home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Pengaruh genetika, tekanan darah tinggi, dan merokok merupakan beberapa faktor risiko demensia. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) secara terus-menerus juga bisa meningkatkan risiko demensia.

Bagaimana pikiran negatif bisa meningkatkan risiko demensia?

Negative Thinking Bisa Menyebabkan Demensia

Demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat, berpikir, bertingkah laku, dan berbicara. Kondisi demensia kerap ditandai dengan sifat mudah lupa (pikun) karena kemampuan otak terganggu untuk mengingat.

Belum ada obat untuk menyembuhkan demensia. Namun, laporan medis menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari kasus demensia dapat dicegah. Oleh karena itu, saat ini peneliti mulai fokus pada identifikasi faktor risiko demensia dan pencegahannya.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa berpikiran negatif yang berulang-ulang dikaitkan dengan penurunan kognitif dan meningkatkan simpanan kandungan protein penyebab penyakit Alzheimer yang merupakan penyebab demensia paling umum.

“Berpikir negatif berulang dapat menjadi faktor risiko baru untuk demensia,” ujar Natalie Marchant, psikolog sekaligus peneliti senior di departemen kesehatan mental di University College London. Ini termasuk kecenderungan berpikir negatif (khawatir) tentang masa depan atau perenungan negatif tentang masa lalu.

Dalam studi ini, para peneliti melakukan pemantauan perilaku dan pemindaian otak pada 350 orang di atas usia 55 tahun. Penelitian dilakukan dengan lama periode dua tahun penuh.

hidup sendiri

Sekitar sepertiga dari peserta menjalani scan otak dengan metode PET (positron emission tomography). Hal ini dilakukan untuk mengukur endapan tau dan beta-amyloid yakni dua protein berbahaya yang menyebabkan penyakit Alzheimer.

Hasil scan menunjukkan mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir negatif memiliki lebih banyak penumpukan protein tau dan beta-amyloid. Mereka juga memiliki memori yang lebih buruk dan mengalami penurunan kemampuan kognitif yang cukup besar.

Studi ini juga menguji tingkat kecemasan dan depresi pada kelompok orang yang sudah memiliki gangguan cemas dan depresi sebelumnya. Hasilnya, mereka mengalami penurunan kemampuan kognitif yang juga besar. Hanya saja, tidak ada peningkatan penumpukan protein tau dan beta-amyloid pada kelompok yang ini.

Dengan begitu, peneliti mencurigai bahwa berpikir negatif berulang kali mungkin menjadi alasan utama mengapa depresi dan kecemasan yang mana berkontribusi pada faktor risiko demensia.

Hubungan pikiran seseorang dengan penyakit di otak

berpikir negatif demensia bahagia positif

Natalie Marchant menjelaskan bahwa secara alami berpikir negatif berkaitan dengan peningkatan stres. Berpikir negatif secara terus-menerus dalam waktu yang lama dipandang sebagai penanda perilaku stres kronis.

Kondisi tersebut bisa berpengaruh pada kesehatan fisik, seperti meningkatkan tekanan darah tinggi dan meningkatkan kadar kortisol atau hormon stres. Selain itu, semakin banyak juga penelitian yang memberikan bukti bahwa stres kronis berbahaya bagi tubuh (termasuk otak).

Para peneliti menekankan bahwa berpikir negatif dalam waktu singkat tidak termasuk dalam lingkup penelitiannya. Mereka masih harus melakukan penelitian lanjutan untuk memahami faktor risiko demensia.

“Temuan dari penelitian ini memberikan dukungan lebih lanjut mengenai pentingnya kesehatan jiwa untuk dipertimbangkan dalam screening demensia,” kata Marchant.

menghilangkan kecemasan energi positif

Untuk menghindari faktor risiko demensia ini, peneliti menyarankan untuk melatih diri untuk berpikir positif bisa membantu mengurangi kecenderungan berpikir negatif.

Meskipun belum ada bukti bahwa menghindari berpikir negatif bisa memperlambat terjadinya demensia, tidak ada salahnya mengambil langkah baik sebagai pencegahan risiko di masa depan.

Orang-orang yang memandang kehidupan dari perspektif positif memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menghindari segala jenis risiko kesehatan jantung daripada orang yang pesimis.

Menurut studi tahun 2019, semakin positif seseorang, semakin kecil risiko dari penyakit seperti serangan jantung dan stroke penyebab kematian. Penelitian lain juga menunjukkan bersikap optimis, berpikir dan berpola hidup positif juga membuat sistem imun lebih kuat serta fungsi paru-paru membaik.

Berlatih untuk berpikir positif dan bersikap optimistis

mencegah neuropati berpikir positif negatif demensia

Belum diketahui apakah menghindari berpikir negatif bisa secara langsung menunda terjadinya demensia. Namun, sudah ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa berpikir positif bisa berdampak baik pada kesehatan jiwa dan raga.

Salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan sikap optimistis dan pikiran positif adalah dengan melakukan “best possible self”. Ini merupakan metode penanganan psikologi di mana seseorang diminta untuk menuliskan tentang dirinya di masa depan sebaik mungkin.

Teknik lain adalah mempraktikkan rasa terima kasih. Sempatkan beberapa menit setiap hari untuk menuliskan apa yang membuat Anda bersyukur. Selain itu, menuliskan pengalaman positif yang dilalui setiap hari juga dapat meningkatkan optimisme.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Marchant, N., Lovland, L., Jones, R., Pichet Binette, A., Gonneaud, J., & Arenaza‐Urquijo, E. et al. (2020). Repetitive negative thinking is associated with amyloid, tau, and cognitive decline. Alzheimer’s & Dementia. doi: 10.1002/alz.12116
  • Rozanski, A., Bavishi, C., Kubzansky, L., & Cohen, R. (2019). Association of Optimism With Cardiovascular Events and All-Cause Mortality. JAMA Network Open, 2(9), e1912200. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2019.12200
  • Mohammad-Najar, N., Khoshnevis, E., & Banisi, P. (2017). Effectiveness of Positive Thinking Skills Training on the Hope and Quality of Life of Drug-Dependent People. Addiction & health, 9(3), 120–128.
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 20/06/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x