Cyanobacteria, Bermanfaat atau Berbahaya untuk Kesehatan?

    Cyanobacteria, Bermanfaat atau Berbahaya untuk Kesehatan?

    Jika pernah melihat ganggang berwarna hijau kebiruan di daerah perairan, besar kemungkinan itu adalah cyanobacteria. Organisme ini ternyata merupakan bakteri yang mirip tanaman.

    Cyanobacteria bisa dimanfaatkan sebagai suplemen kesehatan. Di sisi lain, konsumsi air yang terkontaminasi bakteri ini bisa mengakibatkan keracunan.

    Apa itu cyanobacteria?

    Cyanobacteria adalah organisme dalam kelompok Eubacteria (bakteri) yang umumnya muncul secara alami di wilayah perairan atau tanah yang lembap.

    Kelompok bakteri yang juga dikenal sebagai sianobakteri atau ganggang biru-hijau ini sering ditemukan di danau.

    Ciri-ciri Cyanobacteria yaitu dapat berfotosintesis sendiri dengan menyerap cahaya matahari dan menghasilkan klorofil, yaitu pigmen yang memberikan warna hijau pada daun.

    Bakteri ini dapat tumbuh banyak dan sering mengubah air menjadi hijau, biru-hijau, atau hijau kecokelatan.

    Manfaat Cyanobacteria untuk kesehatan

    cyanobacteria

    Ganggang yang dapat menyebabkan batu-batu di daerah perairan menjadi lebih licin ini ternyata punya beragam manfaat untuk kesehatan.

    Mengutip dari Journal of Medicine Food (2013), peranan Cyanobacteria untuk kesehatan telah sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

    Pasalnya, sianobakteri memiliki berbagai zat makro dan mikro yang dibutuhkan oleh tubuh.

    Kandungan bioaktif Cyanobacteria meliputi:

    • fikosianin,
    • karotenoid,
    • asam linolenat,
    • serat,
    • protein, dan
    • fitosterol.

    Pengolahan dan penggunaan ganggang biru hijau ini semakin berkembang pesat, salah satu hasilnya yaitu suplemen herbal spirulina.

    Sel spirulina memiliki nilai gizi dan daya cerna yang tinggi karena kaya akan serat dan kandungan protein, serta sebagai sumber antioksidan, koenzim, dan vitamin.

    Lebih jauh, Cyanobacteria juga berkhasiat untuk mencegah beberapa risiko penyakit, seperti:

    • penyakit kardiovaskular,
    • penyakit perlemakan hati nonalkoholik,
    • membantu menurunkan tekanan darah tinggi, dan
    • mengurangi plasma trigliserida.

    Meski begitu, Anda perlu berhati-hati dengan kelompok bakteri ini.

    Mengutip dari situs US Environmental Protection Agency, sianobakteria dapat bersifat toksik (beracun) dan menimbulkan masalah kesehatan pada manusia.

    Bahaya Cyanobacteria untuk kesehatan

    Pada dasarnya, sebagian besar spesies alga atau ganggang tidak berbahaya.

    Namun, sianobakteri yang berkembang dalam jumlah banyak, atau disebut juga Cyanobacteria bloom, merupakan pencemaran lingkungan yang bisa membahayakan kesehatan.

    Menurut situs Center for Disease Control and Prevention, Cyanobacteria bloom di sebuah kawasan di Amerika justru bersifat toksik (Cyanotoxin) dan mulai mengaliri perairan di tempat wisata, bahkan air keran di kawasan permukiman.

    Ketika air keran terkontaminasi, paparan racun dari ganggang biru hijau ini dapat terjadi melalui aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga.

    Cyanotoxin mengandung beberapa racun seperti:

    • mikrosistin,
    • nodularin,
    • silindrospermopsin,
    • anatoxin-a,
    • anatoin-a,
    • lyngbyatoxin, dan
    • saxitoxins.

    Kontaminasi Cyanotoxin dapat mengakibatkan beberapa masalah kesehatan seperti berikut.

    1. Gangguan pencernaan

    Pertumbuhan Cyanobacteria yang meluas dapat meningkatkan konsentrasi mikrosistin bakteri ini.

    Bila mikrosistin yang tertelan melebihi batas toleransi tubuh terhadap racun, Anda berisiko mengalami masalah pencernaan yang meliputi:

    • mual,
    • muntah,
    • diare,
    • nyeri perut, dan
    • peningkatan enzim hati.

    Selain sistem pencernaan, efek mengonsumsi ganggang ini bisa berupa pusing, lemas, hingga kerusakan hati.

    2. Masalah pernapasan

    Pengolahan Cyanobacteria menjadi bahan pangan maupun obat dan suplemen juga menghasilkan aerosol toksik.

    Jika menghirup aerosol beracun yang mencemari udara ini, Anda berisiko mengalami masalah kesehatan seperti:

    • rinitis,
    • sakit tenggorokan,
    • bronkospasme (penyempitan saluran napas), dan
    • pneumonia.

    Udara yang mengandung aerosol Cyanotoxin bisa terhirup ketika Anda tidak menggunakan alat pelindung diri dengan tepat.

    3. Masalah pada kulit

    cyanobacteria

    Anda bisa terpapar air yang terkontaminasi Cyanotoxin saat Anda beraktivitas atau berenang.

    Paparan ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kulit, seperti:

    • sensasi terbakar di kulit,
    • dermatitis, dan
    • muncul ruam di area bibir seperti melepuh.

    Ciri-ciri perairan yang terkontaminasi adalah munculnya banyak ganggang sehingga air berubah warna menjadi kehijauan, hijau kebiruan, atau hijau kecokelatan.

    Tahukah Anda?

    Perkembangbiakan Cyanobacteria yang masif di perairan termasuk proses pencemaran air yang terjadi secara alami.

    4. Gangguan pada mata

    Aerosol Cyanotoxin yang terkena mata juga dapat mengakibatkan masalah seperti:

    • konjungtivitis,
    • lakrimasi,
    • mata bengkak, dan
    • fotofobia.

    Jangan tunda untuk mendatangi fasilitas layanan kesehatan terdekat bila Anda mengalami masalah pada akibat paparan Cyanotoxin.

    Cara mengatasi bahaya Cyanobacteria

    Penanganan yang diberikan pada seseorang yang terpapar Cyanobacteria biasanya berupa perawatan untuk mengurangi gejala.

    Meski begitu, perawatan yang dijalani bisa bersifat pengobatan di rumah maupun penanganan medis, bergantung seberapa parah gejala yang dialami.

    Di bawah ini beberapa cara mengatasi efek yang ditimbulkan oleh paparan Cyanotoxin yang terangkum dalam situs CDC.

    • Hentikan paparan dengan menghindari makanan, air, atau area yang terkontaminasi.
    • Pastikan mencukupi kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh.
    • Arang aktif diyakini dapat membantu pengobatan jika dikonsumsi 1 – 2 jam setelah menelan racun selama tidak ada kontraindikasi atau efek berat.
    • Segera basuh kulit yang terpapar dengan sabun dan air mengalir.
    • Penggunaan antihistamin dan krim steroid mungkin dapat dipertimbangan dan harus dalam pengawasan tenaga medis.
    • Segera bawa ke IGD rumah sakit atau puskesmas terdekat bila mata Anda terpapar Cyanotoxin atau mengalami efek samping serius lainnya.

    Untuk mencegah bahayanya, hindari minum air dari sumber yang Anda curigai terpapar ganggang biru hijau ini.

    Jauhi area yang ditumbuhi banyak Cyanobacteria atau warna air yang hijau dan kecokelatan saat Anda berenang maupun melakukan aktivitas lainnya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Harmful Algal Bloom (HAB)-Associated Illness. (2022). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 19 September 2022, from https://www.cdc.gov/habs/materials/factsheet-cyanobacterial-habs.html

    Ku, C., Yang, Y., Park, Y., & Lee, J. (2013). Health Benefits of Blue-Green Algae: Prevention of Cardiovascular Disease and Nonalcoholic Fatty Liver Disease. Journal Of Medicinal Food, 16(2), 103-111. doi: 10.1089/jmf.2012.2468

    Epidemiology and Health Effects of Cyanobacteria Research | US EPA. (2014). Retrieved 19 September 2022, from https://www.epa.gov/water-research/epidemiology-and-health-effects-cyanobacteria-research

    Cyanobacteria, aka blue-green algae, Maine Department of Environmental Protection. (2022). Retrieved 19 September 2022, from https://www.maine.gov/dep/water/lakes/cyanobacteria.html

    Management of cyanobacteria in drinking-water supplies. (2022). Retrieved 19 September 2022, from https://www.who.int/publications/i/item/WHO-FWC-WSH-15.03

    Zahra, Z., Choo, D., Lee, H., & Parveen, A. (2020). Cyanobacteria: Review of Current Potentials and Applications. Environments, 7(2), 13. doi: 10.3390/environments7020013

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany Diperbarui Sep 27
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan