Beijing Adakan Tes Asam Nukleat Usai Muncul Kasus Baru COVID-19, Ini Fungsinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Setelah hampir dua bulan tidak memiliki kasus baru, pemerintah kota Beijing, Tiongkok pekan lalu melaporkan kemunculan kembali kasus COVID-19 di wilayahnya. Otoritas kesehatan setempat menanggapi ini dengan mewajibkan tes asam nukleat bagi orang-orang yang berisiko tinggi terjangkit COVID-19.

Kemunculan kasus baru COVID-19 di Beijing

wna positif covid-19 indonesia

Beijing secara resmi mengumumkan lebih dari 100 kasus baru COVID-19 pada Minggu (14/6). Ini merupakan klaster penularan pertama yang dilaporkan setelah kota tersebut memberlakukan lockdown selama hampir dua bulan.

Sumber penularan dan seberapa luas cakupannya masih diselidiki. Meski begitu, ada bukti kuat bahwa penularan berawal dari aktivitas masyarakat di pasar grosir Xinfadi. Laporan terbaru menyebutkan ada 67 kasus COVID-19 baru di pasar tersebut.

Guna mencegah gelombang kedua COVID-19, otoritas kesehatan Beijing melakukan tes asam nukleat pada lebih dari 200.000 orang yang mengunjungi pasar Xinfadi hingga 30 Mei. Pelaksanaan tes COVID-19 ini melibatkan lebih dari 79 institusi di seluruh penjuru kota.

Pada Minggu (15/6), Beijing kembali mengadakan tes asam nukleat pada 75.499 sampel dengan 59 orang dinyatakan positif. Jika ditambah dengan kasus sebelumnya, total kasus di Tiongkok kini mencapai 83.181 orang dengan 177 kasus aktif.

Saat ini, lebih dari 8.000 pedagang di pasar Xinfadi sudah diperiksa dan terus dipantau kondisinya. Sebanyak 3.852 orang yang berkontak dekat dengan pasien masih berada dalam pengawasan medis, sedangkan 392 orang sudah dinyatakan aman.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

63,749

Terkonfirmasi

29,105

Sembuh

3,171

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Selain mendeteksi kasus baru COVID-19, para peneliti di Beijing juga menggunakan tes asam nukleat untuk mengetahui asal virus tersebut. Coronavirus yang ditemukan di pasar Xinfadi ternyata merupakan kasus impor dari Eropa.

Pemerintah setempat kini telah menutup pasar Xinfadi dan lima pasar lain yang sejenis. Mereka juga kembali membatasi perjalanan udara setelah menemukan 17 kasus positif pada penumpang.

Mengenal tes asam nukleat untuk COVID-19

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Beberapa gejala COVID-19 sangat mirip gangguan pernapasan umum. Di sisi lain, banyak pula pasien COVID-19 yang tidak bergejala sehingga tidak terdeteksi. Oleh sebab itu, diperlukan tes khusus yang bisa mendeteksi penyakit ini secara akurat.

Secara umum, ada dua jenis tes yang digunakan untuk mendiagnosis COVID-19. Tes pertama adalah rapid test atau tes antibodi. Metode ini tidak mendeteksi SARS-CoV-2 secara langsung, melainkan antibodi pasien COVID-19 yang dibentuk sistem imun setelah terkena virus.

Menurut American Society for Microbiology, tes antibodi dapat menunjukkan siapa yang pernah terinfeksi virus, tapi tidak memberitahu apakah virus tersebut masih ada. Tes ini juga perlu diulang karena antibodi bisa saja baru terbentuk setelah tes dilakukan.

Metode kedua untuk mendeteksi COVID-19 adalah tes asam nukleat. Tes ini dilakukan dengan melihat bahan genetik (RNA) virus pada sampel lendir hidung dan tenggorokan. Jika terdapat RNA pada sampel, berarti virus masih ada dan pasien dinyatakan positif.

droplet covid-19

Siapa yang perlu menjalani tes asam nukleat?

new normal

Menyusul banyaknya laporan kasus baru, kota Beijing memperluas cakupan tes asam nukleat hingga lebih dari 90.000 sampel setiap hari. Badan pengendalian penyakit kota tersebut kini fokus melakukan tes asam nukleat pada orang yang dinilai berisiko tinggi terjangkit COVID-19.

Berikut kriterianya:

  • Pasien COVID-19 dan semua orang yang berkontak dekat dengannya.
  • Pasien yang datang ke klinik untuk perawatan demam.
  • Pasien yang membutuhkan perawatan darurat di rumah sakit atau menderita gangguan pernapasan.
  • Orang dari luar negeri yang datang ke Tiongkok lewat Beijing.
  • Orang yang baru kembali dari Wuhan dan akan selesai dikarantina.
  • Pegawai komite pusat dan pemerintah yang tiba di Beijing setelah bepergian ke wilayah berisiko rendah.
  • Kedatangan domestik di Beijing yang menginap di hotel.
  • Murid kelas tiga SMP dan SMA, guru, serta staf sekolah yang pulang ke Beijing setelah bepergian dari wilayah atau negara lain.

Begini Prosedur Tes Swab COVID-19 yang Katanya Bikin Sakit dan Geli

Semua orang yang baru tiba di Beijing akan menjalani karantina selama 14 hari terlebih dulu. Setelah itu, barulah mereka menjalani tes asam nukleat untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi COVID-19.

Tes asam nukleat adalah salah satu metode andalan untuk mendiagnosis COVID-19. Di Beijing ataupun wilayah lain dengan risiko penyebaran yang tinggi, tes ini amat berguna untuk mendeteksi kasus baru sehingga laju penularan dapat ditekan.

Tidak hanya Beijing, negara mana pun dapat diterpa gelombang kedua COVID-19 jika lengah dalam mencegahnya. Anda dapat berperan aktif dengan menerapkan physical distancing dan menaati protokol kesehatan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tinggal Sendiri Selama Pandemi, Apa yang Harus Diperhatikan?

Hidup sendirian tidak selamanya menyenangkan. Ada kalanya tinggal sendiri bisa menimbulkan rasa kesepian yang parah, terutama selama pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/07/2020 . 6 menit baca

Bersiap New Normal, Bekali Diri dengan Hal-hal Ini

Ini saat yang tepat untuk mengetahui persiapan new normal dan cara menguatkan daya tahan tubuh, terutama Anda yang kini menjalani aktivitas di kantor.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Hidup Sehat, Tips Sehat 01/07/2020 . 5 menit baca

Rasa Aman Palsu, Alasan Mengapa Banyak Orang Berkerumun Saat Pandemi

Meski bahaya penularan COVID-19 masih tinggi, banyak orang sudah mulai berkerumun. Ternyata, ini disebabkan oleh rasa aman palsu saat pandemi. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 30/06/2020 . 4 menit baca

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di Masa Pandemi

Berikut beberapa alasan mengapa penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut mengingat pandemi COVID-19 masih berlangsung, serta tips untuk melakukannya.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 30/06/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

teledermatologi saat pandemi

Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 04/07/2020 . 6 menit baca
covid-19 menular lewat ac

Benarkah Ruangan Ber-AC Tingkatkan Risiko Penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca

Menghadapi Masa Transisi dari Terapi Langsung ke Terapi Online Selama Pandemi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca
pelacakan kontak covid-19

Pelacakan Kontak Dapat Menekan Angka Penyebaran Kasus COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/07/2020 . 5 menit baca