Granuloma, Benjolan yang Menandakan Peradangan pada Tubuh

Granuloma, Benjolan yang Menandakan Peradangan pada Tubuh

Ketika sakit, reaksi peradangan biasanya terjadi di dalam tubuh sebagai bentuk pertahanan diri. Dari reaksi ini, granuloma bisa terbentuk pada bagian tubuh yang terserang penyakit. Ada beberapa jenis granuloma yang umum ditemukan, simak penjelasan lengkapnya!

Apa itu granuloma?

Granuloma adalah benjolan kecil pada jaringan tubuh yang terbentuk dari kumpulan sel-sel darah putih. Granuloma muncul akibat adanya respons tubuh terhadap peradangan.

Sel darah putih yang berkumpul ini sebenarnya berguna untuk mencegah penyebaran kuman penyebab infeksi.

Selain itu, kumpulan sel darah putih membantu menghalangi benda asing yang berbahaya agar tidak semakin merusak tubuh.

Umumnya, benjolan ini ditemukan pada paru-paru, tetapi bisa juga pada bagian tubuh lainnya.

Tidak semua benjolan bisa dilihat atau dideteksi dengan mudah. Ada beberapa jenis granuloma yang baru bisa diketahui dengan rontgen atau biopsi.

Benjolan ini jinak, artinya tidak akan berkembang menjadi kanker.

Jenis-jenis granuloma

jenis granuloma

Berikut beberapa jenis granuloma yang biasa ditemukan pada manusia.

1. Granuloma paru

Granuloma paru merupakan salah satu jenis yang paling sering ditemukan.

Benjolan ini biasanya ditemukan pada penyakit tuberkulosis (TBC).

Infeksi bakteri penyebab TBC-lah yang memicu reaksi peradangan sehingga granumola terbentuk.

Benjolan di paru juga biasa ditemui pada penyakit sarkoidosis. Hingga saat ini, belum diketahui mengapa benjolan muncul.

Meski begitu, para ahli menduga bahwa penyebab granuloma paru ini muncul akibat tubuh melawan adanya benda asing pada paru, seperti debu dan kimia berbahaya.

2. Granuloma kulit

Jenis yang kerap ditemui pada kulit adalah granuloma annulare.

Ini adalah kondisi yang terjadi pada kulit yang disertai dengan kerak, ruam, dan benjolan yang membulat menyerupai cincin.

Kondisi ini biasanya ditemukan pada kulit bagian buku-buku jari, punggung tangan, siku, dan pergelangan kaki.

Penyebab munculnya benjolan ini meliputi cedera, infeksi, atau reaksi alergi yang tertunda.

Benjolan di kulit juga erat kaitannya dengan penyakit yang menyerang berbagai sistem kerja tubuh, seperti hiperlipidemia, HIV, dan tiroiditis autoimun.

Diabetes pun turut meningkatkan risiko kondisi ini, tepatnya disseminated granuloma annulare.

3. Granulomatous interstitial nephritis (GIN)

Mengutip studi terbitan Clinical Kidney Journal (2015), GIN relatif jarang terjadi, hanya ditemukan pada 0,5 – 0,9% dari seluruh biopsi ginjal.

Jenis granuloma ini berkaitan dengan penyakit sarkoidosis, TBC, dan infeksi jamur.

Tak hanya itu, menggunakan beberapa jenis antibiotik bisa meningkatkan risiko benjolan ini, di antaranya:

  • sefalosporin,
  • vankomisin,
  • nitrofurantoin, dan
  • ciprofloxacin.

Gejalanya memang sulit dirasakan dan hanya bisa ditemukan bila Anda biopsi ginjal.

Meski begitu, Anda akan mengalami beberapa gejala cedera ginjal akut. Berikut tanda-tandanya.

  • Urine terlalu sedikit.
  • Pembengkakan.
  • Sesak napas.
  • Kebingungan.
  • Mual.
  • Pembengkakan pada betis, lengan, dan sekitar mata.

4. Granuloma hati

Sama dengan penyebab lainnya, benjolan pada liver ini muncul akibat adanya infeksi atau mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Beberapa penyakit pemicu kondisi ini, di antaranya:

  • limfoma non-hodgkin,
  • schistosomiasis,
  • TBC, dan
  • kolangitis.

Kondisi ini jarang menunjukkan gejala, tetapi umumnya Anda mengalami penyakit kuning yang ringan akibat ukuran liver membesar.

5. Granulomatous lymphadenitis (GLA)

Granulomatous lymphadenitis adalah benjolan yang terjadi pada kelenjar getah bening.

Kondisi ini biasanya diakibatkan oleh beberapa penyakit infeksi, seperti infeksi jamur, sifilis, kusta, dan toksoplasma. Lagi-lagi, sarkoidosis juga bisa menimbulkan kondisi ini.

GLA bisa menyebabkan kerusakan jaringan pada kulit dan membuatnya bernanah.

Tak hanya kulit, kelenjar getah bening Anda juga bisa mengalami kerusakan yang ditandai dengan adanya nanah pada siku dan ketiak sisi kanan.

GLA bisa ditemukan pula sebagai benjolan di leher pada anak-anak dan remaja.

6. Granuloma kronis

Granuloma kronis merupakan penyakit genetik yang membuat sel darah putih bernama fagosit tidak mampu membunuh kuman penyebab infeksi.

Karena sel-sel fagosit yang tidak aktif melawan infeksi, kumpulan sel darah ini akhirnya membentuk benjolan.

Berikut ini beberapa jenis bakteri dan jamur yang tak mampu dilawan oleh tubuh pengidap granuloma kronis.

  • Staphylococcus aureus.
  • Serratia marcescens.
  • Burkholderia cepacia.
  • Nocardia species.
  • Aspergillus species.

Benjolan bisa berisi nanah dan tersebar di berbagai organ tubuh, seperti:

  • paru-paru,
  • limpa,
  • tulang, dan
  • kulit.

Kondisi ini bahkan bisa menyumbat usus dan saluran kemih.

7. Granuloma jantung

Granuloma jantung umumnya disebabkan oleh adanya sarkoidosis. Jaringan jantung pun akhirnya mengalami kerusakan akibat adanya benjolan berisi sel darah putih.

Kerusakan ini membuat irama jantung berdetak lebih kencang. Tak hanya itu, kondisi ini bahkan menyebabkan blok jantung atau tersumbatnya aliran listrik pada jantung.

Komplikasi lainnya yang bisa timbul, yaitu gagal jantung dan kardiomiopati.

Berikut tanda-tanda yang bisa Anda amati.

  • Nyeri dada.
  • Pingsan.
  • Kelelahan.
  • Jantung berdebar kencang.
  • Sesak napas.
  • Betis membengkak.

Pengobatan granuloma

pengobatan granuloma

Pengobatan bergantung pada jenis dan penyebab granuloma. Namun, ada pula kondisi yang tidak membutuhkan pengobatan apa pun.

Orang dengan kondisi kronis membutuhkan antibiotik atau antijamur untuk mencegah infeksi yang lebih parah.

Pengobatan ini bahkan dilakukan seumur hidup. Pengobatan juga bisa dilakukan dengan tindakan cangkok sumsum tulang belakang.

Beberapa orang yang memiliki sarkoidosis bisa pulih dengan sendirinya selama 1 – 3 tahun.

Dalam kasus tertentu, sarkoidosis diobati dengan obat-obatan anti-inflamasi, seperti prednisolone atau kortison.

Obat-obatan kortikosteroid atau terapi cahaya juga biasanya diberikan pada benjolan pada kulit.

Segera ke dokter bila menemukan benjolan pada tubuh Anda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Rangkuman

  • Merupakan benjolan berisi sel darah putih yang timbul saat tubuh melawan infeksi atau benda asing.
  • Benjolan ini jinak tidak berubah menjadi kanker.
  • Benjolan sebagian besar muncul akibat sarkoidosis.
  • Ada kasus yang tidak perlu pengobatan, ada pula perlu pengobatan berupa antibiotik, kortikosteroid, hingga cangkok sumsum tulang belakang.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Granulomas. (2022). Retrieved 20 September 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/granulomas

Sarcoidosis – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 20 September 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sarcoidosis/symptoms-causes/syc-20350358

Granuloma: What does it mean?. (2022). Retrieved 20 September 2022, from https://www.mayoclinic.org/granuloma/expert-answers/faq-20057838

Williams, O., & Fatima, S. (2021). Granuloma. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554586/

Granuloma annulare – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 20 September 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/granuloma-annulare/symptoms-causes/syc-20351319

Granuloma annulare | DermNet. (2022). Retrieved 20 September 2022, from https://dermnetnz.org/topics/granuloma-annulare

Shah, S., Carter-Monroe, N., & Atta, M. G. (2015). Granulomatous interstitial nephritis. Clinical Kidney Journal, 8(5), 516-523. https://doi.org/10.1093/ckj/sfv053

Naidu, G. D., Ram, R., Swarnalatha, G., Uppin, M., Prayaga, A. K., & Dakshinamurty, K. V. (2013). Granulomatous interstitial nephritis: Our experience of 14 patients. Indian Journal of Nephrology, 23(6), 415-418. https://doi.org/10.4103/0971-4065.120336

Acute Kidney Injury (AKI). (2015). Retrieved 20 September 2022, from https://www.kidney.org/atoz/content/AcuteKidneyInjury

Culver, E. L., Watkins, J., & Westbrook, R. H. (2016). Granulomas of the liver. Clinical Liver Disease, 7(4), 92-96. https://doi.org/10.1002/cld.544

Asano, S. (2012). Granulomatous lymphadenitis. Journal of Clinical and Experimental Hematopathology, 52(1), 1-16. https://doi.org/10.3960/jslrt.52.1

Chronic Granulomatous Disease (CGD). (2022). Retrieved 20 September 2022, from https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/chronic-granulomatous-disease-cgd

Cardiac Sarcoidosis. (2021). Retrieved 20 September 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/cardiac-sarcoidosis

Sarcoidosis. (2018). Retrieved 20 September 2022, from https://lungfoundation.com.au/wp-content/uploads/2018/09/Factsheet-Sarcoidosis-Jul2016.pdf

Neven, Q., der Linden, D. V., Hainaut, M., & Schmitz, S. (2020). Long-term outcome of surgical excision for treatment of cervicofacial granulomatous lymphadenitis in children. European Archives of Oto-Rhino-Laryngology, 277(6), 1785-1792. https://doi.org/10.1007/s00405-020-05880-5

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Oct 14
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro