Menangis Darah, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baru-baru ini, Priya Dias (14), remaja perempuan asal Kalkutta, India, dilaporkan mengalami perdarahan dari kedua matanya, seolah ia menangis darah.

Sejumlah kasus “nangis darah” ini tercatat juga terjadi di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia, walaupun secara medis, fenomena ini tergolong sebagai kondisi yang sangat langka.

Menangis darah berhubungan dengan menstruasi

Nangis darah, atau haemoclaria, adalah suatu kondisi medis yang bisa menyebabkan seseorang meneteskan air mata darah. Air mata yang dikeluarkan bervariasi, mulai dari tetesan air mata yang berwarna merah darah hingga darah kental yang mengalir dari dalam mata. Penyebab pasti dan pengobatan kondisi ini masih belum dapat dipastikan, namun diketahui memiliki beberapa keterkaitan dengan tanda dan gejala dari penyakit darah atau tumor.

Salah satu kasus pertama haemolacria yang tercatat dalam rekor medis adalah sekitar abad 16, dimana seorang biarawati Italia mengeluhkan perdarahan lewat kedua matanya saat ia sedang menstruasi. Kemudian, di tahun 1581, seorang dokter menemukan seorang remaja perempuan yang mengeluhkan menangis darah, juga ketika ia sedang menstruasi.

Ilmu pengetahuan modern kini menemukan alasannya. Menurut sebuah studi tahun 1991, haemoclaria okultisme bisa disebabkan oleh menstruasi. Delapan belas persen wanita subur yang diteliti terbukti memiliki kandungan darah dalam kelenjar air mata mereka, sementara probabilitas nangis darah hanya ditemukan sebanyak 7% pada wanita hamil, 8% pada pria, dan tidak ada sama sekali pada wanita pascamenopause. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa haemoclaria okultisme disebabkan oleh perubahan hormon tubuh, sedangkan haemoclaria tipe lainnya dapat disebabkan oleh faktor eksternal lain.

Saat seseorang menangis darah, dokter akan mencari tanda dan gejala tumor, konjungtivitis, atau luka sobekan di mata atau kelenjar air mata sebagai kemungkinan dari haemolacria.

Menangis darah tidak berbahaya

Dr. Barrett G. Haik, direktur Universitas Eye Institute Hamilton Tennessee di Memphis, menulis sebuah ulasan medis yang diterbitkan dalam jurnal Ophthalmic Plastic & Reconstructive Surgery mengenai beberapa kasus “nangis darah” spontan. Para penulis menyimpulkan bahwa luka sobekan berdarah adalah kejadian klinis yang tidak umum, namun pada akhirnya akan hilang dengan sendirinya. Haik menentukan bahwa sepanjang 1992-2003, hanya ada empat kasus haemolacria spontan tanpa penyebab pasti, dan terdapat dua kasus yang diketahui penyebabnya saat itu, yang berkaitan dengan sindrom Munchausen dan penyakit penggumpalan darah.

Walaupun begitu, kondisi ini bukanlah kondisi medis yang membahayakan nyawa. Rekan sejawat Haik, James Fleming, menyatakan, seiring dengan pertumbuhan, haemolacria bisa hilang dengan sendirinya. Frekuensi (dan volume) perdarahan akan berkurang, mereda, dan berhenti sama sekali seiring bertambahnya usia. “Di semua pasien, nangis darah akhirnya mereda tanpa ada periode lanjutan. Tidak ada kasus kambuhan yang dilaporkan selama periode follow-up dari 9 bulan pertama hingga 11 tahun kemudian,” ujar Haik dan Fleming.

Pada kasus Priya Dias, dokter menemukan penyebab dari kondisi nangis darah yang ia idap, yaitu psychogenic purpura.

“[psychogenic purpura] juga dikenal dengan sindrom Gardner-Diamond atau autoerythrocyte sensitization, atau sindrom memar menyakitkan. Penyakit ini langka dan kurang dipahami. Bisa disebabkan oleh stres dan kecemasan berlebih,” ujar Pradip Saha, kepala Institute of Psychiatry, Kalkuta, yang menangani kasus Dias.

Lebih lanjut Saha mengatakan bahwa kasus menangis darah umum bisa terjadi pada orang yang pernah atau baru saja mengalami trauma kepala ekstrem. Namun tetap saja, menurut neuropsikiater ini, peluang terjadinya nangis darah hanya satu kasus dalam beberapa tahun.

BACA JUGA:

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

    Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

    6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

    Urat menonjol pada permukaan kulit memang kerap ditemui pada orang berusia lanjut. Lalu apa artinya kalau masih muda sudah mengalami kondisi ini?

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan, Informasi Kesehatan 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

    Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    mencium bau

    Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

    Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    memotong kuku

    Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    cara melancarkan haid

    Sederet Cara Melancarkan Jadwal Haid Agar Kembali Teratur

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit