4 Penyebab Kulit Berubah Warna Menjadi Oranye

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Apabila Anda mengikuti perkembangan politik internasional, khususnya pemilihan presiden yang baru saja dihelat beberapa hari lalu di Amerika Serikat, Anda mungkin memerhatikan bahwa ada sesuatu yang asing di mata Anda. Bukan, bukan karena kali ini Amerika Serikat memiliki kandidat presiden perempuan yang cukup kuat untuk pertama kalinya. Bukan juga karena pemilihan kali ini dimenangkan oleh seorang pebisnis yang kariernya dalam dunia politik belum banyak dikenal masyarakat sebelumnya. Banyak orang justru merasa lebih penasaran pada alasan mengapa Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat ke-45 memiliki kulit berwarna oranye.

Banyak yang malah memperdebatkan apakah kulit Donald Trump menunjukkan semburat warna kuning, oranye, atau merah. Pasalnya, setiap kali pebisnis sukses yang banting setir ke dunia politik ini muncul di hadapan umum, riasan wajahnya sering kali menutupi warna asli kulitnya. Namun, masyarakat Amerika Serikat dan dunia kebanyakan sepakat bahwa kulit Donald Trump berwarna jingga. Lalu apa yang menyebabkan kulit Donald Trump tampak oranye? Apakah hal tersebut hanya terjadi pada Donald Trump atau fenomena kulit jingga merupakan kondisi yang cukup umum?

Meskipun banyak orang yang melakukan tanning atau terbakar matahari akan mendapatkan hasil kulit yang berwarna sedikit jingga dan merah, ternyata, warna kulit jingga bisa muncul sebagai gejala dan tanda suatu penyakit tertentu. Simak beberapa jenis penyakit berikut yang bisa menyebabkan warna kulit Anda oranye seperti wajah Donald Trump.

1. Karotenemia

Karotenemia merupakan sebuah kondisi medis yang disebabkan oleh kelebihan karotenoid dalam darah. Karotenoid sendiri merupakan jenis pigmen organik berwarna kekuningan yang bisa ditemukan pada bahan pangan alami seperti buah dan sayuran berwarna merah, jingga, kuning, dan hijau. Kandungan yang membawa pigmen ini adalah alfa dan beta-karoten, lutein, zeaxanthin, dan lycopene.    

Kalau Anda terlalu banyak makan buah dan sayur dengan kandungan-kandungan yang telah disebutkan tadi, karotenoid akan tersimpan dalam darah. Jika sudah terlalu banyak, lapisan kulit pun akan mulai menerima asupan pigmen tersebut. Inilah yang menyebabkan kulit berubah menjadi kuning, jingga, atau kemerahan. Buah dan sayur yang kaya akan karotenoid antara lain wortel, tomat, ubi, timun suri, dan labu kuning.

Umumnya karotenemia tidak membahayakan. Orang-orang yang mengalami gangguan kulit ini akan disarankan untuk mengubah pola makan. Misalnya dengan cara mengurangi konsumsi makanan yang mengandung karotenoid. Anda juga biasanya diminta untuk menghentikan konsumsi suplemen yang mengandung beta-karoten untuk sementara. Setelah itu, biasanya warna kulit Anda yang asli akan pulih kembali.

2. Sirosis

Kulit yang berwarna kuning kejinggaan bisa jadi gejala dari berbagai penyakit yang menyerang hati (liver). Perubahan warna kulit tersebut terjadi karena kadar bilirubin yang terlampau tinggi dalam aliran darah. Meningkatnya kadar bilirubin sendiri menandakan adanya peradangan atau gangguan lainnya pada sel-sel hati. Pada kasus sirosis, penyebabnya adalah jaringan hati yang sehat digantikan dengan jaringan yang rusak. Akibatnya, fungsi hati pun terganggu.

Gejala lain yang harus Anda perhatikan adalah lemas, warna urin atau air seni jadi gelap, perut buncit karena pembengkakan organ dalam, mimisan, muntah darah, sering haus, dan gatal-gatal. Perawatan dan pengobatan yang diberikan bergantung pada seberapa besar kerusakan yang terjadi pada hati. Biasanya perawatan yang ditawarkan hanya berfungsi untuk mencegah atau memperlambat kerusakan hati lebih lanjut. Maka, jika Anda mengalami tanda-tanda tersebut, segera hubungi fasilitas kesehatan dan konsultasikan dengan dokter.   

3. Hepatitis

Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya peradangan hati karena infeksi virus, penyakit hepatitis autoimun, atau efek samping dari konsumsi obat-obatan, narkoba, zat beracun, dan alkohol. Berdasarkan virus penyebabnya, penyakit hepatitis dibedakan menjadi 5, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E.

Orang yang menderita hepatitis akan menujukkan gejala seperti flu dan gejala-gejala lainnya seperti warna kulit berubah kuning kejinggaan seperti kulit Donald Trump, lemas, kehilangan selera makan, sakit perut, serta berat badan turun drastis. Pengobatan untuk hepatitis berbeda-beda. Biasanya hepatitis yang disebabkan oleh virus akan ditangani dengan meresepkan obat antivirus. Untuk hepatitis autoimun pengobatannya bisa berupa terapi, transplantasi hati, maupun obat-obatan yang akan membantu mengendalikan sistem imun Anda. Sementara itu, hepatitis karena efek samping zat tertentu akan diberikan pengobatan untuk mengurangi gejalanya.

4. Penyakit hemokromatosis

Kemungkinan lain kulit Anda berubah seperti warna kulit Donald Trump adalah penyakit hemokromatosis. Penyakit ini merupakan sebuah kelainan genetik di mana tubuh menyerap terlalu banyak zat besi. Zat besi ini akan tersimpan dalam bagian-bagian tubuh seperti hati, pankreas, kulit, dan sendi. Jika zat besi dalam tubuh Anda lari menuju kulit, hasilnya pun akan tampak pada permukaan kulit Anda, yaitu warna kulit berubah jadi jingga kecoklatan.

Untuk mengobati penyakit hemokromatosis, Anda biasanya perlu melalui prosedur tertentu yang guna mengurangi jumlah darah yang mengandung terlalu banyak zat besi. Anda juga akan disarankan untuk menjalani terapi. Selain itu, perubahan pola makan yang minim zat besi merupakan salah satu perawatan yang perlu Anda lakukan.

Gambar: Albert H. Teich / Shutterstock.com

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ternyata menonton film sedih bukan cuma membuat kita menangis, tapi ada juga manfaat lainnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Manfaat Buah Stroberi yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

Tahukah Anda, buah stroberi dapat membantu mencegah katarak dan menurunkan tekanan darah? Apalagi manfaat buah merah asam ini untuk kesehatan tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Fakta Gizi, Nutrisi 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

4 Bahaya Komplikasi Infeksi Cacing Pita Dalam Tubuh, Plus Cara Menghindarinya

Tanpa disadari, cacing pita bisa masuk ke dalam tubuh lewat makanan yang mentah atau tidak dimasak dengan benar. Hati-hati, risiko infeksi yang mengintai

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Penyakit Infeksi, Infeksi Jamur dan Parasit 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
tips waxing di rumah

Tips Melakukan Waxing di Rumah Dengan Bahan-bahan Alami

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
bahaya rokok, bahaya merokok bagi kesehatan, dampak rokok, efek rokok, berhenti merokok

Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit
urat menonjol pada orang muda

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit