home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jika Satu Kembar Terkena Kanker, Apa Kembarannya Akan Menyusul?

Jika Satu Kembar Terkena Kanker, Apa Kembarannya Akan Menyusul?

Apakah Anda memiliki anak kembar? Atau malah memiliki kembaran? Anak yang kembar sering kali disamakan dalam berbagai hal, tidak hanya baju sama, tas sama, atau berbagai perlengkapan lainnya. Tidak hanya itu, banyak yang mengatakan bahwa saudara kembar saling memiliki ikatan batin yang cukup kuat satu sama lain. Ketika kembarannya merasa sedih atau marah, ia akan merasakan sesuatu. Namun apakah benar ketika salah satu anak kembar merasakan sakit, kembaran yang satu lagi akan merasakan sakit yang sama? Bagaimana jika kembarannya mengalami kanker? Apakah ia akan mengalami kanker yang sama karena memiliki gen yang sama?

Berikut adalah penjelasan terkait penelitian yang meneliti penyakit kanker yang terjadi pada salah satu saudara kembar.

Anak kembar berisiko mengalami kanker yang sama

Terdapat dua jenis kembar, yaitu kembar identik dan kembar non-identik. Kembar identik memiliki penampilan fisik yang sangat mirip, hingga orang-orang akan susah membedakan keduanya. Sedangkan pada kembar non-identik, penampilan fisiknya tidak terlalu mirip sehingga mudah untuk dibedakan. Baru-baru ini penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari Harvard T. H. Chan School of Public Health jika salah satu saudara kembar mengalami kanker, maka bukan tidak mungkin saudara kembar yang satunya lagi juga dapat mengalami kanker.

Penelitian ini dilaporkan dalam The Journal of The American Medical Association, dengan melibatkan sebanyak 80 ribu anak kembar identik dan 123 ribu saudara kembar tidak identik, serta dilakukan di 4 negara yaitu Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia. Peneliti melakukan penelitian dan mengikuti para saudara kembar ini dalam kurun waktu 32 tahun, yaitu dari tahun 1943 hingga 2010.

Dari penelitian ini diketahui bahwa jika salah satu dari anak kembar identik mengalami kanker, maka kembarannya yang lain memiliki risiko mengalami kanker sebesar 14%. Sedangkan anak kembar tidak identik hanya berpeluang 5% untuk mengalami kanker. Tidak sampai di situ saja, hasil penelitian menunjukkan 20 dari 23 jenis kanker yang diteliti, bila salah satu anak kembar mengalami jenis kanker tertentu, maka saudara kembarnya mempunyai risiko 2 kali lebih tinggi untuk mengalami jenis kanker yang sama, bahkan dengan stadium yang lebih tinggi. Hal ini terbukti pada jenis kanker seperti kanker prostat, kanker kulit, kanker payudara, kanker rahim, dan kanker indung telur atau ovarium.

Apakah semua akibat faktor genetik?

Sepasang anak kembar sebenarnya saling ‘berbagi’ gen yang ada di dalam tubuhnya. Pada anak kembar identik, mereka membagi hampir semua gennya, sehingga gen yang dimiliki anak kembar tersebut sama. Sementara anak yang kembar tidak identik, mereka hanya berbagi setengah dari total gennya, menyebabkan mereka hampir sama dengan kakak-adik yang bersaudara tapi tidak kembar. Faktor genetik mungkin dapat mengakibatkan munculnya kejadian kanker dengan risiko 30 hingga 60 persen, termasuk pada kanker prostat, kanker rahim, kanker payudara, kanker testis, kanker ginjal, dan kanker kulit.

Namun, peneliti menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan penyakit kanker yang terjadi pada anak kembar. Tidak hanya faktor genetik yang mempengaruhi dan meningkatkan penyakit kanker, tetapi juga beberapa faktor seperti faktor gaya hidup dan lingkungan sekitar. Faktor gaya hidup dapat dijadikan alasan karena, anak yang kembar kemungkinan besar juga memiliki gaya hidup yang sama. Entah itu, pemilihan makanan yang sama, pola asuh yang sama, dan menerapkan pola hidup yang sama.

Contohnya saja ketika seorang anak kembar yang merokok dan kemudian mengalami kanker paru akibat kebiasaannya itu. Tidak menutup kemungkinan kembarannya dapat mengalami kanker paru juga akibat ikut-ikutan merokok atau jika ia tidak merokok, ia lebih sering menghirup asap rokok yang juga dapat menyebabkan kanker paru. Sementara ia juga memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami kanker karena faktor gen dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki saudara kembar yang terkena kanker.

Memang masih belum cukup bukti ilmiah yang muncul mengenai hubungan anak kembar dengan penyakit kanker. Oleh karena itu, penelitian yang melibatkan saudara kembar perlu dilakukan lebih lanjut karena sangat penting untuk dimengerti. Dengan melakukan penelitian seperti ini, peneliti dapat mengetahui hubungan antara gen dengan berbagai penyakit degeneratif seperti kanker.

BACA JUGA

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ahlbom, A., Lichtenstein, P., Malmstrom, H., Feychting, M., Pedersen, N. and Hemminki, K. (1997). Cancer in Twins: Genetic and Nongenetic Familial Risk Factors. JNCI Journal of the National Cancer Institute, 89(4), pp.287-293.

Cancer Epidemiology and Cancer Prevention. (2016). Nordic Twin Study of Cancer (NorTwinCan). [online] Available at: https://www.hsph.harvard.edu/cecp/nortwincan/  [Accessed 8 Nov. 2016].

Lichtenstein, P., Holm, N., Verkasalo, P., Iliadou, A., Kaprio, J., Koskenvuo, M., Pukkala, E., Skytthe, A. and Hemminki, K. (2000). Environmental and Heritable Factors in the Causation of Cancer — Analyses of Cohorts of Twins from Sweden, Denmark, and Finland. New England Journal of Medicine, 343(2), pp.78-85.

Foto Penulis
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M pada 20/11/2016
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x