirip dengan alexithymia.

Insula anterior adalah bagian otak yang mengatur perasaan, perhatian, dan kepekaan terhadap rangsangan panca indra.

Apa saja ciri-ciri alexithymia?

punya muka jutek

Secara umum, ciri utama dari alexithymia adalah ketidakmampuan mengungkapkan emosi.

Ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka yang mengalami alexithymia cenderung menunjukkan perilaku sebagai berikut:

  • Kesulitan mengenali emosi dan perasaan.
  • Kesulitan membedakan antara emosi dan respons tubuh terhadap emosi tersebut.
  • Kesulitan mengenali serta merespons emosi orang lain, termasuk ekspresi wajah dan nada bicara.
  • Memiliki cara berpikir yang sangat logis dan kaku tanpa menyertakan perasaan.
  • Tidak mampu menyampaikan perasaannya dengan baik.
  • Tidak memiliki mekanisme pengalihan emosi yang baik saat menghadapi stres.
  • Jarang berimajinasi atau berfantasi.
  • Terkesan kaku, menjauhkan diri, tidak punya selera humor, dan cuek terhadap orang lain.
  • Merasa tidak puas akan hidupnya.

Alexithymia adalah kondisi yang muncul dalam bentuk spektrum. Artinya, tingkat keparahan dan dampaknya berbeda pada setiap orang.

Seseorang mungkin masih bisa mengenali emosinya, tapi ada pula yang tidak bisa melakukannya sama sekali.

Pada beberapa kasus, orang yang mengalami alexithymia bahkan tidak menyadari kondisi ini.

Dampaknya adalah frustrasi pada penderita maupun orang-orang di sekitarnya, sebab ketidakmampuan mengungkapkan emosi menjadi hambatan dalam berinteraksi.

Apakah alexithymia bisa diatasi?

konseling psikologi

Cara mengatasi alexithymia adalah dengan menangani masalah psikologis yang menjadi pemicunya.

Ini sebabnya ketika Anda merasa mengalami gejala alexithymia, langkah pertama yang perlu Anda ambil adalah berkonsultasi dengan psikolog.

Psikolog akan membantu Anda belajar mengenali emosi, sebab ini adalah masalah utama yang dialami orang-orang dengan alexithymia.

Anda pun bisa menjalani terapi untuk memahami hubungan antara pikiran, emosi, dan respons yang Anda berikan.

Jenis terapi yang dapat dilakukan antara lain terapi kelompok, skill-based therapy, terapi kognitif dan perilaku, dan lain sebagainya.

Selain untuk mengatasi alexithymia, terapi-terapi ini juga ditujukan untuk menangani masalah psikologis yang Anda alami.

Kendati bukan merupakan kondisi medis, alexithymia adalah fenomena psikologis yang berdampak pada kehidupan.

Namun, Anda tidak perlu cemas. Perlahan tapi pasti, terapi rutin bersama psikolog dapat membantu Anda mengenali dan mengungkapkan emosi dengan baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

Berpikir positif memang tidak akan mengakhiri pandemi COVID-19 begitu saja. Namun, hal ini bisa membuat Anda berpikir lebih jernih saat mengambil keputusan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 5 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit

Pentingnya Kecerdasan Emosional di Tempat Kerja

Pentingnya kecerdasan emosional saat bekeja dapat mempengaruhi kemapuan Anda dalam menjaga hubungan sesama teman kerja hingga kesuksesan dalam berkarir.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Psikologi 26 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Anak Terlalu Sensitif dalam Mengelola Emosi? Hadapi dengan 4 Trik Ini

Anak yang terlalu sensitif dalam mengelola emosi akan mangalami kesulitan saat dewasa. Untuk menghadapinya, orangtua bisa lakukan hal ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Parenting, Tips Parenting 22 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

3 Dampak Merugikan yang Muncul Saat Anda Benci Kepada Diri Sendiri

Perasaan benci kepada diri sendiri tentu akan menimbulkan berbagai dampak yang bisa merusak kualitas hidup Anda. Apa saja dampak tersebut?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 11 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perkembangan emosi anak

Mengulik Tahapan Perkembangan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 9 menit
sifat sensitif genetik

Anda Sering Dibilang Sensitif? Bisa Jadi Ini Bawaan Genetik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat menulis jurnal mental

3 Manfaat Menulis Jurnal untuk Kesehatan Mental dan Cara Memulainya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 7 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit
kecerdasan emosional terlalu tinggi

5 Dampak Memiliki Kecerdasan Emosional yang Terlalu Tinggi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 6 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit