home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pemeriksaan Visum

Pemeriksaan Visum

Bagi korban kekerasan seksual maupun kekerasan fisik, mendapatkan keadilan merupakan salah satu cara memulihkan diri secara emosional. Untuk mencapai hal tersebut, korban biasanya diminta untuk menjalani pemeriksaan visum. Simak apa itu visum dan bagaimana cara kerjanya di sini.

Apa itu pemeriksaan visum?

Pemeriksaan visum adalah laporan tertulis yang dikeluarkan oleh penyedia layanan kesehatan berdasarkan pemeriksaan terhadap korban kekerasan seperti:

  • seksual,
  • fisik, atau
  • mental.

Dalam laporan yang ditandatangani oleh dokter yang berwenang, terdapat rincian kondisi kesehatan fisik dan psikis korban yang diperiksa.

Laporan visum nantinya digunakan sebagai alat bukti di pengadilan. Bila pelaku kekerasan belum diketahui, pemeriksaan ini membantu proses pencarian pelaku.

Guna mendapatkan laporan ini, Anda perlu melapor kepada pihak kepolisian. Setelah itu, penyidik dari kepolisian atau hakim akan mengajukan permintaan visum kepada layanan kesehatan.

Kemudian, korban akan diperiksa secara menyeluruh oleh dokter dan tenaga medis. Dokter nantinya membuatkan laporan tertulis, yaitu hasil visum, untuk diberikan pada penyidik.

Prosedur pemeriksaan visum

Umumnya, pemeriksaan visum akan berlangsung di rumah sakit, klinik, atau Puskesmas yang sudah ditunjuk oleh penyidik.

Selama pemeriksaan berlangsung, korban biasanya akan ditemani petugas kepolisian, keluarga, atau kerabat terdekat.

Guna memudahkan Anda, berikut rangkaian prosedur visum yang biasanya dilakukan.

1. Kondisi kesehatan secara umum

Salah satu prosedur yang dilakukan ketika visum berlangsung yaitu memeriksa kondisi kesehatan secara umum saat Anda tiba di layanan penyedia kesehatan.

Sebagai contoh, apakah korban datang dalam keadaan sadar, tetapi tampak kebingungan, panik, atau gelisah.

Bila korban memerlukan pertolongan darurat akibat luka berat atau kondisi mental yang tak terkendali, petugas wajib memberikan pertolongan.

Hal ini dilakukan sebelum melanjutkan visum agar proses pemeriksaan berjalan lancar.

2. Pemeriksaan fisik

monitor tekanan darah

Setelah itu, visum akan berlanjut dengan menjalani pemeriksaan menyeluruh, seperti:

  • tekanan darah,
  • denyut nadi,
  • bukti tindak kekerasan,
  • penularan infeksi penyakit kelamin, hingga
  • luka yang tampak pada bagian luar tubuh.

Korban kekerasan seksual atau pemerkosaan berjeni kelamin perempuan bisa meminta dokter atau petugas medis perempuan.

Pada pemeriksaan ini biasanya korban ditanya kronologis kejadian agar petugas medis dapat memfokuskan pemeriksaan sesuai dengan kesaksian korban.

Uraian tes tentang letak, ukuran, sifat, dan derajat luka yang ditemukan akan dicatat dan dianalisis lebih lanjut oleh dokter.

3. Pemeriksaan internal

Bila diperlukan, dokter mungkin akan memeriksa luka bagian dalam. Hal ini biasanya dicurigai bila ada cedera pada bagian dalam, patah tulang, atau kehamilan.

Jenis pemeriksaan yang dilakukan bisa meliputi rontgen atau USG.

4. Analisis forensik

Jika pada tubuh korban masih terdapat jejak DNA pelaku, seperti dari cairan ejakulasi, helai rambut, atau darah, dokter akan melakukan analisis forensik.

Pemeriksaan visum ini akan dianalisis di laboratorium untuk memastikan identitas pelaku kekerasan dan dijadikan sebagai alat bukti.

5. Pemeriksaan psikiatri

Tak hanya pemeriksaan fisik, korban akan dimintai keterangan soal kondisi kejiwaannya.

Tes visum ini akan dilakukan dengan dokter spesialis kejiwaan. Dengan begitu, tanda-tanda gangguan psikologis, seperti trauma, PTSD, hingga depresi bisa terdeteksi.

Setelah seluruh rangkaian tes selesai, dokter akan membuat laporan atau kesimpulan medis berdasarkan hasil yang ditemukan.

Kesimpulan ini yang akan dibawa oleh tim penyidik sebagai alat bukti di pengadilan. Bila korban membutuhkan perawatan lebih lanjut, dokter juga menyediakan layanan kesehatan yang diperlukan.

Hasil diagnosa

Berikut hasil diagnosa pemeriksaan visum yang dikaitkan dengan cedera.

  • Memar: cedera yang tak disengaja atau tidak, kelainan kulit, kelainan genetik, atau kelainan hematologis, seperti leukemia.
  • Luka bakar: luka bakar yang tak disengajak, dermatitis, infeksi kulit, atau sindrom Stevens-Johnson.
  • Fraktur: fraktur yang disengaja atau tidak, sifilis kongenital, leukemia, atau penyakit kudis.
  • Trauma kepala: trauma kecelakaan, trauma lahir, penyakit hemoragik, infeksi meningitis, atau penyakit metabolik.

Perbedaan visum dengan pemeriksaan medis lainnya

tes pemeriksaan deteksi kanker

Pemeriksaan kesehatan pada umumnya semata-mata untuk kesehatan. Sementara itu, pemeriksaan visum memeriksa kesehatan korban akibat kekerasan fisik maupun seksual guna mengumpulkan bukti forensik.

Sebagian besar penyedia layanan kesehatan dapat memberikan perawatan medis umum. Namun, tidak sembarang orang bisa menjalani visum.

Itu sebabnya, tes visum akan berbeda dengan tes kesehatan lainnya mengingat tujuannya cukup berbeda.

Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter atau penyedia layanan kesehatan guna memahami solusi yang tepat untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Medical Forensic Exams. (n.d). Southern Arizona Center Against Sexual Assault. Retrieved 12 July 2021, from https://www.sacasa.org/crisis/medical-forensic-exams/ 

Rull, G. (2011). Forensic Examination. Patient Info UK. Retrieved 12 July 2021, from https://patient.info/doctor/forensic-examination#nav-0 

What Is a Sexual Assault Forensic Exam?. (n.d). Rape, Abuse, and Incense National Network. Retrieved 12 July 2021, from https://www.rainn.org/articles/rape-kit 

What is a Forensic Medical Exam?. (n.d). West Virginia Foundation for Rape Information & Services. Retrieved 12 July 2021, from https://www.fris.org/SANEs/WhatisExam.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 12/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro