Apakah Semua Orang Diabetes Membutuhkan Suntik Insulin?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penyakit diabetes melitus terjadi ketika kadar gula darah naik dari batas normal. Kenaikan gula darah ini berkaitan dengan gangguan produksi dan kerja hormon insulin, yaitu hormon yang membantu penyerapan gula darah (glukosa) menjadi energi. Itu sebabnya, terkadang suntik insulin mungkin diperlukan bagi orang kencing manis untuk menggantikan fungsi insulin alami. Lantas, apakah semua orang yang diabetes membutuhkan suntik insulin? Jika iya, apakah harus suntik seumur hidup?

Siapa yang perlu melakukan suntik insulin untuk diabetes?

Umumnya, orang yang harus menggunakan suntik insulin adalah mereka yang memiliki diabetes tipe 1. DM tipe 1 disebabkan kondisi autoimun yang membuat sel-sel dalam pankreas yang memproduksi insulin menjadi rusak.

Itu sebabnya, suntik insulin adalah keharusan bagi mereka yang mengalami DM tipe 1. Terapi insulin ini biasanya dilakukan dengan penggunaan jarum suntik atau pompa insulin.

Tak hanya DM tipe 1, mereka yang mengalami komplikasi diabetes juga dianjurkan untuk melakukan suntik insulin. Orang dengan komplikasi membutuhkan pemulihan kondisi gula darah yang lebih cepat sehingga membutuhkan bantuan insulin. 

Memahami Penggunaan Insulin dalam Pengobatan Diabetes Tipe 1

Orang yang memiliki diabetes tipe 2 belum tentu harus menggunakan suntik insulin. Ini karena tubuh mereka sebenarnya masih dapat memproduksi insulin. Namun, sel-sel tubuhnyalah yang kurang peka dengan keberadaan insulin. Akibatnya, proses perubahan glukosa menjadi energi menjadi terganggu.

Biasanya, hanya sekitar 20-30% orang DM tipe 2 yang membutuhkan terapi insulin. Umumnya, pasien DM tipe 2 dianjurkan mengontrol kadar gula darah dengan cara penerapan pola makan sehat serta memperbanyak aktivitas fisik, seperti berolahraga.

Terapi insulin pada penderita diabetes tipe 2 umumnya hanya diberikan jika perubahan pola hidup dan obat-obatan diabetes tak lagi mampu mengontrol kadar gula darah.

Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang mungkin membuat Anda membutuhkan suntik insulin untuk mengendalikan diabetes, yaitu:

1. Menggunakan obat yang menaikkan gula darah

Bila Anda sedang mengonsumsi obat steroid, biasanya dokter akan menganjurkan untuk melakukan terapi insulin. Pasalnya, obat steroid memiliki efek samping menaikkan kadar gula darah. Itu sebabnya, obat penurun gula darah saja tak cukup. Biasanya, setelah obat steroid dihentikan, suntik insulin juga akan dihentikan.

2. Memiliki berat badan berlebihan

Diabetesi yang juga obesitas sangat mungkin dianjurkan menggunakan insulin. Ini karena mereka biasanya membutuhkan kadar insulin yang lebih banyak untuk memecah glukosa menjadi energi.

Setelah berat badan kembali ideal, dokter mungkin akan kembali menyesuaikan dosisnya atau malah menghentikannya.

3. Sedang mengalami penyakit infeksi akut

Mengalami penyakit infeksi dapat membuat kadar gula darah Anda meningkat. Jika itu yang terjadi, dokter umumnya akan memberikan terapi insulin bagi pasien kencing manis tipe 2.

Namun, tak semua penyakit infeksi membuat penderita diabetes tipe 2 membutuhkan terapi insulin. Sebaiknya diskusikan dulu pada dokter.

Apakah pasien diabetes harus suntik insulin seumur hidup?

Kapan suntik insulin bisa dihentikan

Dosis dan frekuensi untuk suntik insulin, antara satu orang dengan yang lainnya bervariasi. Menurut American Diabetes Association, umumnya penderita DM tipe 1 hanya perlu 2 atau 3-4 kali suntikan insulin sehari.  Ada juga yang membutuhkan 4-6 kali suntik dalam satu hari, terutama ketika kondisi kesehatannya menurun misalnya karena sakit.

Namun, bagaimana dengan lamanya? Apakah penderita diabetes harus suntik insulin seumur hidupnya?

Banyak yang menganggap, ketika Anda sudah diresepkan insulin suntik, maka selamanya Anda harus melakukan suntik. Nyatanya, tidaklah demikian.

Berapa lama Anda harus suntik insulin sangat tergantung dengan perkembangan kondisi masing-masing pasien.  Umumnya, penderita diabetes tipe 2 tidak harus suntik insulin seumur hidupnya. Beberapa dari mereka bisa lepas suntik ketika kondisinya dianggap dokter telah mampu tanpa insulin. Akan tetapi, banyak juga yang harus memakainya hingga bertahun-tahun akibat penyakit komplikasi diabetes yang muncul.

Lantas, bagaimana dengan diabetesi tipe 1? Sayangnya, hingga kini terapi insulin masih menjadi pengobatan utama untuk mengontrol gula darah pada DM tipe 1. Tak mampunya tubuh memproduksi insulin sama sekali membuat mereka harus menggunakan insulin suntik seumur hidup.

Harapan baru pasien diabetes tipe 1 untuk bebas suntik insulin

Pada tahun 2013, sekelompok peneliti dari University of Geneva yang dipimpin oleh Roberto Coppari menemukan bahwa insulin bukanlah elemen vital untuk seorang diabetesi bertahan hidup.

Mereka menemukan bahwa leptin, suatu hormon yang mengatur cadangan lemak dan nafsu makan, dapat membantu orang diabetes terbebas dari suntik insulin. Dengan leptin, mereka yang memiliki kekurangan insulin mampu bertahan dengan kadar gula yang juga stabil.

Terdapat dua manfaat yang diberikan oleh leptin, yaitu tidak memicu penurunan kadar gula darah sampai di bawah normal sehingga menyebabkan hipoglikemia dan memiliki efek lipolitik alias menghancurkan lemak.

Sayangnya, untuk saat ini penggunaan leptin sebagai cara mengatasi diabetes masih terbatas pada pengujian di laboratorium saja. Namun, penemuan ini membuka peluang penderita diabetes tipe 1 untuk bisa terbebas dari suntik insulin seumur hidup. 

Berapa Banyak Kalori yang Berhasil Saya Bakar Saat Berolahraga?

Ingin tahu berapa banyak kalori yang berhasil kamu bakar dalam sehari? Efektifkah olahraga yang kamu pilih untuk membakar kalori? Cek selengkapnya.

Mau Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sirosis Hati

Sirosis adalah tahap akhir luka (fibrosis) pada hati yang disebabkan oleh banyak penyakit dan kondisi pada hati, seperti hepatitis dan alkoholisme kronis.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 22 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

10 Manfaat Beras Hitam, “Beras Terlarang” dari Cina

Jika Anda sudah beralih dari beras putih ke beras merah, selamat! Anda telah membuat perubahan sehat. Tapi tahukah Anda bahwa beras hitam lebih sehat lagi?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Fakta Gizi, Nutrisi 22 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

6 Makanan Paling Sehat untuk Sarapan

Saat sarapan, yang penting bukan porsinya, tapi apa yang kita makan. Pastikan salah satu (atau lebih) makanan ini ada di menu makan Anda setiap pagi.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Tips Makan Sehat, Nutrisi 22 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

5 Cara Mengatasi “Kecanduan” Minuman Ringan

Anda pasti sudah tahu minuman ringan nan manis sangat buruk bagi kesehatan. Tapi bagaimana kalau Anda sudah terbiasa minum softdrink setiap hari?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Makan Sehat, Nutrisi 9 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pilihan beras untuk menurunkan berat badan

Pilihan Beras dan Sumber Karbohidrat Sehat Pengganti Nasi untuk Diabetes

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
peluang kanker kambuh lagi

Awas! Risiko Anda Terkena Kanker Bisa Meningkat Jika Idap Hiperinsulinemia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
infeksi penderita diabetes

Penderita Diabetes Berisiko Tinggi Terkena 4 Jenis Infeksi Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 31 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
diabetes gestasional

Diabetes Gestasional, Kondisi Saat Gula Darah Naik di Masa Kehamilan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit