home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Perikoronitis

Perikoronitis

Pernahkah Anda mengalami gusi bengkak yang terasa nyeri ketika mengunyah makanan atau menggosok gigi? Hati-hati, bisa jadi ini adalah pertanda kondisi tertentu, salah satunya perikoronitis. Seperti apa penyakitnya?

Apa itu perikoronitis?

Perikoronitis adalah salah satu jenis gangguan pada mulut. Kondisi ini terjadi ketika terdapat jaringan gusi yang membengkak dan mengalami peradangan di sekitar gigi. Gigi yang umumnya terdampak adalah gigi bungsu, gigi geraham ketiga, dan geraham terakhir.

Salah satu penyebab utama dari kondisi ini adalah gigi geraham yang tidak dapat keluar secara sempurna, atau yang dikenal dengan impaksi gigi. Selain itu, peradangan sering kali menyerang jaringan gusi bawah, bukan di bagian atas.

Perikoronitis berbeda dengan infeksi gusi (periodontitis), di mana kondisi ini spesifik terjadi pada area di sekitar gigi yang tumbuh. Penyebab dari kondisi ini menyerupai pembentukan abses gusi pada periodontitis, di mana sisa-sisa makanan terjebak di bawah jaringan gusi.

Kondisi ini dapat menjadi akut atau kronis. Perikoronitis yang kronis cenderung menimbulkan gejala-gejala peradangan yang ringan. Pada kasus yang akut, gejala-gejala yang muncul lebih berat, seperti demam, pembengkakan, dan infeksi.

Dokter gigi mungkin akan menyarankan Anda mengangkat jaringan gusi atau mencabut gigi yang terdampak. Setelah itu, dokter akan memberikan pengobatan yang berfokus pada mengatasi gejala-gejala.

Seberapa umumkah penyakit ini terjadi?

Perikoronitis adalah penyakit mulut yang cukup umum terjadi. Biasanya, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada orang-orang yang baru memasuki usia 20 tahun. Kondisi ini sangat jarang terjadi pada pasien di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun.

Persentase kejadian penyakit ini pada pasien berusia 20 hingga 29 tahun adalah sebesar 81%. Anda bisa mencegah kehadiran penyakit ini dengan mengetahui dan mengurangi faktor-faktor risiko yang ada.

Apa saja gejala perikoronitis?

Tanda-tanda dan gejala perikoronitis umumnya bervariasi, tergantung apakah kondisi yang diderita pasien tergolong dalam jenis akut atau kronis.

Berikut adalah tanda-tanda dan gejala yang terjadi pada kasus yang akut:

  • Rasa sakit di bagian belakang gigi
  • Pembengkakan pada jaringan gusi (akibat penumpukan cairan)
  • Rasa sakit ketika menelan
  • Adanya infeksi
  • Kesulitan tidur
  • Kesulitan membuka mulut (trismus)
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher

Selain itu, terdapat beberapa gejala tambahan yang menandai bahwa penyakit ini termasuk kronis, yaitu:

  • bau mulut tidak sedap (halitosis),
  • rasa sakit ringan atau mati rasa yang berlangsung selama 1-2 hari, dan
  • muncul nanah dari gusi, sehingga mulut terasa tidak sedap.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter gigi?

Anda harus segera pergi ke dokter gigi bila perikoronitis sudah menimbulkan gejala parah beserta demam dan pembengkakan. Perawatan di rumah tidak disarankan dan harus dilakukan oleh profesional.

Apa saja penyebab perikoronitis?

Perikoronitis dapat terjadi ketika penderita mengalami impaksi gigi, yaitu kondisi di mana gigi bungsu atau gigi geraham tidak dapat keluar dengan sempurna.

Pada kondisi yang normal gigi seharusnya keluar dari gusi seutuhnya. Namun, dalam kondisi ini, gigi hanya tumbuh sebagian dari gusi.

Kondisi tersebut menyebabkan bakteri mudah masuk di sela-sela gigi, sehingga infeksi terjadi. Dalam kasus penyakit ini, makanan atau plak dapat menumpuk dan tersangkut di lipatan gusi sekitar gigi. Apabila penumpukan tersebut dibiarkan terlalu lama, gusi dapat teriritasi.

Jika iritasi dan peradangan semakin parah, akan terjadi pembengkakan dan infeksi yang menjalar hingga ke rahang.

Apa saja faktor-faktor yang meningkatkan risiko terkena perikoronitis?

Perikoronitis adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja, tidak memandang dari kelompok usia maupun golongan ras. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gejala-gejalanya.

1. Usia

Sebanyak 81% penderita penyakit ini termasuk dalam kelompok usia 20-29 tahun. Kondisi ini jarang terjadi pada orang-orang berusia di bawah 20 atau di atas 40.

Maka dari itu, apabila Anda termasuk dalam golongan usia tersebut, peluang Anda untuk terkena penyakit ini jauh lebih besar.

2. Kebersihan mulut

Salah satu faktor utama yang memicu terjadinya masalah pada mulut, termasuk perikoronitis, terutama yang bersifat akut, adalah kurang terjaganya kebersihan mulut.

Mulut yang kotor sangat rawan terserang infeksi. Oleh karena itu, apabila Anda tidak menjaga kebersihan mulut Anda dengan baik, risiko Anda untuk mengalami kondisi ini lebih tinggi.

3. Stres

Dilaporkan setidaknya 66% kasus penyakit ini disebabkan oleh adanya masalah emosional, seperti stres. Jika Anda sering mengalami tekanan dan stres, peluang Anda untuk menderita penyakit ini lebih besar.

4. Menderita infeksi saluran pernapasan atas

Selain stres, masalah kesehatan lain yang dikaitkan dengan peradangan pada gusi adalah infeksi saluran pernapasan atas. Sebanyak 43% kasus penyakit ini berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas.

5. Kehamilan

Meskipun belum diketahui secara pasti mengapa, kehamilan juga dikaitkan dengan adanya masalah atau gangguan pada mulut dan gusi. Maka dari itu, risiko Anda untuk mengalami penyakit ini lebih tinggi apabila Anda sedang mengandung.

6. Gigi bungsu atau geraham yang tidak keluar dengan sempurna

Apabila Anda memiliki gigi bungsu atau gigi geraham yang tidak tumbuh sepenuhnya, kesempatan Anda untuk mengalami peradangan pada gusi di sekitar gigi lebih besar.

Memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda dipastikan akan terkena suatu penyakit. Ada pula kemungkinan kecil untuk mengalami kondisi ini walaupun Anda tidak memiliki satu pun faktor risiko.

Bagaimana perikoronitis didiagnosis?

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Dokter gigi biasanya akan menemukan adanya perikoronitis selama evaluasi atau pemeriksaan klinis rutin, atau ketika Anda sedang memeriksakan diri untuk masalah gigi lainnya.

Saat mendiagnosis, dokter akan mengecek gigi bungsu dan gigi geraham Anda, apakah terdapat peradangan, kemerahan, atau nanah yang keluar dari gusi.

Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah ada lipatan atau sobekan gusi di bagian yang terdampak. Terkadang, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan tes X-ray.

Bagaimana perikoronitis diatasi atau diobati?

Dokter gigi Anda akan mempertimbangkan apa jenis pengobatan dan penanganan yang tepat untuk Anda, tergantung pada bagaimana kondisi kesehatan dan kebutuhan Anda. Berikut adalah fokus pengobatan untuk perikoronitis:

  • Mengendalikan atau mengurangi rasa sakit di sekitar gigi geraham
  • Mengangkat lapisan atau lipatan gusi yang menutupi impaksi
  • Mencabut gigi yang tidak dapat keluar dengan sempurna

Apabila Anda merasakan nyeri akibat gigi yang akan tumbuh, dokter gigi Anda mungkin akan memberikan beberapa jenis obat-obatan yang dapat membantu meredakan rasa sakit.

Selama proses pembersihan plak dan partikel makanan pada gusi Anda, dokter akan memberikan bius lokal agar Anda tidak merasakan nyeri atau ngilu. Setelah itu, dokter juga akan meresepkan ibuprofen (Advil) atau acetaminophen (Tylenol).

Apabila terjadi pembengkakan atau infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik, seperti penicillin atau erythromycin (Erythrocin Stearate).

Apa saja kebiasaan atau pencegahan yang bisa dilakukan di rumah untuk mengatasi perikoronitis?

Meski penyakit ini biasanya cenderung ringan, tentu tetap lebih baik bila Anda mencegahnya. Langkah ini juga bisa membantu penyembuhan Anda dari penyakitnya.

Kunci utama yang akan menghindari Anda dari penyakit ini adalah selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut Anda. Dengan rajin menggosok gigi setidaknya 2 kali sehari dan membersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi, Anda akan mengurangi risiko terkena penyakit mulut.

Anda juga sebaiknya rajin kontrol ke dokter gigi, setidaknya setiap 6 bulan sekali. Hal ini dapat membantu mencegah terjadinya masalah-masalah gigi dan mulut, serta mendeteksi sejak dini apabila terdapat penyakit tertentu.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pericoronitis: treatment and a clinical dilemma. (2009). Irish Dental Association. Retrieved 22 September 2021, from https://www.lenus.ie/bitstream/handle/10147/234813/PericoronitisAugSept09.pdf;jsessionid=A88D6160004E464FA5C55BD363D2C092?sequence=1.

Pericoronitis. (n.d.). College of Dental Medicine. Retrieved 22 September 2021, from https://www.dental.columbia.edu/patient-care/dental-library/pericoronitis

Wehr, C., Cruz, G., Young, S., & Fakhouri, W. D. (2019). An Insight into Acute Pericoronitis and the Need for an Evidence-Based Standard of Care. Dentistry journal, 7(3), 88. Retrieved 22 September 2021.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 3 hari lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x