Mungkinkah Orgasme Saat Mengalami Pelecehan Seksual?

    Mungkinkah Orgasme Saat Mengalami Pelecehan Seksual?

    Pemerkosaan adalah bentuk hubungan seksual yang tidak diinginkan dan dilakukan secara konsensual (persetujuan bersama), bisa dengan atau tanpa paksaan dan kekerasan fisik. Namun, ada yang meragukan kekerasan tersebut sah dianggap sebagai perkosaan jika korban mengalami rangsangan orgasme selama pelecehan seksual berlangsung. Dari sisi medis, masih sedikit sekali penelitian klinis yang menjelaskan hubungan orgasme dengan kekerasan seksual. Berikut adalah penjelasannya.

    Pemerkosaan tak selalu melibatkan kekerasan fisik

    Kekerasan seksual bukanlah pengalaman yang sama bagi semua orang. Pemerkosaan tidak selalu berupa pemaksaan atau kekerasan fisik yang nyata.

    Media sering kali menggambarkan bahwa pelecehan seksual terutama pemerkosaan hanya terjadi saat terdapat pemaksaan yang melibatkan kekerasan fisik.

    Seola-olah dalam pemerkosaan harus selalu ada bentuk perlawanan fisik dari korban sehingga menunjukkan penolakan atau tidak adanya consent (persetujuan), padahal ini keliru.

    Melansir American Psychological Association, segala bentuk tindakan, baik dengan kekerasan maupun secara halus dan diam-diam, yang menyebabkan korban tidak dapat menunjukkan persetujuan untuk melakukan hubungan seksual tetap merupakan pemerkosaan.

    Beberapa pelaku kekerasan seksual adalah pasangan dalam perkawinan yang sah. Banyak korban yang berada dalam situasi yang mengharuskan mereka menyerah untuk melindungi diri mereka sendiri atau orang yang mereka cintai.

    Beberapa korban bahkan dibius, dibuat mabuk sampai hilang kesadaran. Ada pula korban yang masih sadar, tapi dilumpuhkan secara fisik sehingga tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk melakukan perlawanaan.

    Sebuah laporan tahun 2004 terbitan Journal of Clinical Forensic Medicine menemukan bahwa dari total kasus laporan perkosaan, 4-5% korbannya menggambarkan rangsangan orgasme selama pelecehan dilakukan.

    Namun, peneliti menyimpulkan kejadian tersebut sangat jarang dialami, dan yang terpenting hal ini tidak dapat menjadi bukti adanya consent atau bentuk persetujuan dari tindakan seksual yang dilakukan pelaku. Mengapa demikian?

    Rangsangan seksual dan orgasme selama perkosaan

    Kekerasan seksual

    Tubuh kita pada dasarnya dirancang sedemikian rupa untuk bereaksi terhadap rangsangan, baik sentuhan maupun tekanan.

    Rangsangan tidak selalu dapat dikendalikan. Alat kelamin manusia sangat sensitif. Tak hanya pada organ intim, bagian tubuh lain di luar wilayah intim yang selalu dikaitkan dengan gairah seksual juga bisa memberikan reaksi dari rangsangan seksual,

    Kebanyakan dari kita pernah mengalami pengalaman gairah yang tidak diinginkan atau disengaja. Sebagai contoh, getaran dari mengendarai bus umum atau saat memangku kucing yang mendengkur.

    Perbandingan yang lebih umum lainnya adalah saat digelitik. Sentuhan menggelitik bisa menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan. Namun, saat dilakukan melawan keinginan orang tersebut, gelitikan ini bisa menjadi suatu yang tidak nyaman.

    Selama digelitik, Anda bisa akan terus tertawa geli karena ini adalah refleks atau respons otomatis dari sentuhan tersebut.

    Tubuh secara otomatis menanggapi stimulasi dengan cara yang sudah diatur sedemikian rupa dari sinyal yang dikirim kelompok ujung saraf di area yang distimulasi tersebut.

    Maka dari itu, tubuh bisa memberikan respons seksual dalam bentuk ereksi, ejakulasi, atau keluarnya cairan dari vagina akibat kekerasan seksual yang melibatkan sentuhan atau penetrasi.

    Masalahnya, istilah orgasme yang melekat di masyarakat merujuk pada puncak kenikmatan seksual, padahal dari sisi medis orgasme merupakan respons biologis tubuh dan tidak selalu berhubungan dengan rasa puas atau senang.

    Seseorang bisa merasakan orgasme, tapi merasa tidak menikmati seks. Persoalan kepuasan ini lebih berkaitan dengan reaksi psikologis.

    Jadi, rangsangan orgasme selama perkosaan yang ditunjukkan melalui ejakulasi atau keluarnya cairan vagina bukan menunjukkan kenikmatan seksual. Hal tersebut merupakan respons biologis tubuh terhadap rangsangan atau stimulasi seksual.

    Rangsangan seksual sebagai mekanisme pertahanan diri

    Korban perkosaan

    Reaksi seksual yang ditunjukkan kroba juga bisa dipengaruhi rasa takut. Ciri ketakutan dan rangsangan fisik cuku mirip, misalnya peningkatan denyut jantung, pelepasan hormon adrenalin, dan napas yang berubah cepat.

    Berdasarkan laporan dari dua ilmuwan, Suschinsky dan Lalumiere reaksi seksual seperti keluarnya cairan dari vagina saat penetrasi merupakan mekanisme pertahanan otomatis dari vagina untuk melindungi diri.

    Dalam kasus pemerkosaan, reaksi tersebut juga berhubungan dengan respons tubuh terhadap rasa takut.

    Selama rangsangan seksual, satu wilayah dalam otak di belakang mata kiri (lateral orbitofrontal cortex), yang berfungsi mengontrol tindakan dan memahami informasi, menjadi tidak aktif.

    Akibatnya, tubuh tetap bereaksi terhadap ancaman rasa takut meskipun tidak “menerima” stimulasi seksual yang diberikan. Ini adalah tanda bahwa tubuh bereaksi secara alami terhadap ancaman dan bahaya.

    Rangsangan orgasme bisa terjadi selama perkosaan atau tindak pelecehan seksual lainnya sebagai respons biologis tubuh. Namun, hal ini tidak menunjukkan kesenangan atau adanya persetujuan dari korban. Bukan berarti korban mendapatkan kepuasan seksual dari kekerasan tersebut.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Ajeng Quamila · Tanggal diperbarui 18/06/2021

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan