home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Fungsi Bulu Hidung dan Bahayanya Jika Dicabut Sembarangan

Fungsi Bulu Hidung dan Bahayanya Jika Dicabut Sembarangan

Ketika Anda sedang melihat lubang hidung Anda, mungkin Anda menyadari adanya bulu-bulu hidung yang tumbuh, bahkan mencuat keluar dari lubang hidung. Tentunya, hal ini terkadang cukup mengganggu dan merusak penampilan Anda. Maka itu, beberapa orang merasa bahwa mencabut rambut di hidung adalah solusi terbaik untuk mengatasinya. Namun, sebenarnya apa fungsi bulu-bulu di hidung Anda? Apakah boleh kita mencabutnya sesuka hati? Simak ulasannya di bawah ini.

Apa fungsi bulu-bulu di hidung manusia?

Bulu hidung, yang juga dikenal dengan istilah vibrissae dan silia dalam dunia medis, sudah pasti dimiliki oleh semua manusia.

Seiring dengan bertambahnya usia, rambut di hidung akan bertambah panjang, bahkan mungkin tumbuh hingga terlihat keluar dari lubang hidung.

Faktor luar dapat mempengaruhi pertumbuhan bulu hidung sehingga jumlah atau volume bulu dapat meningkat atau mengalami penurunan.

Contoh dari faktor luar tersebut adalah bahan kimia dan kosmetik, karena mereka dapat merusak folikel bulu.

Selain itu, kesehatan dan faktor genetik memungkinkan untuk mengubah pola pertumbuhan rambut di hidung.

Meski terkadang mengganggu penampilan, ternyata rambut-rambut di hidung juga menyimpan peran penting dalam kesehatan tubuh Anda.

Berikut fungsi penting bulu di hidung.

1. Bulu hidung berperan sebagai perisai tubuh Anda

Bulu hidung merupakan bagian dari anatomi hidung yang menjadi garda terdepan dalam melindungi kesehatan Anda.

Salah satu caranya adalah dengan menangkal partikel-partikel asing di udara, seperti kuman, jamur, dan spora.

Sebagian besar partikel di dalam udara yang Anda hirup tidak akan mencapai saluran pernapasan karena mereka terhalang oleh bulu hidung.

Bulu-bulu tersebut juga dibantu oleh lendir untuk menjebak partikel dan kuman.

Kotoran dan partikel lainnya yang berbahaya pada umumnya akan diarahkan ke arah belakang tenggorokan dan kerongkongan untuk menelan.

Sementara itu, udara yang telah disaring akan dilanjutkan menuju laring dan paru-paru.

Jika partikel-partikel tersebut berhasil masuk ke dalam saluran pernapasan, tubuh Anda biasanya akan bereaksi secara alami untuk mengeluarkannya, yaitu dengan bersin.

3. Bulu hidung mempermudah penguapan keringat

Serat bulu hidung memiliki tujuan tambahan, yaitu dapat menambahkan luas permukaan kulit yang dapat membantu keringat untuk menguap.

Jaringan saraf yang mengelilingi folikel rambut-rambut di hidung dapat memberikan informasi kepada tubuh Anda mengenai keadaan lingkungan Anda.

4. Bulu hidung memberikan kelembapan pada udara yang dihirup

Fungsi lain dari rambut di hidung Anda adalah untuk memberikan kelembapan tambahan pada udara yang dihirup.

Ketika udara masuk melalui hidung, lendir dan rambut di hidung akan menyediakan panas dan kelembapan.

Kelembapan itu sendiri sangat penting untuk sistem pernapasan lainnya, seperti laring dan paru-paru.

Jika bagian dalam hidung dan sistem pernapasan terlalu kering, Anda bisa mengalami berbagai masalah hidung, seperti iritasi dan mudah mimisan.

Apakah bulu hidung boleh dicabut?

Bulu hidung merupakan bagian terpenting dari hidung Anda, karena mereka adalah penyaring udara alami yang selalu melekat pada tubuh.

Namun, sering kali orang-orang merasa bahwa keberadaan rambut-rambut halus tersebut merupakan hal yang mengganggu dan memalukan.

Oleh karena itu, mencabut rambut-rambut di hidung diyakini merupakan satu-satunya cara untuk mengatasinya. Akan tetapi, apakah tindakan tersebut aman dilakukan?

Ternyata, mencabut rambut-rambut di hidung secara sembarangan sangat tidak dianjurkan dan berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan, lho.

Apa saja bahaya mencabut bulu hidung?

1. Bulu hidung tumbuh ke dalam

Terkadang, tindakan mencabut bulu atau rambut di tubuh dengan cara yang salah justru menyebabkan rambut tumbuh ke arah dalam kulit. Kondisi ini disebut dengan ingrown hair.

Tak hanya di hidung, ingrown hair bisa muncul di area mana saja yang sering mengalami pencabutan atau pencukuran rambut, seperti wajah, ketiak, serta selangkangan.

Ingrown hair biasanya berupa tonjolan atau benjolan kecil seperti jerawat yang terasa sakit dan gatal.

Kondisi ini umumnya akan menghilang sendiri, namun Anda bisa memeriksakan diri ke dokter jika benjolan tidak kunjung hilang atau sering muncul.

2. Risiko terkena asma

Mencabut rambut-rambut halus di hidung juga bisa meningkatkan risiko Anda terkena asma, meskipun Anda belum pernah menderita asma sebelumnya.

Hal ini diungkap melalui sebuah studi dari jurnal International Archives of Allergy and Immunology.

Studi tersebut melibatkan 233 partisipan yang dibagi dalam 3 kategori, yaitu yang memiliki sedikit, banyak, dan sama sekali tidak punya bulu hidung.

Hasilnya, partisipan yang memiliki sedikit rambut di hidungnya lebih berisiko menderita asma dibanding partisipan lainnya dengan rambut hidung yang lebih lebat.

Hal ini diduga karena rambut-rambut halus di hidung yang terlalu sedikit akan membiarkan lebih banyak partikel asing masuk ke dalam paru-paru. Pada beberapa orang, kondisi inilah yang bisa memicu asma.

3. Furunkulosis

Furunkulosis adalah infeksi pada folikel rambut yang terdapat di hidung Anda. Ya, kesalahan dalam mencabut bulu hidung juga berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi dalam hidung.

Kondisi ini lebih umum ditemukan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk.

Pada kasus yang jarang terjadi, furunkulosis berisiko memicu komplikasi lain jika infeksinya menyebar ke bagian tubuh lain, seperti meningitis, selulitis, serta trombosis sinus.

Tips menghilangkan bulu hidung dengan aman

Setelah mengetahui bahaya mencabut bulu hidung di atas, bukan berarti Anda jadi tidak boleh mencabutnya sama sekali.

Tidak perlu khawatir, karena masih ada beberapa cara lain yang bisa Anda coba untuk merapikan rambut-rambut di hidung tanpa harus mencabutnya secara paksa.

1. Menggunakan gunting khusus

Menarik rambut hidung dengan gerakan yang kasar dan tiba-tiba dapat melukai hidung dan meningkatkan risiko infeksi.

Oleh karena itu, gunakan gunting dengan bentuk dan ukuran khusus, sehingga Anda tidak perlu mencabut bulu hidung Anda.

Guntinglah bagian rambut hidung yang panjang dan mencuat ke luar lubang hidung. Bahkan, saat ini sudah tersedia alat pencukur elektrik yang bisa digunakan khusus untuk hidung Anda.

2. Terapi laser penghilang rambut

Selain dengan menggunting, Anda juga bisa mencoba terapi laser penghilang rambut untuk hidung Anda.

Terapi ini biasanya dilakukan dengan ahli dermatologi, yang akan menyorot sinar laser untuk merusak folikel rambut hidung. Dengan demikian, rambut tidak akan lagi tumbuh dari hidung Anda.

Tentunya, Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan terapi ini.

Ditambah lagi, terapi ini memiliki beberapa efek samping, seperti iritasi kulit serta perubahan warna kulit.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Everything You Need to Know About Nose Hair – Cleveland Clinic. (2019). Retrieved November 9, 2020, from https://health.clevelandclinic.org/nose-hair-safari-infographic/ 

7 Surprising Facts About Your Nose – Cleveland Clinic. (2015). Retrieved November 9, 2020, from https://health.clevelandclinic.org/7-surprising-facts-nose/ 

Ingrown hair – Mayo Clinic. (2020). Retrieved November 9, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ingrown-hair/symptoms-causes/syc-20373893 

Laser hair removal – Mayo Clinic. (2020). Retrieved November 9, 2020, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/laser-hair-removal/about/pac-20394555 

Aging changes in hair and nails – MedlinePlus. (2018). Retrieved November 9, 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/004005.htm 

Why Do We Have Nose Hair? – Education Solutions for Families. (n.d.). Retrieved November 9, 2020, from https://wonderopolis.org/wonder/why-do-we-have-nose-hair 

What are cilia? – Ciliopathy Alliance. (n.d.). Retrieved November 9, 2020, from https://www.ciliopathyalliance.org/cilia 

Your Nose – KidsHealth. (n.d.). Retrieved November 9, 2020, from https://kidshealth.org/en/kids/nose.html 

Freeman, SC., Karp, DA., Kahwaji, CI. (2020). Physiology, Nasal. StatPearls.

Sakat, M., Kilic, K., & Ucuncu, H. (2015). Nasal Vestibular Furunculosis Presenting as the Rudolph Sign. Journal Of Craniofacial Surgery, 26(6), e545-e546. https://doi.org/10.1097/scs.0000000000002038 

 Ozturk, A. B., Damadoglu, E., Karakaya, G., & Kalyoncu, A. F. (2011). Does nasal hair (vibrissae) density affect the risk of developing asthma in patients with seasonal rhinitis?. International archives of allergy and immunology, 156(1), 75–80. https://doi.org/10.1159/000321912

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adinda Rudystina Diperbarui 11/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.