home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Jangan Asal Tindik Hidung! Pahami Informasi Lengkapnya

Jangan Asal Tindik Hidung! Pahami Informasi Lengkapnya

Anda ingin melakukan tindik hidung? Selain telinga, menindik hidung juga cukup populer di kalangan masyarakat. Namun, tindik hidung tidak bisa sembarangan karena kalau perawatannya kurang tepat bisa terjadi infeksi. Berikut penjelasan lengkap seputar perawatan, jenis, dan risiko dari tindakan ini.

Di mana saja area tindik hidung?

Bagi sebagian orang, menindik hidung lebih menguji keberanian daripada tindik telinga karena kenyamanan sampai khawatir bila saat sedang flu bisa membuat iritasi.

Umumnya, ada tiga area hidung yang bisa Anda pakai anting tindik, yaitu:

  • cuping hidung,
  • septum hidung (dinding pemisah dua lubang hidung), dan
  • hidung bagian atas antara dua mata atau alis.

Fase penyembuhan area tindikan berbeda-beda, tergantung areanya. Untuk cuping hidung, pemulihan sekitar 4-6 bulan.

Sementara itu, penyembuhan tindik pada septum hidung sekitar 2-3 bulan. Untuk area hidung bagian atas memakan waktu pemulihan lebih lama yaitu 6-12 bulan.

Apa saja jenis perhiasan untuk tindik hidung?

Tindik kelamin

Bila Anda ingin tindik hidung untuk pertama kali, perlu mengetahui jenis-jenis perhiasannya. Ada lima jenis perhiasan anting-anting untuk tindikan hidung, yaitu:

  • titanium implan (implant-grade steel)
  • baja implan (implant-grade titanium).
  • niobium,
  • emas 14 atau 18 karat,
  • platinum.

Anda harus waspada terkait jenis perhiasan ini, terutama istilah surgical steel berbeda dengan implant-grade steel.

Umumnya, surgical steel atau baja bedah lebih murah dari pada baja implan tetapi kualitasnya kurang baik.

Namun, menindik hidung adalah sesuatu bersifat jangka panjang sehingga Anda perlu memikirkan kualitasnya.

Mengutip dari Association of Professional Piercers, ukuran anting-anting tindik harus memiliki diameter atau panjang yang sesuai dengan penempatan tindikan.

Ukuran anting yang terlalu ketat bisa mengganggu sirkulasi darah area tindikan. Sementara itu, anting yang tidak pas bisa meningkatkan pembengkakan.

Maka dari itu, ukuran dan ketebalan dari perhiasan tindik harus sesuai dengan area tindikan.

Apa saja risiko tindik hidung?

Menindik hidung bukan tanpa risiko, ada efek samping yang mungkin menghantui bila Anda tidak hati-hati dalam memilih studio tindik atau merawat lukanya.

Apalagi, hidung adalah area yang cukup berbahaya karena pembuluh darah di sekitarnya terhubung dengan rongga sinus.

Agar lebih jelas, berikut risiko dari tindik hidung yang perlu Anda perhatikan.

1. Infeksi

Risiko pertama adalah infeksi karena bakteri dan virus yang menempel pada bagian dalam hidung. Virus yang rentan menyebabkan infeksi adalah:

Infeksi tetanus bisa terjadi bila kondisi peralatan tidak steril dengan baik, sehingga virus bisa masuk ke dalam aliran darah lewat suntikan.

2. Perdarahan

Sebenarnya, perdarahan setelah tindik hidung adalah hal normal, terutama bila Anda menindik area septum.

Namun, pada beberapa kasus, perdarahan ini bisa membentuk hematoma, memar atau bengkak wajah yang bisa menginfeksi.

3. Reaksi alergi

Mengingat perhiasan atau anting tindik adalah benda asing, akan ada risiko reaksi alergi setelah penusukan.

Terutama bila Anda mengalami reaksi alergi dari bahan perhiasan logam tertentu, reaksi mungkin terjadi. Ada baiknya, sebelum menindik, beritahu seniman tindik bahwa Anda memiliki alergi.

4. Keloid

Pernah menemukan jaringan parut setelah luka yang mengeras? Itu adalah keloid. Tidak semua orang memiliki keloid, umumnya kondisi ini menurun lewat genetik.

Jaringan parut keloid bisa terbentuk bila area penindikan hidung tidak pas atau longgar, sehingga memungkinkan jaringan terbentuk dan mengeras.

Bagaimana perawatan tindik hidung?

cara mencuci tangan yang benar

Setelah memasang tindikan hidung, mungkin Anda akan ragu-ragu untuk menyeka ingus saat flu atau mengupil karena takut membuat iritasi.

Umumnya, studio tindik akan memberikan serangkaian perlengkapan untuk perawatan setelah penindikan hidung.

Mengutip dari Association of Professional Piercers, berikut perawatan pascatindik hidung yang perlu Anda perhatikan.

1. Cuci tangan

Sebelum membersihkan hidung, pastikan untuk selalu mencuci tangan pakai sabun. Anda juga wajib cuci tangan bila akan menyentuh area tindikan.

Mencuci tangan pakai sabun adalah bentuk pencegahan area tindikan dari iritasi dari kuman, bakteri, dan virus yang menempel pada Anda sebelumnya.

2. Gunakan air garam

Setelah mencuci tangan, mulai bersihkan area hidung dua kali sehari dengan larutan air garam. Cara membuatnya, campurkan ¼ sendok teh garam dengan 1 gelas air hangat.

Anda juga bisa memakai kapas untuk mengusap area tindik hidung dan diamkan sekitar 3-4 menit.

Tetap waspada saat melepas kapas agar serat-seratnya tidak menempel pada area tindikan hidung.

3. Keringkan dengan tisu

Setelah membilas dengan air garam, keringkan area hidung dengan tisu kering. Hindari menggunakan handuk karena benangnya bisa tersangkut anting tindikan.

Anda juga bisa menggunakan cotton bud setelah mandi untuk mengeringkan area tindikan.

Umumnya, rasa tidak nyaman pada area hidung akan hilang setelah luka tindik benar-benar sembuh sekitar satu bulan.

Segera periksa ke dokter bila area tindikan muncul perdarahan, nyeri tidak hilang, luka tindik bengkak, sampai demam.

Kondisi tersebut adalah tanda-tanda infeksi pada area tindik sehingga perlu penanganan dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Infected piercings . (2017). Retrieved 25 November 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/infected-piercings/

Jewelry for Initial Piercings. (2021). Retrieved 25 November 2021, from https://safepiercing.org/jewelry-for-initial-piercings/

Aftercare. (2021). Retrieved 25 November 2021, from https://safepiercing.org/aftercare/

Do Nose Piercings Hurt? 18 FAQs on What to Expect. (2021). Retrieved 25 November 2021, from https://www.healthline.com/health/do-nose-piercings-hurt#jewelry

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 02/12/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto