Alasan Psikologis Mengapa Orang Berbohong Tak Cukup Sekali

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sekali Anda berbohong, maka Anda harus mempersiapkan kebohongan berikutnya. Pernyataan tersebut ternyata tidak hanya sekadar nasihat atau ajaran dari orangtua Anda saja, tetapi juga dapat dijelaskan dalam ilmu sains. Ketika orang berbohong maka ia seperti kecanduan akan kebohongannya. Mungkin tidak hanya satu atau dua kebohongan saja yang terlontar dari mulutnya, tetapi lebih dari itu.

Lalu apa sih yang menyebabkan orang berbohong jika dilihat dari ilmu psikologi? Dan apa yang membuat kebohongan tersebut menjadi candu tersendiri?

Apa alasan orang berbohong?

Saat berada dalam keadaan yang terpepet, biasanya orang mulai berbohong demi mendapatkan keuntungan atau sekadar menyelamatkan dirinya dari kondisi yang terburuk. Ketika terpikir untuk berbohong, maka dalam pikiran orang tersebut langsung terlintas berbagai pertanyaan, seperti “apa yang akan saya dapatkan dari kebohongan? Ataukah kebohongan ini berdampak negatif pada saya? Dan seberapa banyak masalah atau keuntungan yang bisa saya dapatkan”. Berbagai pemikiran tersebut adalah pemicu mengapa seseorang berbohong.

Sebenarnya banyak alasan lainnya yang diakui oleh sebagian besar orang sebagai alasannya untuk berbohong, seperti tidak mau menyakiti orang yang disayangi, ingin mengendalikan situasi, hingga mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Padahal, semua alasan tersebut tidak lah perlu mereka lakukan. Apapun alasannya, kebenaran adalah fakta yang paling baik untuk didengar. Lagi pula, Anda harus berhati-hati jika sudah pernah berbohong, pasti Anda akan kecanduan untuk berbohong lagi. Kenapa?

Lalu mengapa orang berbohong berkali-kali?

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience membuktikan sendiri bagaimana orang berbohong tak hanya cukup sekali saja. dalam penelitian ini, para ahli melihat dan menganalisis otak seseorang yang sedang berbohong. Penelitian yang hanya mengajak 80 relawan ini membuat beberapa skenario dan mengetes tingkat kebohongan dari masing-masing peserta. Kemudian, apa yang ditemukan dari penelitian tersebut?

Para ahli menyatakan bahwa kebiasaan berbohong tergantung dengan respon otak seorang individu. Jadi begini, saat seseorang berbohong maka bagian otak yang paling aktif dan bekerja ketika itu adalah amigdala. Amigdala merupakan area otak yang berperan penting dalam mengatur emosi, perilaku, serta motivasi seseorang.

Pada saat orang berbohong pertama kalinya, maka amigdala akan menolak perilaku yang Anda lakukan dengan menimbulkan respon emosi. Respon emosi ini dapat berupa rasa takut yang muncul ketika berkata bohong. Namun saat tidak terjadi hal yang buruk – padahal sudah berkata bohong – maka amigdala akan menerima perilaku itu dan kemudian tidak lagi mengeluarkan respon emosi, yang sebenarnya dapat mencegah Anda berbohong untuk ketiga kalinya.

Sebenarnya, otak Anda melawan ketika berbohong, tetapi kemudian mulai beradaptasi

Bisa dibilang jika semua orang pasti pernah berbohong, termasuk Anda. kebohongan sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh manusia. Tetapi sayangnya, Anda tidak memiliki kemampuan tersebut – pada awalnya. Ya, ketika Anda berbohong, pasti berbagai fungsi tubuh Anda berubah, seperti detak jantung lebih cepat, berkeringat lebih banyak, bahkan hingga gemetaran.

Ini artinya otak Anda merespon kebohongan yang Anda ucapkan sebelumnya. Anda merasa takut ketahuan dan akhirnya menjadi buruk bagi Anda. hal tersebut membuat otak Anda melawan dan akhirnya muncul lah berbagai perubahan fungsi tubuh itu. Namun jika Anda melakukannya berkali-kali – apalagi ketika kebohongan pertama berhasil – maka otak justru beradaptasi dengan kebohongan yang Anda lakukan.

Otak mengira bahwa tidak masalah jika berbohong satu kali, sehingga otak akan beradaptasi dan lama kelamaan tidak ada lagi perubahan fungsi tubuh ketika Anda bohong. Selain itu, hal tersebut menandakan bahwa respon emosional Anda terhadap kebohongan kian berkurang, sehingga ada akhirnya, Anda akan terus memberi tahu kebohongan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

Kuku yang cantengan tak hanya mengerikan untuk dipandang mata, namun bisa terasa menyakitkan dan mungkin bernanah. Begini cara mengobatinya.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Mungkin Anda kaget saat tahu kalau kelopak mata bengkak tiba-tiba. Ada banyak hal yang bisa bikin kelopak mata Anda bengkak. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
tanggal kedaluwarsa

4 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tanggal Kedaluwarsa

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit