Cara Mendiagnosis Novel Coronavirus di Tubuh Manusia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Sejak kemunculannya pada akhir 2019, novel coronavirus  di Tiongkok telah menginfeksi lebih dari 400 orang di beberapa negara. Tenaga medis pun perlu berupaya ekstra agar tidak salah menentukan diagnosis, sebab novel coronavirus memiliki gejala yang mirip dengan gangguan pernapasan pada umumnya.

World Health Organization (WHO) mengimbau setiap kalangan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dalam bentuk apa pun. Mengenali gejala yang muncul, akan membantu dalam diagnosis novel coronavirus yang tengah merebak ini.

Mengenal gejala sebelum diagnosis novel coronavirus

mudah tertular flu

Novel coronavirus termasuk dalam kelompok besar coronavirus yang menyerang saluran pernapasan manusia dan binatang. Pada manusia, virus ini bisa menyebabkan gangguan pernapasan ringan hingga berat.

Gangguan pernapasan ringan akibat coronavirus biasanya berupa pilek biasa atau flu. Diagnosis terhadap kedua penyakit tersebut biasanya lebih mudah, tidak seperti novel coronavirus yang baru-baru ini ditemukan.

Sejauh ini, ilmuwan telah menemukan enam tipe coronavirus yang menginfeksi manusia. Dua di antaranya adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Novel coronavirus asal Tiongkok yang kini dikenal dengan kode 2019-nCoV adalah tipe virus terbaru sekaligus ketujuh yang ditemukan. Gejala infeksi novel coronavirus mirip dengan SARS dan MERS, tapi virus ini disinyalir tidak separah keduanya.

komix

Sebelum melakukan diagnosis terhadap novel coronavirus, pasien dan tenaga kesehatan perlu mengenali gejalanya terlebih dahulu. Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi coronavirus umumnya menimbulkan gejala berupa:

  • demam tinggi
  • batuk
  • hidung meler
  • sakit tenggorokan
  • sakit kepala
  • tidak enak badan

Kendati demikian, CDC dan WHO turut melaporkan kumpulan gejala lain yang ditemukan pada pasien selama beberapa bulan ini. Pasien mengalami sesak napas dan ketika diperiksa dengan rontgen dada, terdapat bercak pada paru-paru yang mirip dengan pneumonia.

Pasien yang telah mendapat diagnosis novel coronavirus juga menunjukkan tingkat keparahan yang beragam. Beberapa pasien tampak mengalami sakit ringan seperti halnya penderita pilek, tapi ada pula yang menderita gejala parah hingga kritis.

Gejala yang sangat umum tersebut membuat tenaga kesehatan kesulitan dalam mengenali orang yang terinfeksi novel coronavirus. Sebagai solusinya, CDC pun mengeluarkan kriteria pasien yang perlu diinvestigasi serta prosedur diagnosis yang perlu dilakukan.

Kriteria pasien yang perlu diinvestigasi

Gejala yang dialami oleh beberapa pasien pertama di Wuhan, Tiongkok, awalnya dikaitkan dengan pneumonia, hingga otoritas kesehatan setempat akhirnya mengarahkan investigasi pada infeksi novel coronavirus.

Saat ini, hanya CDC yang berwenang melakukan pengujian untuk menetapkan diagnosis terhadap novel coronavirus. Jika terdapat dugaan infeksi novel coronavirus di suatu negara, negara tersebut wajib mengambil sampel virus dari pasien dan mengirimkannya ke CDC.

Akan tetapi, tidak semua pasien harus menjalani investigasi. Sebelum mengambil sampel virus, otoritas kesehatan setiap negara perlu memastikan bahwa pasien tersebut memenuhi kriteria yang ditentukan oleh CDC.

Kriteria pasien novel coronavirus yang perlu menjalani diagnosis dilihat dari gejala yang muncul dan faktor risikonya, yakni:

Kriteria pertama

Pasien mengalami demam dan gejala gangguan pernapasan bawah seperti batuk dan sesak napas. Kata ‘dan’ memberi arti bahwa pasien telah mengalami kedua kondisi tersebut sekaligus.

Selama 14 hari sebelum gejala muncul, pasien juga pernah bepergian ke kota Wuhan. Atau, ia pernah melakukan kontak dekat dengan orang yang diduga terinfeksi novel coronavirus dan sedang menunggu hasil diagnosis.

Kriteria kedua

Pasien mengalami demam atau gejala gangguan pernapasan bawah seperti batuk dan sesak napas. Ini berarti jika pasien mengalami salah satu kondisi berikut, ia sudah masuk kriteria untuk menjalani investigasi.

Selama 14 hari terakhir, pasien juga pernah melakukan kontak dekat dengan pasien yang sudah memperoleh diagnosis terinfeksi novel coronavirus.

Kedua kriteria tersebut digunakan sebagai panduan dalam menilai kondisi pasien. Departemen kesehatan masyarakat tiap negara perlu melakukan investigasi dengan seksama, terutama bila pasien tidak yakin pernah terpapar coronavirus atau bepergian ke wilayah rentan di Tiongkok.

Metode diagnosis novel coronavirus

mendeteksi kanker

Setelah memastikan gejala, kriteria, dan riwayat perjalanan pasien, rangkaian proses diagnosis dimulai dengan mengambil sampel novel coronavirus dari cairan tubuh pasien. CDC memberikan panduan pengambilan sampel bagi tenaga kesehatan dengan langkah berikut:

1. Mengambil sampel dari saluran pernapasan

Pengambilan sampel dari saluran pernapasan terdiri dari dua bagian, yakni dari saluran pernapasan atas dan saluran pernapasan bawah.

Saluran pernapasan atas

Tenaga kesehatan akan mengambil sampel virus dengan dua langkah. Langkah pertama adalah mengumpulkan lendir sebanyak 2-3 mL dari hidung. Sampel lendir lalu disimpan dalam suhu 2-8 derajat celsius sebelum dikirim.

Langkah kedua yakni tes apus menggunakan swabSwab adalah alat pengambil sampel yang berbentuk mirip cotton bud. Tenaga kesehatan akan mengambil sampel lendir dari lubang hidung dan langit-langit mulut.

Saluran pernapasan bawah

Prosedur diagnosis terhadap novel coronavirus juga harus melibatkan pengambilan sampel dari saluran pernapasan bawah. Seperti prosedur sebelumya, pengambilan sampel dilakukan dengan dua langkah.

Langkah pertama adalah mengumpulkan lendir sebanyak 2-3 mL dari bronkus dan alveolus. Tenaga kesehatan akan menggunakan alat khusus untuk mengambil sampel, lalu menyimpannya dalam suhu 2-8 derajat celsius sebelum dikirim.

Langkah kedua adalah pengumpulan dahak. Pasien akan diminta untuk berkumur dengan air, lalu batuk beberapa kali hingga dahak keluar. Sampel novel coronavirus lalu disimpan dalam suhu 2-8 derajat sebelum dikirim ke CDC untuk proses diagnosis.

2. Mengambil sampel serum darah

flebotomi adalah

Serum merupakan bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah. Sampel serum darah digunakan untuk proses diagnosis novel coronavirus karena dapat menggambarkan tingkat keparahan virus ini.

Cara memperoleh sampel serum tidak seperti pengambilan darah. Tenaga medis harus mengambil sampel darah terlebih dulu, lalu memisahkannya dengan tabung pemisah serum.

Berikut sampel darah yang diperlukan untuk diagnosis novel coronavirus:

  • Anak-anak dan orang dewasa: 5-10 mL darah
  • Bayi: minimum 1 mL darah

Sampel darah yang telah diambil akan disimpan dalam tabung khusus. Tabung-tabung berisi sampel lalu melewati proses pemisahan selama 10 menit hingga diperoleh serum. Serum yang diduga mengandung novel coronavirus kemudian disimpan dalam suhu 2-8 derajat celsius sebelum dikirim ke CDC untuk proses diagnosis.

Jika hasil diagnosis menunjukkan infeksi novel coronavirus

perawatan tubuh pasien kanker

Sampel dari pasien yang menunjukkan gejala serta kriteria novel coronavirus harus disimpan, dikemas, lalu dikirim ke CDC. CDC kemudian akan melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel tersebut.

Jika hasil diagnosis positif, pasien terinfeksi novel coronavirus akan menjalani isolasi dan pengobatan intensif. Penanganan dilakukan dengan melihat gejala awal yang dialami oleh pasien.

Pasien kemungkinan akan diberikan obat pereda demam terlebih dulu. Jika pasien mengalami batuk, dokter akan memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala tersebut.

Proses diagnosis mungkin tidak hanya menunjukkan infeksi novel coronavirus, tapi juga penyakit lain. Pada kondisi seperti ini, tenaga kesehatan yang berwenang juga akan memberikan pengobatan tambahan untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 22, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 3, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca