Masalah prostat sering kali baru mendapat perhatian ketika seorang pria mulai mengalami gangguan saat buang air kecil. Padahal, perubahan pada prostat dapat terjadi perlahan seiring bertambahnya usia dan tidak selalu langsung menimbulkan keluhan.
Masalah prostat sering kali baru mendapat perhatian ketika seorang pria mulai mengalami gangguan saat buang air kecil. Padahal, perubahan pada prostat dapat terjadi perlahan seiring bertambahnya usia dan tidak selalu langsung menimbulkan keluhan.

Beberapa kondisi yang cukup sering dibicarakan adalah pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) dan kanker prostat. Menariknya, menjaga kesehatan prostat juga kerap dikaitkan dengan pola makan, termasuk konsumsi tomat.
Apa sebenarnya hubungan tomat dengan kesehatan prostat?
Dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Prostat, dr. Andar R. Siregar, Sp.U, Subsp. Onk. (K), Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, menjelaskan berbagai masalah prostat, gejala yang perlu diperhatikan, hingga perkembangan teknologi untuk menangani gangguan prostat.

Prostat adalah kelenjar pada sistem reproduksi pria yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi sebagian uretra, yaitu saluran yang membawa urine keluar dari tubuh.
Karena posisinya tersebut, perubahan ukuran atau kondisi prostat bisa memengaruhi proses buang air kecil.
Salah satu masalah prostat yang sering terjadi adalah benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
BPH berbeda dari kanker prostat. BPH bukan kanker dan tidak dianggap sebagai faktor risiko terjadinya kanker prostat, meskipun keduanya dapat terjadi pada pria yang sama.
BPH semakin sering ditemukan seiring bertambahnya usia. Data menunjukkan perubahan BPH secara histologis ditemukan pada sekitar 50–60% pria usia 60-an dan meningkat menjadi sekitar 80–90% pada pria berusia lebih dari 70 tahun. Namun, tidak semua orang dengan perubahan tersebut akan mengalami gejala.
Selain BPH, masalah prostat lain yang perlu mendapat perhatian adalah kanker prostat.
Secara global, kanker prostat merupakan kanker kedua yang paling banyak didiagnosis pada pria. Data GLOBOCAN 2022 memperkirakan terdapat sekitar 1,47 juta kasus baru kanker prostat di seluruh dunia pada tahun tersebut.
Sementara di Indonesia, GLOBOCAN 2022 mencatat sekitar 13.130 kasus baru kanker prostat, menjadikannya kanker kelima terbanyak pada pria di Indonesia.
Gangguan prostat, terutama BPH, dapat menimbulkan sekumpulan keluhan yang disebut lower urinary tract symptoms (LUTS) atau gejala saluran kemih bagian bawah.
Secara umum, gejala ini dapat berupa gangguan penyimpanan urine maupun gangguan saat mengeluarkan urine.
Gejala penyimpanan dapat berupa sering buang air kecil, sulit menahan keinginan berkemih (urgency), atau sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil (nocturia).
Sementara itu, gangguan saat mengeluarkan urine dapat berupa pancaran urine yang melemah atau terputus-putus, sulit memulai buang air kecil, harus mengejan, hingga merasa kandung kemih belum benar-benar kosong setelah berkemih.
Menurut dr. Andar, beberapa gejala tersebut terkadang dianggap sebagai bagian normal dari bertambahnya usia.
“Di Indonesia, mungkin, kencing ngeden itu dianggap normal. Tapi itu bisa jadi salah satu gejala,” jelas dr. Andar dalam diskusi bersama media yang digelar di Greyhound, Menteng, Jakarta, 17 September 2026.
Karena itu, perubahan pola buang air kecil yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Usia merupakan salah satu faktor utama terjadinya BPH. Selain proses penuaan dan perubahan hormonal, faktor genetik juga diduga berperan.
Kondisi metabolik dan gaya hidup dapat ikut berkaitan dengan terjadinya atau memburuknya gejala saluran kemih, misalnya obesitas, diabetes, sindrom metabolik, maupun kurangnya aktivitas fisik.
Namun, perlu diingat bahwa keluhan berkemih tidak selalu disebabkan oleh prostat. Diabetes, gangguan tidur, obat-obatan tertentu, infeksi saluran kemih, maupun gangguan kandung kemih juga dapat menyebabkan gejala serupa. Karena itu, pemeriksaan dibutuhkan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.
Tidak semua pembesaran prostat memerlukan tindakan operasi. Pemilihan penanganan mempertimbangkan tingkat keparahan gejala, ukuran dan bentuk prostat, kondisi kesehatan pasien, serta dampak gangguan terhadap kualitas hidup.
Jika tindakan diperlukan, salah satu prosedur yang telah lama digunakan adalah transurethral resection of the prostate (TURP). Pada prosedur ini, sebagian jaringan prostat yang menghambat aliran urine dipotong melalui saluran kemih.
Pedoman European Association of Urology (EAU) menyebut TURP sebagai salah satu pilihan standar untuk pria dengan gejala sedang hingga berat dan volume prostat sekitar 30–80 ml.
Pilihan lainnya adalah operasi prostat menggunakan laser, atau yang dikenal dengan anatomical endoscopic enucleation of the prostate (AEEP), termasuk teknik HoLEP (holmium laser enucleation of the prostate) dan ThuLEP (thulium laser enucleation of the prostate).
Pada acara tersebut, dr. Andar menggambarkan prinsip enukleasi dengan analogi sederhana.
“Metode AEEP itu ibarat mengupas jeruk, selapis demi selapis, jadi bisa bersih.”
Berbeda dengan TURP yang biasanya digunakan pada ukuran prostat tertentu, HoLEP dan ThuLEP dapat digunakan sebagai pilihan yang tidak terlalu dibatasi ukuran prostat, termasuk pada prostat yang besar, selama tersedia fasilitas dan dokter yang berpengalaman dengan teknik tersebut.
Ada pula terapi minimal invasif menggunakan uap air yang dikenal dengan Rezūm atau water vapor thermal therapy. Pedoman AUA terutama mendukung prosedur ini untuk volume prostat sekitar 30–80 cc. Salah satu kelebihannya adalah potensi mempertahankan fungsi seksual, termasuk ejakulasi, pada pasien yang sesuai.
Studi tindak lanjut selama lima tahun juga menunjukkan perbaikan gejala saluran kemih yang bertahan setelah terapi Rezūm, tanpa ditemukan gangguan fungsi seksual baru yang berkaitan langsung dengan prosedur pada kelompok penelitian tersebut.
Dalam pemaparannya, dr. Andar memberikan gambaran bahwa TURP umumnya digunakan pada prostat kurang dari sekitar 80 gram dengan masa perawatan yang dapat berlangsung beberapa hari. AEEP dapat digunakan pada rentang ukuran yang lebih luas dan berpotensi memiliki waktu perawatan lebih singkat, sedangkan Rezūm dapat dilakukan sebagai prosedur minimal invasif dengan pemulihan gejala yang berlangsung bertahap.
Namun, lama rawat dan masa pemulihan setiap pasien tidak bisa disamakan karena dipengaruhi ukuran prostat, kondisi kesehatan, teknik yang digunakan, hingga respons tubuh setelah prosedur.

BPH dan kanker prostat merupakan dua kondisi yang berbeda.
Untuk kanker prostat, faktor risiko yang paling jelas adalah bertambahnya usia. Risiko meningkat terutama setelah memasuki usia 50 tahun.
Riwayat kanker prostat pada keluarga juga penting. Pria yang memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan kanker prostat mempunyai risiko lebih tinggi dibandingkan pria tanpa riwayat keluarga. Sejumlah perubahan gen yang diturunkan, termasuk BRCA1 dan terutama BRCA2, juga dapat meningkatkan risiko.
Kanker prostat stadium awal pun sering kali tidak menimbulkan gejala. Inilah sebabnya deteksi dini menjadi penting pada orang yang memiliki usia atau faktor risiko yang sesuai.
Salah satu pemeriksaan awal yang dapat digunakan untuk skrining kanker prostat adalah prostate-specific antigen (PSA).
PSA merupakan protein yang dihasilkan oleh jaringan prostat dan kadarnya dapat diperiksa melalui sampel darah.
American Urological Association (AUA) merekomendasikan PSA sebagai pemeriksaan pertama ketika seseorang menjalani skrining kanker prostat. Namun, keputusan melakukan skrining sebaiknya dilakukan melalui diskusi bersama dokter karena manfaat dan risiko pemeriksaan dapat berbeda untuk setiap orang.
Sebagai gambaran, AUA menyebut pemeriksaan PSA awal dapat dipertimbangkan pada usia sekitar 45–50 tahun untuk pria dengan risiko rata-rata. Pada kelompok dengan risiko lebih tinggi, seperti riwayat keluarga kanker prostat yang kuat atau mutasi gen tertentu, diskusi skrining dapat dimulai lebih dini, sekitar usia 40–45 tahun.
PSA yang tinggi juga tidak otomatis berarti kanker prostat. Jika hasilnya mencurigakan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan fisik prostat, pengulangan PSA, MRI prostat, hingga biopsi bila memang diperlukan.
Nah, dalam diskusi ini, tomat menjadi salah satu bahasan yang menarik.
Tomat merupakan salah satu sumber likopen (lycopene), yaitu pigmen karotenoid yang memberi warna merah pada tomat.
Proses pemasakan atau pengolahan tomat dapat membuat likopen lebih mudah diserap tubuh.
Sebuah studi intervensi menemukan bahwa konsumsi tomat yang dimasak bersama minyak zaitun meningkatkan kadar likopen dalam darah dibandingkan tomat mentah tanpa minyak. Produk tomat olahan seperti pasta dan puree juga dikenal sebagai sumber likopen dengan bioavailabilitas yang baik.
Menariknya, sejumlah penelitian observasional menemukan hubungan antara konsumsi tomat dan risiko kanker prostat yang lebih rendah.
Sebuah systematic review dan dose-response meta-analysis yang mencakup 30 studi, lebih dari 260 ribu peserta, dan 24.222 kasus kanker prostat menemukan bahwa konsumsi tomat yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan risiko kanker prostat.
Pada kelompok yang mengonsumsi tomat matang dan saus tomat, risiko relatif kanker prostat tercatat sekitar 16% lebih rendah dibandingkan kelompok dengan konsumsi yang lebih rendah (RR 0,84; 95% CI 0,73–0,98). Sementara itu, konsumsi tomat mentah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dalam analisis tersebut.
Namun, temuan ini tidak berarti bahwa makan tomat dapat menjamin seseorang terhindar dari kanker prostat.
Sebagian besar bukti tersebut berasal dari penelitian observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. National Cancer Institute (NCI) juga menyatakan bahwa bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan likopen sebagai cara yang terbukti dapat mencegah kanker prostat.
Dengan kata lain, tomat tetap merupakan bagian yang baik dari pola makan seimbang, tetapi bukan pengganti skrining maupun pemeriksaan medis pada orang yang berisiko.
Jika kanker prostat masih terlokalisasi dan memenuhi kriteria tertentu, salah satu pilihan pengobatannya adalah radical prostatectomy, yaitu operasi untuk mengangkat prostat dan jaringan di sekitarnya.
Selain operasi terbuka dan laparoskopi konvensional, prosedur ini kini juga dapat dilakukan dengan bantuan sistem robotik.
Istilah robotic surgery bukan berarti robot melakukan operasi secara mandiri. Dokter bedah tetap sepenuhnya mengendalikan setiap gerakan instrumen melalui sistem robotik.
Menurut dr. Andar, teknologi ini memungkinkan dokter melakukan gerakan operasi dengan tingkat presisi tinggi pada area yang sempit di sekitar prostat.
Hal tersebut penting karena prostat berada dekat dengan struktur yang berperan dalam kontrol berkemih dan fungsi ereksi.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa robot-assisted radical prostatectomy dapat memberikan hasil fungsional yang baik, termasuk dalam pemulihan fungsi ereksi pada sebagian pasien dibandingkan laparoskopi konvensional. Namun, hasil studi belum menunjukkan keunggulan yang konsisten untuk semua luaran.
Kemampuan mempertahankan fungsi ereksi atau kontrol berkemih juga tidak dapat dijamin. Hasil setelah operasi dipengaruhi oleh usia, fungsi seksual sebelum operasi, luas kanker, kemungkinan dilakukannya teknik nerve-sparing, serta pengalaman tim bedah.
Karena itu, pilihan teknologi operasi sebaiknya diputuskan berdasarkan kondisi dan tujuan perawatan setiap pasien, bukan semata-mata karena teknologi tertentu dianggap lebih baru.
Menjaga kesehatan prostat tidak hanya dilakukan ketika keluhan sudah muncul.
Pola makan seimbang yang kaya sayuran dan buah, berat badan yang sehat, aktivitas fisik rutin, serta pengendalian penyakit seperti diabetes dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Kebiasaan minum juga dapat disesuaikan bila seseorang sering terbangun pada malam hari untuk berkemih. Asupan cairan yang cukup sebaiknya dipenuhi terutama sepanjang hari dan dapat dikurangi menjelang waktu tidur jika sering mengalami nocturia. Namun, kebutuhan cairan tetap harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Pedoman EAU juga memasukkan pengaturan waktu minum sebagai salah satu modifikasi perilaku untuk membantu mengurangi gejala berkemih pada malam hari.
Yang tidak kalah penting adalah memperhatikan perubahan pola berkemih dan mendiskusikan skrining dengan dokter ketika memasuki kelompok usia atau risiko yang sesuai.
Ingat-ingat pesan utama dalam diskusi bersama dr. Andar: “Early Detection Saves Lives & Preserves Quality of Life.”
Tomat mungkin menjadi salah satu bagian kecil dari pola makan sehat untuk menjaga tubuh. Namun, untuk kesehatan prostat, mengenali gejala, mengetahui faktor risiko, dan melakukan pemeriksaan pada waktu yang tepat tetap memiliki peran yang jauh lebih besar.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Rowles, J. L., et al. “Processed and Raw Tomato Consumption and Risk of Prostate Cancer: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis.” Prostate Cancer and Prostatic Diseases, 2018.
National Cancer Institute. “Prostate Cancer Prevention (PDQ®).”
International Agency for Research on Cancer. “Global Cancer Observatory: Indonesia Fact Sheet, GLOBOCAN 2022.”
Bray, Freddie, et al. “Global Cancer Statistics 2022: GLOBOCAN Estimates of Incidence and Mortality Worldwide for 36 Cancers in 185 Countries.” CA: A Cancer Journal for Clinicians, 2024.
American Urological Association/Society of Urologic Oncology. “Early Detection of Prostate Cancer Guideline.”
European Association of Urology. “Guidelines on the Management of Non-neurogenic Male Lower Urinary Tract Symptoms.”
American Urological Association. “Management of Lower Urinary Tract Symptoms Attributed to Benign Prostatic Hyperplasia: Guideline Amendment 2023.”
McVary, Kevin T., et al. “Final 5-Year Outcomes of the Multicenter Randomized Sham-Controlled Trial of a Water Vapor Thermal Therapy for Treatment of Moderate to Severe Lower Urinary Tract Symptoms Secondary to Benign Prostatic Hyperplasia.” The Journal of Urology, 2021.
Versi Terbaru
17/09/2026
Ditulis oleh Wicak Hidayat
Ditinjau secara medis oleh Hello Sehat Medical Review Team
Diperbarui oleh: Wicak Hidayat