Apakah Transplantasi Kepala Mungkin Dilakukan Secara Medis?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 2 Februari 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan prosedur transplantasi organ. Ya, tranplantasi organ adalah operasi untuk memindahkan organ yang sehat ke orang lain yang organnya bermasalah atau rusak. Prosedur ini juga dikenal dengan istilah cangkok. Biasanya, organ yang paling sering dicangkok adalah ginjal, pankreas, liver, jantung, paru-paru dan usus halus. Namun, bagaimana dengan transplantasi kepala? Bisakah prosedur tersebut dilakukan untuk menyelamatkan hidup orang yang mengalami cedera kepala berat? Cari tahu jawabannya dalam artikel ini.

Transplantasi kepala pernah dilakukan pada hewan

Pada tahun 1970, seorang pelopor transplantasi kepala Robert White melakukan transplantasi kepala monyet lumpuh ke tubuh monyet lain yang sehat. Setelah prosedur operasi dilakukan, monyet tersebut mampu mengerakkan bola matanya, mendengar, mengecap, dan membaui. Sayangnya, monyet tersebut hanya bisa bertahan hidup selama sembilan hari karena sistem imun dari tubuh donornya menolak ada di kepala “baru”.

Seorang ahli saraf mengklaim dirinya berhasil melakukan transplantasi kepala manusia

Dr. Sergio Canavero, seorang ahli bedah saraf asal Italia mengklaim bahwa ia dan timnya sukses melakukan transplantasi kepala manusia pertama di dunia. Menggunakan dua mayat manusia, operasi transplantasi itu dilakukan selama 18 jam di Harbin Medical University di China.

Prosedur ini dilakukan dengan cara menukar kepala dari satu mayat untuk kemudian dipasangkan ke mayat lain. Tim dokter mengklaim berhasil menghubungkan kembali saraf tulang belakang serta pembuluh darah di tulang belakang dan leher.

Sayangnya, banyak ahli meragukan kesuksesan operasi tersebut

Banyak ahli telah menyatakan sikap penolakan tentang klaim doker asal Italia yang katanya sukses melakukan transplantasi kepala tersebut. Para ahli di bidang medis mengatakan bahwa transplantasi kepala adalah hal yang tak masuk akal, baik itu dari segi ilmu pengetahuan maupun etika.

Salah satunya adalah Arthur Caplan, seorang profesor bioetika di New York University. Dilansir dari Live Science, Arthur mengatakan tidak percaya bahwa transplantasi kepala mungkin terjadi. Pasalnya, jika sistem imun dalam tubuh mengenali bagian tubuh yang bukan berasal dari tubuh Anda, maka sistem imun akan menyerangnya. Hal ini tentu berisiko mematikan organ yang dicangkok. Meskipun ada pengobatan yang bisa menekan kerja sistem imun, tubuh “baru” dari pendonor sangat mungkin akan tetap menolak organ-organ asing.

Pertimbangan lain mengapa tranplantasi kepala tingkat keberhasilannya rendah

Selain yang sudah disebutkan di atas, perbedaan biokimia antara kepala dan tubuh donor juga bisa jadi salah satu masalah besar yang harus dihadapi selanjutnya. Hal ini tentu tidak semudah mengganti bohlam lampu dengan yang baru.

Jika Anda memindahkan kepala dan otak ke tubuh baru, Anda akan memasukkannya ke lingkungan kimia baru dengan sistem saraf yang baru juga. Nah, berbagai permasalahan ini justru akan meningkatkan risiko kematian kepada orang yang menerima donor karena kemungkinan terjadinya penolakan dalam tubuh serta infeksi.  

Tidak hanya itu, transplantasi kepala juga mengharuskan ahli bedah untuk menyambungkan sangat banyak saraf dan pembuluh darah, serta tulang belakang dan sumsum tulang belakang dari kepala yang hidup ke tubuh donor. Nah, jika Canavero benar-benar telah menemukan terobosan dalam menyambung kembali saraf tulang belakang, mengapa tidak melakukannya lebih dulu pada orang yang memiliki cedera saraf tulang belakang sebelum melakukan transplantasi kepala?

Para peneliti sudah menghabiskan beberapa dekade untuk meneliti segala aspek mengenai cedera tulang belakang. Sayangnya, sampai saat ini masih sangat sedikit sekali pilihan untuk mengobati pasien dengan jenis cedera tersebut. Karena peneliti belum menemukan cara untuk menyambungkan kembali tulang belakang manusia yang cedera, maka akan sangat sulit sekali melakukan penyambungan dua tulang belakang dari dua orang yang berbeda pula.

Terlepas dari kontroversi yang ada, masih dibutuhkan studi yang lebih mendalam dengan cakupan yang lebih luas pula jika memang transplantasi kepala mungkin untuk dilakukan. Pasalnya, prosedur rintisan tersebut bisa memberikan harapan baru bagi banyak orang mengalami kelumpuhan atau kecacatan di kemudian hari.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit