backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Mengenal Mikroplastik dan Cara Mengurangi Paparannya

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 17/10/2022

    Mengenal Mikroplastik dan Cara Mengurangi Paparannya

    Keseharian Anda mungkin tidak akan lepas dari penggunaan plastik. Selain tidak terurai secara alami, plastik juga bisa berubah jadi serpihan-serpihan kecil yang disebut mikroplastik.

    Paparan materi ini ke dalam makanan mulai menjadi kekhawatiran untuk banyak kalangan. Lantas, apa bahaya mikroplastik bagi kesehatan? Simak pembahasannya berikut ini.

    Apa itu mikroplastik?

    bahaya mikroplastik adalah

    Mikroplastik adalah serpihan plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Materi ini bisa ditemukan dalam air, tanah, maupun udara yang Anda hirup.

    Limbah plastik mengalami proses penguraian oleh lingkungan, termasuk dari sinar matahari. Proses ini membuat plastik menjadi rapuh dan pecah.

    Meski tidak terurai sepenuhnya, materi ini akan berubah menjadi potongan-potongan kecil yang disebut mikroplastik.

    Selain berasal dari penguraian plastik besar, mikroplastik juga sengaja dibuat oleh manusia, misalnya sebagai bahan abrasif untuk prosedur sandblasting hingga butiran mikro (microbeads) dalam pembersih wajah.

    Jenis-jenis mikroplastik

    limbah plastik

    Pada dasarnya, mikroplastik dapat ditemukan di mana saja. Salah satu kekhawatiran yang kian dibicarakan yaitu paparan mikroplastik dalam makanan.

    Sebuah laporan dari World Wide Fund for Nature (WWF) menyebutkan bahwa setiap orang memiliki risiko menelan sekitar lima gram plastik per minggunya.

    Penelitian dalam jurnal Environmental Science & Technology (2019) juga menemukan bahwa orang Amerika berisiko mengonsumsi 39.000–52.000 partikel mikroplastik per tahun dari makanan laut (seafood), air, gula, garam, dan alkohol.

    Angka tersebut mungkin akan lebih tinggi pada orang yang terbiasa minum air kemasan plastik.

    Adapun beberapa jenis mikroplastik yang umum terpapar ke dalam makanan ialah sebagai berikut.

    • Bisphenol-A (BPA). Bahan kimia untuk menghasilkan plastik polikarbonat yang kuat, seperti pada wadah makanan dan produk kebersihan.
    • Ftalat (phthalate). Bahan kimia untuk menghasilkan plastik yang fleksibel, transparan, dan tahan lama seperti pada wadah makan.
    • Dioksin. Bahan kimia yang merupakan produk sampingan herbisida dan pemutih kertas yang mencemari lingkungan.
    • Polietilen dan polipropilen. Bahan kimia untuk kemasan plastik makanan, seperti polyethylene terephthalate (PET), high density polyethylene (HDPE), low density polyethylene (LDPE), dan polypropylene (PP).

    Dampak buruk mikroplastik bagi kesehatan

    Tingginya paparan plastik, baik dari makanan atau lingkungan, tentu bisa menimbulkan gangguan kesehatan.

    Berikut ini merupakan sejumlah bahaya mikroplastik yang sebaiknya Anda waspadai.

    1. Memicu gangguan hormon

    hormon estrogen rendah

    Bahan kimia dalam kemasan kaleng dan botol plastik, seperti bisphenol-A atau BPA dapat menyebabkan gangguan hormon.

    BPA tergolong sebagai bahan kimia pengganggu endokrin atau endocrine disrupting chemical (EDC) yang meniru fungsi hormon tubuh.

    Paparan materi ini berisiko memicu gangguan kesuburan, baik pada pria maupun wanita. BPA dapat mengurangi jumlah hormon reproduksi, seperti estrogen dan testosteron.

    Di samping tu, gangguan hormon akibat mikroplastik juga berdampak pada perkembangan sindrom ovarium polikistik (PCOS).

    2. Memengaruhi perkembangan janin

    Sebagai salah satu jenis mikroplastik, BPA juga berdampak buruk terhadap perkembangan janin.

    Paparan BPA selama kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir, gangguan perkembangan perilaku, dan gangguan hormonal pada bayi di kemudian hari.

    Selain itu, paparan ftalat atau phthalate sebelum lahir juga dapat memengaruhi perkembangan alat kelamin laki-laki bahkan hingga masa pubertas.

    Anak laki-laki yang terpapar flatat dalam kadar tinggi kemungkinan terlahir dengan testis yang belum turun sempurna dan ukuran penis yang kecil.

    3. Mengganggu kesehatan usus

    ilustrasi usus buntu pecah

    Mikroplastik dalam makanan juga berbahaya untuk kesehatan usus. Bagian sistem pencernaan ini memainkan peranan penting pada kekebalan tubuh manusia.

    Paparan materi ini secara terus-menerus pada usus akan memengaruhi sel-sel kekebalan di dalamnya dan memicu kondisi yang disebut dysbiosis.

    Kondisi ini terjadi ketika mikrobiota usus tidak seimbang, di mana terlalu banyak bakteri jahat.

    Pada akhirnya, dysbiosis bisa menimbulkan komplikasi, termasuk irritable bowel syndrome (IBS), infeksi jamur, hingga kanker usus besar (kolorektal).

    4. Meningkatkan risiko penyakit kronis

    Plastik tidak hanya terpecah jadi mikroplastik. Materi ini bisa terus terurai hingga menjadi partikel debu yang disebut nanoplastik.

    Paparan nanoplastik baik dalam wujud BPA, ftalat, maupun dioksin dalam jangka panjang bisa memicu peradangan, resistensi insulin, hingga obesitas.

    Berbagai faktor tersebut tentu membuat Anda lebih berisiko mengalami penyakit kronis, termasuk penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

    Cara mengurangi bahaya mikroplastik

    Meski paparan serpihan plastik tidak dapat dihindari sepenuhnya, Anda bisa mengurangi bahayanya dengan langkah-langkah berikut ini.

    1. Batasi konsumsi makanan laut

    Konsentrasi mikroplastik paling tinggi umumnya ditemukan pada makanan laut, terlebih kerang.

    Sebuah studi dalam jurnal Current Opinion In Food Science (2021) memperkirakan, orang yang rutin makan kerang dapat mengonsumsi 2.602–16.288 partikel mikroplastik setiap tahun.

    Maka dari itu, Anda mungkin perlu membatasi konsumsi makanan laut. Jika ingin makan seafood, lebih baik pilih yang berkualitas tinggi dan diketahui jelas sumbernya.

    2. Konsumsi makanan segar

    Mengonsumsi makanan segar membantu Anda mengurangi bahaya mikroplastik dari makanan.

    Sebaliknya, kebiasaan sering mengonsumsi makanan olahan dalam kemasan plastik dan kaleng membuat tubuh lebih mudah terpapar mikroplastik, seperti BPA dan flatat.

    Tidak hanya itu, rendahnya zat gizi dan bahaya mikroplastik dari makanan olahan juga dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit jantung.

    3. Hindari penggunaan plastik sekali pakai

    bahaya mikroplastik

    Mikroplastik umumnya berasal dari limbah plastik. Oleh sebab itu, Anda lebih baik menghindari penggunaan plastik sekali pakai, seperti sedotan, gelas, dan alat makan.

    Untuk mengurangi paparan materi ini ke makanan, Anda juga bisa menggunakan wadah makanan alternatif selain plastik.

    Cobalah untuk menggunakan wadah makanan dan peralatan makan dari bahan yang lebih aman, seperti kaca atau stainless steel.

    4. Gunakan botol air kaca atau stainless steel

    Ketimbang botol plastik, Anda bisa beralih menggunakan botol air minum berbahan kaca atau stainless steel untuk mengurangi bahaya mikroplastik.

    Hindari pula kebiasaan minum air dari botol plastik yang hangat. Ini karena panas bisa memicu perpindahan mikroplastik dari kemasan ke dalam air.

    Apabila Anda ingin minum air dalam kemasan botol maupun galon, selalu perhatikan penyimpanannya. Sebisa mungkin, simpanlah air kemasan di tempat yang jauh dari sinar matahari.

    5. Rutin membersihkan rumah

    Mikroplastik dan nanoplastik dapat ditemukan di mana saja, termasuk debu dalam rumah Anda.

    Untuk mengurangi risikonya, Anda perlu rutin membersihkan rumah terutama pada area yang rawan debu, seperti bagian atas dan kolong furnitur, jendela, ventilasi, dan pot tanaman.

    Anda juga bisa menggunakan air purifier dengan filter HEPA (high efficiency particulate air) yang membantu menyaring partikel nanoplastik dari udara.

    Meski berukuran kecil, paparan mikroplastik dalam jangka panjang tentu bisa menyebabkan dampak buruk bagi tubuh.

    Penting untuk mengurangi risikonya dengan mengurangi penggunaan plastik sekaligus menerapkan gaya hidup sehat dan bersih.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

    General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 17/10/2022

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan