Alasan Psikologis Mengapa Orang Berbohong Tak Cukup Sekali

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sekali Anda berbohong, maka Anda harus mempersiapkan kebohongan berikutnya. Pernyataan tersebut ternyata tidak hanya sekadar nasihat atau ajaran dari orangtua Anda saja, tetapi juga dapat dijelaskan dalam ilmu sains. Ketika orang berbohong maka ia seperti kecanduan akan kebohongannya. Mungkin tidak hanya satu atau dua kebohongan saja yang terlontar dari mulutnya, tetapi lebih dari itu.

Lalu apa sih yang menyebabkan orang berbohong jika dilihat dari ilmu psikologi? Dan apa yang membuat kebohongan tersebut menjadi candu tersendiri?

Apa alasan orang berbohong?

Saat berada dalam keadaan yang terpepet, biasanya orang mulai berbohong demi mendapatkan keuntungan atau sekadar menyelamatkan dirinya dari kondisi yang terburuk. Ketika terpikir untuk berbohong, maka dalam pikiran orang tersebut langsung terlintas berbagai pertanyaan, seperti “apa yang akan saya dapatkan dari kebohongan? Ataukah kebohongan ini berdampak negatif pada saya? Dan seberapa banyak masalah atau keuntungan yang bisa saya dapatkan”. Berbagai pemikiran tersebut adalah pemicu mengapa seseorang berbohong.

Sebenarnya banyak alasan lainnya yang diakui oleh sebagian besar orang sebagai alasannya untuk berbohong, seperti tidak mau menyakiti orang yang disayangi, ingin mengendalikan situasi, hingga mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Padahal, semua alasan tersebut tidak lah perlu mereka lakukan. Apapun alasannya, kebenaran adalah fakta yang paling baik untuk didengar. Lagi pula, Anda harus berhati-hati jika sudah pernah berbohong, pasti Anda akan kecanduan untuk berbohong lagi. Kenapa?

Lalu mengapa orang berbohong berkali-kali?

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience membuktikan sendiri bagaimana orang berbohong tak hanya cukup sekali saja. dalam penelitian ini, para ahli melihat dan menganalisis otak seseorang yang sedang berbohong. Penelitian yang hanya mengajak 80 relawan ini membuat beberapa skenario dan mengetes tingkat kebohongan dari masing-masing peserta. Kemudian, apa yang ditemukan dari penelitian tersebut?

Para ahli menyatakan bahwa kebiasaan berbohong tergantung dengan respon otak seorang individu. Jadi begini, saat seseorang berbohong maka bagian otak yang paling aktif dan bekerja ketika itu adalah amigdala. Amigdala merupakan area otak yang berperan penting dalam mengatur emosi, perilaku, serta motivasi seseorang.

Pada saat orang berbohong pertama kalinya, maka amigdala akan menolak perilaku yang Anda lakukan dengan menimbulkan respon emosi. Respon emosi ini dapat berupa rasa takut yang muncul ketika berkata bohong. Namun saat tidak terjadi hal yang buruk – padahal sudah berkata bohong – maka amigdala akan menerima perilaku itu dan kemudian tidak lagi mengeluarkan respon emosi, yang sebenarnya dapat mencegah Anda berbohong untuk ketiga kalinya.

Sebenarnya, otak Anda melawan ketika berbohong, tetapi kemudian mulai beradaptasi

Bisa dibilang jika semua orang pasti pernah berbohong, termasuk Anda. kebohongan sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh manusia. Tetapi sayangnya, Anda tidak memiliki kemampuan tersebut – pada awalnya. Ya, ketika Anda berbohong, pasti berbagai fungsi tubuh Anda berubah, seperti detak jantung lebih cepat, berkeringat lebih banyak, bahkan hingga gemetaran.

Ini artinya otak Anda merespon kebohongan yang Anda ucapkan sebelumnya. Anda merasa takut ketahuan dan akhirnya menjadi buruk bagi Anda. hal tersebut membuat otak Anda melawan dan akhirnya muncul lah berbagai perubahan fungsi tubuh itu. Namun jika Anda melakukannya berkali-kali – apalagi ketika kebohongan pertama berhasil – maka otak justru beradaptasi dengan kebohongan yang Anda lakukan.

Otak mengira bahwa tidak masalah jika berbohong satu kali, sehingga otak akan beradaptasi dan lama kelamaan tidak ada lagi perubahan fungsi tubuh ketika Anda bohong. Selain itu, hal tersebut menandakan bahwa respon emosional Anda terhadap kebohongan kian berkurang, sehingga ada akhirnya, Anda akan terus memberi tahu kebohongan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

Selain alergi susu dan kacang, ada juga alergi bawang putih. Apa penyebabnya dan adakah cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Alergi, Alergi Makanan 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
masalah seks pada pria

5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit